Wednesday, January 14, 2026
26.9 C
Jayapura

Pakar Ingatkan AI Tidak Membuat Manusia Lebih Cerdas

JAKARTA – Di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di berbagai sektor ekonomi global, muncul peringatan bahwa teknologi ini tidak otomatis memperkuat kecerdasan manusia. Sebaliknya, AI dinilai berpotensi mendorong kemunduran pola berpikir kritis dan bernalar jika digunakan tanpa kesadaran terhadap batas-batas kognitifnya.

Peringatan tersebut disampaikan John Nosta, pakar inovasi AI dan pendiri NostaLab, lembaga pemikir yang menyoroti dampak strategis teknologi terhadap manusia dan organisasi. Menurut Nosta, cara kerja model bahasa besar (Large Language Model/LLM) yang kini banyak digunakan justru berlawanan dengan proses berpikir manusia.

Dilansir dari Business Insider, Senin (12/1/2026), Nosta menegaskan bahwa AI tidak berpikir sebagaimana manusia berpikir.

Baca Juga :  Rossa, Yosi, dan Nowela Kembalikan Uang dari DNA Pro

“Kesimpulan saya adalah kecerdasan buatan bertentangan dengan kognisi manusia,” kata Nosta.Dia bahkan menyebut AI sebagai “anti-intelligence”, karena cara kerjanya berlawanan dengan bagaimana manusia bernalar, belajar, dan membangun pemahaman.

Nosta menjelaskan bahwa manusia memahami dunia melalui konteks ruang, waktu, memori, budaya, dan pengalaman hidup. Sementara AI tidak memiliki kerangka tersebut. “Bagi AI, sebuah apel tidak hadir sebagai apel,” ujarnya.

“Dalam pengetahuan AI, apel hadir sebagai sebuah vektor di ruang hiperdimensional.” Artinya, AI hanya memproses representasi matematis dan pola statistik, bukan makna.

Perbedaan mendasar ini, menurut Nosta, berdampak langsung pada kualitas keluaran AI. Sistem tersebut tidak menalar menuju sebuah jawaban, melainkan menghasilkan respons yang paling selaras secara statistik. Karena itu, keluaran AI dioptimalkan untuk kefasihan dan koherensi bahasa, bukan untuk pemahaman substantif.

Baca Juga :  Ricky Nelson Selangkah Lagi Tukangi Persipura 

JAKARTA – Di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di berbagai sektor ekonomi global, muncul peringatan bahwa teknologi ini tidak otomatis memperkuat kecerdasan manusia. Sebaliknya, AI dinilai berpotensi mendorong kemunduran pola berpikir kritis dan bernalar jika digunakan tanpa kesadaran terhadap batas-batas kognitifnya.

Peringatan tersebut disampaikan John Nosta, pakar inovasi AI dan pendiri NostaLab, lembaga pemikir yang menyoroti dampak strategis teknologi terhadap manusia dan organisasi. Menurut Nosta, cara kerja model bahasa besar (Large Language Model/LLM) yang kini banyak digunakan justru berlawanan dengan proses berpikir manusia.

Dilansir dari Business Insider, Senin (12/1/2026), Nosta menegaskan bahwa AI tidak berpikir sebagaimana manusia berpikir.

Baca Juga :  Sarjana Lebih Memilih Sektor Formal Ketimbang Informal

“Kesimpulan saya adalah kecerdasan buatan bertentangan dengan kognisi manusia,” kata Nosta.Dia bahkan menyebut AI sebagai “anti-intelligence”, karena cara kerjanya berlawanan dengan bagaimana manusia bernalar, belajar, dan membangun pemahaman.

Nosta menjelaskan bahwa manusia memahami dunia melalui konteks ruang, waktu, memori, budaya, dan pengalaman hidup. Sementara AI tidak memiliki kerangka tersebut. “Bagi AI, sebuah apel tidak hadir sebagai apel,” ujarnya.

“Dalam pengetahuan AI, apel hadir sebagai sebuah vektor di ruang hiperdimensional.” Artinya, AI hanya memproses representasi matematis dan pola statistik, bukan makna.

Perbedaan mendasar ini, menurut Nosta, berdampak langsung pada kualitas keluaran AI. Sistem tersebut tidak menalar menuju sebuah jawaban, melainkan menghasilkan respons yang paling selaras secara statistik. Karena itu, keluaran AI dioptimalkan untuk kefasihan dan koherensi bahasa, bukan untuk pemahaman substantif.

Baca Juga :  Bupati Minta Seluruh OPD Lakukan Perencanaan, Tahun Depan Fokus Pekerjaan

Berita Terbaru

Artikel Lainnya