alexametrics
32.7 C
Jayapura
Friday, May 13, 2022

Film Sang Saudagar Beri Inspirasi Perjuangan di Rantau

JAYAPURA-Film Sang Saudagar dengan hastag Tabepuang karya anak muda Asrul Sani asal Makassar akhirnya ditayangkan di Jayapura. Film yang  diangkat dari kisah nyata ini juga melibatkan satu pemain asal Sentani, Wagus Hidayat. Pria yang kemarin menjabat sebagai anggota DPR Kabupaten Jayapura itu justru didapuk berperan sebagai saudagarnya.

    Sebelumnya, film ini diputar serentak diseluruh bioskop XXI sejak 21 April 2022. Di Jayapura sendiri diputar pada Sabtu (23/4) di XXI Jayapura dengan menghadirkan sejumlah pemain yaitu Reza Pahlevi (pemeran Sofyan), Indah Nonoy (Noya), Uya Mahmud (Uya) dan Wagus Hidayat sendiri.

  Wagus dipilih karena dianggap sukses membangun bisnis penerbangan di Papua. Produser Film dari Lpalalo Production & SKV Movie Entertaint, Ammar Mahapany mengapresiasi  antusias warga khususnya asal Sulawesi Selatan. “Ini hari ketiga penayangan di bioskop dan antusias masyarakat bagus sekali. Ya, mungkin film ini bisa sedikit mengobati rasa kangen terhadap kampung halaman karena dalam film ini banyak sekali budaya-budaya Sulsel yang kami tonjolkan,” ujarnya, Sabtu (23/4).

Baca Juga :  Batasi Pergerakan Warga, Ramai-ramai Bikin Portal

    Selain untuk memperkenalkan budaya Sulawesi Selatan, ungkap Ammar, film ini juga memberikan pesan moral bahwa jika kita menghadapi suatu masalah, maka keluarga adalah orang terdekat yang bisa menolong dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Reza Pahlevi yang memerankan tokoh antagonis bernama Sofyan, mengaku ini merupakan debutnya di film layar lebar. Dalam film ini, ia harus bersikap dewasa dari usia sebenarnya.

    “Jadi saat proses syuting itu, saya berumur 22 tahun sedangkan dalam film ini saya (Sofyan) itu usia 35 tahun. Saya harus all out tampil dewasa, seorang politikus, jadi harus banyak makan biar bisa punya badan gemuk sebagaimana tokoh yang saya perankan,” akunya.

  Satu penonton, Indira Kasim  juga ikut bangga.  “Kami sangat senang, alur ceritanya bagus dengan dialek khas orang Makassar dan aksi kocak tiga karyawan puang Hatta. sangat menghibur,”akunya.

Sementara Wagus Hidayat berharap ke depan sineas lokal baik dari Makassar maupun Papua bisa terus berkembang, berkontribusi memberikan yang terbaik untuk perfilman di tanah air. Ini juga menjadi contoh perjuangan orang dirantau untuk bisa eksis dan tidak mudah menyerah. Wagus mengaku untuk suskes bukanlah hal mudah. Banyak suka duka, dinamika yang terjadi  tapi yang pasti adalah tak ada yang mustahil. “Semua bisa terjadi sehingga jangan menyerah,” tutupnya.

Baca Juga :  Yang Mau Pulang Jangan Dipersulit

   Film Sang Saudagar-TabePuang menceritakan tentang seorang saudagar kain asal Sulawesi Selatan bernama Puang Hatta yang diperankan oleh Ikram Noer. Perusahaan Puang Hatta ini diterpa isu memiliki kekayaan secara ilegal yang sengaja disembunyikan. Oleh karenanya ia menyewa detektif untuk mengungkap fakta sebenarnya.Kekacauan terjadi karena campur tangan tiga karyawan Puang Hatta yaitu Luna, Noya dan Uya yang ikut bersaing dengan detektif untuk mengungkap fakta sebenarnya.   Pembuatan film ini mengambil lokasi di Makkasar, Kabupaten Jayapura, Papua dan Raja Ampat, Papua Barat. (ade/tri)

JAYAPURA-Film Sang Saudagar dengan hastag Tabepuang karya anak muda Asrul Sani asal Makassar akhirnya ditayangkan di Jayapura. Film yang  diangkat dari kisah nyata ini juga melibatkan satu pemain asal Sentani, Wagus Hidayat. Pria yang kemarin menjabat sebagai anggota DPR Kabupaten Jayapura itu justru didapuk berperan sebagai saudagarnya.

