Lantas, apa itu superflu?“Superflu” merujuk pada varian baru subclade K dari virus influenza musiman A (H3N2) yang telah ada selama puluhan tahun. Varian yang pertama kali diidentifikasi pada Juni ini, menarik perhatian para ilmuwan karena penyebarannya yang sangat pesat di belahan bumi selatan dan utara.
Berdasarkan hasil genome sequencing, tercatat sekitar 200 kasus yang memicu lonjakan infeksi selama musim dingin (Oktober hingga awal tahun).
Menurut dr. Nastiti, varian H3N2 ini memiliki tingkat evolusi yang tinggi, sangat mudah bermutasi, dan cepat menular. Karakteristik tersebut berpotensi memicu epidemi massal yang dapat melumpuhkan sistem kesehatan akibat lonjakan jumlah pasien rawat inap serta tingginya kebutuhan obat-obatan dan alat kesehatan, terutama di negara dengan musim dingin yang ekstrem.
Namun, menurut Profesor Nicola Lewis dari Pusat Influenza Dunia menekankan bahwa meskipun klade genetik H3 ini tergolong unik, evolusi virus flu adalah fenomena yang konsisten terjadi. Saat ini, melalui Sistem Pengawasan dan Respons Influenza Global (GISRS) WHO, para ilmuwan juga terus memantau pergerakan virus tersebut.
Awal penyebaran superflu.
Melansir laman Gavi.org, di Eropa, subklade K ini pertama kali ditemukan di Norwegia dan Inggris, di mana influenza datang 4–5 minggu lebih awal dari jadwal biasanya, sebuah fenomena yang jarang terjadi sejak pandemi COVID-19. Tren serupa juga teramati di Jepang, meski saat ini tingkat infeksi H3N2 di sana mulai stabil dan diprediksi akan menurun.
Meskipun kedatangan virus yang lebih awal sering kali dikaitkan dengan peningkatan daya tular, hal tersebut tidak selalu mencerminkan tingkat keparahan musim flu secara keseluruhan. Seperti di Inggris, meski fasilitas kesehatan sempat tertekan, data terbaru menunjukkan adanya penurunan angka positif.
Namun, Dr. Alex Allen dari UKHSA memperingatkan bahwa sifat virus flu sangat sulit diprediksi dan berisiko mengalami lonjakan gelombang kedua setelah periode liburan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap disiplin menjaga protokol kesehatan guna mencegah penyebaran kembali di awal tahun.