Pemda Beri Dukungan Non Finansial

   Ia menyadari bahwa pernyataan awal tersebut lahir dari keterbatasan informasi dan kekurangcermatan dalam melihat secara menyeluruh bantuan non-finansial serta fasilitasi administratif yang telah disalurkan oleh jajaran pemerintah daerah.

“Pihak kami menyadari adanya kekhilafan dan kedangkalan dalam berpikir saat menyampaikan pernyataan sebelumnya. Sekali lagi, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, terkhusus kepada Kepala Dinas Pendidikan, Bapak Wali Kota beserta jajaran, dan Bapak Gubernur beserta jajaran,” tambahnya.

   Sementara itu, sehubungan dengan pemberitaan sebelumnya mengenai keikutsertaan Marching Band SMAN 1 Jayapura dalam ajang Makassar International Marching Fest (MIMFEST) 2026, redaksi memberikan koreksi terkait pernyataan yang sempat disematkan kepada Ketua Marching Band SMAN 1 Jayapura, Irene (17).

  Kalimat yang menyebutkan ‘Pemerintah daerah tidak seharusnya hanya menumpang nama saat prestasi berhasil diraih’ bukan merupakan ucapan langsung dari Irene. Pernyataan bernada kritik tersebut murni merupakan bentuk improvisasi dan analisis wartawan dari rangkuman hasil  wawancara di lapangan.

Baca Juga :  Ondoafi Kampung Enggros Berharap Bantuan Mobil

   Analisis tersebut muncul setelah mencermati keluh kesah dan realitas lapangan yang dihadapi para peserta selama mengikuti kompetisi di Makassar, Sulawesi Selatan, di mana tim bertanding membawa nama Kota Jayapura dan Provinsi Papua tanpa ditopang bantuan dana operasional dari pemerintah daerah.

Meskipun kutipan kritis tersebut merupakan improvisasi penulis/wartawan, namun realitas perjuangan fisik dan mental yang dialami oleh para siswa di lapangan adalah fakta yang sebenarnya.

  Kepada wartawan, Irene menceritakan beratnya perjuangan yang harus dilewati. Minimnya anggaran memaksa mereka menempuh jalur laut yang memakan waktu berhari-hari hingga menyebabkan hampir separuh anggota rombongan jatuh sakit karena kelelahan. Tidak hanya itu, para siswa juga harus mengangkut sendiri peralatan marching band yang berukuran besar dan berat, mulai dari Pelabuhan Jayapura, saat transit, hingga tiba di panggung perlombaan.

Baca Juga :  Kemiskinan dan Pendidikan Rendah Picu Tingginya Kasus Kekerasan Perempuan-Anak

  Adapun penyampaian murni dan ucapan langsung dari Irene (17) saat menceritakan perjuangan timnya adalah sebagai berikut. “Tantangannya sangat berat. Sebelum tampil, kondisi teman-teman banyak yang drop, mengalami sakit parah, bahkan ada yang sampai kejang-kejang akibat kelelahan fisik yang luar biasa. Tapi bersyukur, walau hampir setengah tim bertanding dalam kondisi menahan sakit, kami bisa membawa pulang Juara dua (2) Umum,” ungkap Irene dengan nada haru. (jim/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

   Ia menyadari bahwa pernyataan awal tersebut lahir dari keterbatasan informasi dan kekurangcermatan dalam melihat secara menyeluruh bantuan non-finansial serta fasilitasi administratif yang telah disalurkan oleh jajaran pemerintah daerah.

“Pihak kami menyadari adanya kekhilafan dan kedangkalan dalam berpikir saat menyampaikan pernyataan sebelumnya. Sekali lagi, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, terkhusus kepada Kepala Dinas Pendidikan, Bapak Wali Kota beserta jajaran, dan Bapak Gubernur beserta jajaran,” tambahnya.

   Sementara itu, sehubungan dengan pemberitaan sebelumnya mengenai keikutsertaan Marching Band SMAN 1 Jayapura dalam ajang Makassar International Marching Fest (MIMFEST) 2026, redaksi memberikan koreksi terkait pernyataan yang sempat disematkan kepada Ketua Marching Band SMAN 1 Jayapura, Irene (17).

  Kalimat yang menyebutkan ‘Pemerintah daerah tidak seharusnya hanya menumpang nama saat prestasi berhasil diraih’ bukan merupakan ucapan langsung dari Irene. Pernyataan bernada kritik tersebut murni merupakan bentuk improvisasi dan analisis wartawan dari rangkuman hasil  wawancara di lapangan.

Baca Juga :  Kemiskinan dan Pendidikan Rendah Picu Tingginya Kasus Kekerasan Perempuan-Anak

   Analisis tersebut muncul setelah mencermati keluh kesah dan realitas lapangan yang dihadapi para peserta selama mengikuti kompetisi di Makassar, Sulawesi Selatan, di mana tim bertanding membawa nama Kota Jayapura dan Provinsi Papua tanpa ditopang bantuan dana operasional dari pemerintah daerah.

Meskipun kutipan kritis tersebut merupakan improvisasi penulis/wartawan, namun realitas perjuangan fisik dan mental yang dialami oleh para siswa di lapangan adalah fakta yang sebenarnya.

  Kepada wartawan, Irene menceritakan beratnya perjuangan yang harus dilewati. Minimnya anggaran memaksa mereka menempuh jalur laut yang memakan waktu berhari-hari hingga menyebabkan hampir separuh anggota rombongan jatuh sakit karena kelelahan. Tidak hanya itu, para siswa juga harus mengangkut sendiri peralatan marching band yang berukuran besar dan berat, mulai dari Pelabuhan Jayapura, saat transit, hingga tiba di panggung perlombaan.

Baca Juga :  Pembangunan 2 Unit Rumah Bantuan Harus Dikawal Sampai Tuntas

  Adapun penyampaian murni dan ucapan langsung dari Irene (17) saat menceritakan perjuangan timnya adalah sebagai berikut. “Tantangannya sangat berat. Sebelum tampil, kondisi teman-teman banyak yang drop, mengalami sakit parah, bahkan ada yang sampai kejang-kejang akibat kelelahan fisik yang luar biasa. Tapi bersyukur, walau hampir setengah tim bertanding dalam kondisi menahan sakit, kami bisa membawa pulang Juara dua (2) Umum,” ungkap Irene dengan nada haru. (jim/tri)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

 UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya