Pada tahun 2024, pembangunan pipa transmisi dimulai dan saat ini progresnya mencapai 50 persen. Namun, proses pengerjaan terhambat karena lima pemilik ulayat di jalur pipa transmisi tapi juga lokasi sumber air, melakukan pemalangan dengan menuntut sejumlah hak. Akibatnya, pengerjaan proyek tersebut terhenti.
“Sampai saat ini, pihak pemborong belum bisa bekerja karena tuntutan pemilik ulayat belum bisa kami penuhi,” jelas Entis.
Sementara itu, sambungan perpipaan utama telah terealisasi sekitar 50 persen. Namun, pembangunan intake belum dimulai sama sekali karena masalah hak ulayat yang diklaim pemilik lahan belum terselesaikan. “Kami berharap dengan adanya Wali Kota baru, bisa duduk bersama dengan pemilik ulayat dan pemborong agar masalah ini bisa diselesaikan,” harap Entis.
Dikatakan kondisi saat ini menyebabkan sejumlah wilayah di Kota Jayapura mengalami kekurangan pasokan air bersih, antara lain Kelurahan Ardipura, Hamadi, Kampung Tiba Tiba (Distrik Abepura), Abe Pantai, Kampung Tobati, Enggros, Kampung Buton, serta sebagian wilayah di Distrik Jayapura Utara.
Jika pembangunan intake di Siborgonji tidak mengalami kendala, seluruh wilayah di Kota Jayapura dipastikan akan mendapatkan pasokan air bersih secara maksimal.
“Target kami, ketika sumber air dari Siborgonji berjalan maksimal, kami bisa fokuskan pasokan ke daerah Jayapura Utara (Japut) dan Jayapura Selatan (Japsel). Sementara sumber lainnya bisa fokus ke daerah Abepura dan Waena,” papar Entis. (rel/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos