Di New York, puluhan ribu orang memadati Manhattan hingga membentang lebih dari 10 blok. Aktor Robert De Niro yang turut menjadi penyelenggara menilai Trump sebagai ancaman serius bagi negara. “Ancaman eksistensial seperti itu terhadap kebebasan dan keamanan kita,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Di Washington, massa berkumpul di National Mall sambil membawa spanduk pro-demokrasi dan anti-Trump. Bahkan, sekelompok lansia di Maryland turut berpartisipasi dengan membawa pesan seperti “Lawan tirani” dan “Singkirkan Trump.”
Di Dallas, aksi sempat diwarnai ketegangan antara demonstran dan kelompok kontra, termasuk yang dipimpin Enrique Tarrio. Beberapa insiden bentrokan kecil terjadi hingga polisi melakukan penangkapan.
Namun, tidak semua aksi berjalan damai. Di Los Angeles, dua orang ditangkap setelah menyerang petugas federal, sementara beberapa lainnya diamankan karena tidak membubarkan diri. Aparat juga menggunakan gas air mata setelah massa melempar benda ke arah gedung federal.
Aksi “No Kings” kali ini berlangsung di tengah meningkatnya tensi politik menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Para penyelenggara mengklaim terjadi lonjakan partisipasi, termasuk di negara bagian yang selama ini dikenal pro-Republik seperti Idaho, Wyoming, Montana, dan Utah. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Di New York, puluhan ribu orang memadati Manhattan hingga membentang lebih dari 10 blok. Aktor Robert De Niro yang turut menjadi penyelenggara menilai Trump sebagai ancaman serius bagi negara. “Ancaman eksistensial seperti itu terhadap kebebasan dan keamanan kita,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Di Washington, massa berkumpul di National Mall sambil membawa spanduk pro-demokrasi dan anti-Trump. Bahkan, sekelompok lansia di Maryland turut berpartisipasi dengan membawa pesan seperti “Lawan tirani” dan “Singkirkan Trump.”
Di Dallas, aksi sempat diwarnai ketegangan antara demonstran dan kelompok kontra, termasuk yang dipimpin Enrique Tarrio. Beberapa insiden bentrokan kecil terjadi hingga polisi melakukan penangkapan.
Namun, tidak semua aksi berjalan damai. Di Los Angeles, dua orang ditangkap setelah menyerang petugas federal, sementara beberapa lainnya diamankan karena tidak membubarkan diri. Aparat juga menggunakan gas air mata setelah massa melempar benda ke arah gedung federal.
Aksi “No Kings” kali ini berlangsung di tengah meningkatnya tensi politik menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Para penyelenggara mengklaim terjadi lonjakan partisipasi, termasuk di negara bagian yang selama ini dikenal pro-Republik seperti Idaho, Wyoming, Montana, dan Utah. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q