    Sebelumnya, film ini diputar serentak diseluruh bioskop XXI sejak 21 April 2022. Di Jayapura sendiri diputar pada Sabtu (23/4) di XXI Jayapura dengan menghadirkan sejumlah pemain yaitu Reza Pahlevi (pemeran Sofyan), Indah Nonoy (Noya), Uya Mahmud (Uya) dan Wagus Hidayat sendiri.

  Wagus dipilih karena dianggap sukses membangun bisnis penerbangan di Papua. Produser Film dari Lpalalo Production & SKV Movie Entertaint, Ammar Mahapany mengapresiasi  antusias warga khususnya asal Sulawesi Selatan. “Ini hari ketiga penayangan di bioskop dan antusias masyarakat bagus sekali. Ya, mungkin film ini bisa sedikit mengobati rasa kangen terhadap kampung halaman karena dalam film ini banyak sekali budaya-budaya Sulsel yang kami tonjolkan,” ujarnya, Sabtu (23/4).

Baca Juga :  Yang Mau Pulang Jangan Dipersulit

    Selain untuk memperkenalkan budaya Sulawesi Selatan, ungkap Ammar, film ini juga memberikan pesan moral bahwa jika kita menghadapi suatu masalah, maka keluarga adalah orang terdekat yang bisa menolong dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Reza Pahlevi yang memerankan tokoh antagonis bernama Sofyan, mengaku ini merupakan debutnya di film layar lebar. Dalam film ini, ia harus bersikap dewasa dari usia sebenarnya.

    “Jadi saat proses syuting itu, saya berumur 22 tahun sedangkan dalam film ini saya (Sofyan) itu usia 35 tahun. Saya harus all out tampil dewasa, seorang politikus, jadi harus banyak makan biar bisa punya badan gemuk sebagaimana tokoh yang saya perankan,” akunya.

  Satu penonton, Indira Kasim  juga ikut bangga.  “Kami sangat senang, alur ceritanya bagus dengan dialek khas orang Makassar dan aksi kocak tiga karyawan puang Hatta. sangat menghibur,”akunya.

Sementara Wagus Hidayat berharap ke depan sineas lokal baik dari Makassar maupun Papua bisa terus berkembang, berkontribusi memberikan yang terbaik untuk perfilman di tanah air. Ini juga menjadi contoh perjuangan orang dirantau untuk bisa eksis dan tidak mudah menyerah. Wagus mengaku untuk suskes bukanlah hal mudah. Banyak suka duka, dinamika yang terjadi  tapi yang pasti adalah tak ada yang mustahil. “Semua bisa terjadi sehingga jangan menyerah,” tutupnya.

Baca Juga :  Sekelompok Anak Remaja Nekat Rusak Lampu JPU

   Film Sang Saudagar-TabePuang menceritakan tentang seorang saudagar kain asal Sulawesi Selatan bernama Puang Hatta yang diperankan oleh Ikram Noer. Perusahaan Puang Hatta ini diterpa isu memiliki kekayaan secara ilegal yang sengaja disembunyikan. Oleh karenanya ia menyewa detektif untuk mengungkap fakta sebenarnya.Kekacauan terjadi karena campur tangan tiga karyawan Puang Hatta yaitu Luna, Noya dan Uya yang ikut bersaing dengan detektif untuk mengungkap fakta sebenarnya.   Pembuatan film ini mengambil lokasi di Makkasar, Kabupaten Jayapura, Papua dan Raja Ampat, Papua Barat. (ade/tri)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/