Sementara itu, data dari IslamicFinder menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-11 dari kota-kota yang dibandingkan berdasarkan durasi puasa terlama pada awal Ramadhan 2026. Posisi ini menempatkan Indonesia di tengah spektrum global, tidak termasuk yang terlama maupun tercepat, tetapi tetap lebih panjang dibanding sejumlah negara Eropa Barat.
Negara dengan durasi puasa terlama pada awal Ramadhan 2026 tercatat di Selandia Baru dengan 15 jam 22 menit, disusul Chili 15 jam 13 menit, Australia 14 jam 48 menit, dan Uruguay 14 jam 42 menit. Sementara itu, negara dengan durasi tercepat antara lain Prancis 11 jam 33 menit, Greenland 11 jam 42 menit, Islandia 11 jam 42 menit, Finlandia 11 jam 44 menit, serta Rusia 11 jam 44 menit.
Namun, menjelang akhir Ramadhan, perhitungan menunjukkan perubahan signifikan. Reykjavik, Islandia, dan Nuuk, Greenland, diproyeksikan mencatat durasi terpanjang pada 19 Maret, yakni 15 jam 3 menit. Sebaliknya, Christchurch di Selandia Baru yang semula mencatat 15 jam 22 menit pada awal bulan akan turun hampir dua jam menjadi 13 jam 46 menit.
Fenomena ini menegaskan bahwa durasi puasa bukanlah angka statis, melainkan cerminan pergerakan astronomi dan rotasi bumi terhadap matahari. Setiap tahun, umat Muslim di berbagai lintang menghadapi tantangan fisik yang berbeda, namun tetap berada dalam kerangka waktu yang secara global berkisar 12 hingga 15 jam.
Dengan demikian, Ramadhan 2026 kembali memperlihatkan wajah global Islam yang beragam namun terhubung oleh ibadah yang sama. Dari Jakarta hingga Reykjavik, dari Santiago hingga London, perbedaan durasi puasa menjadi bagian dari dinamika kosmologis yang terus bergerak mengikuti waktu—dan akan terus berubah hingga siklusnya kembali berulang dalam dekade-dekade mendatang.(*/Jawapos)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q