Wednesday, May 29, 2024
28.7 C
Jayapura

Selain Cabai, Pemkot Tanam Bawang Merah 10 Hektar di Koya Barat

Upaya Pemkot Jayapura Mencegah Inflasi dengan Meningkatkan Komoditas Pertanian

Dari sumber Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jayapura, menyebutkan bahwa tingkat inflasi tahunan di wilayah Kota Jayapura mencapai 5,26 persen atau di bawah inflasi nasional yang tercatat 5,51 persen. Banyak factor yang menyebabkan terjadinya inflasi di Kota Jayapura, selain harga tiket, juga harga komoditas pertanian. Karena itu, menjaga stabilitas harga komoditas pertanian ini  yang kini jadi perhatian intensif kota Jayapura.

Laporan: Priyadi_Jayapura

Tingkat inflasi di Kota Jayapura sebagai barometeri Provinsi Papua, memang masih cukup tinggi. Dimana tingkat inflasi tahunan di Kota Jayapura di bulan Januari 2023 tercatat 5,26 persen.

  Dibandingkan dengan bulan Desember, sebenarnya tingkat inflasi Kota Jayapura ini menurun 0,60 persen. Dimana pada bulan Desember 2022 inflasi Kota Jayapura tercatat 5,81 persen. Penurunan ini disebabkan harga beberapa komoditas mengalami penurunan, seperti tiket dan harga ikan.

   Selain itu, juga ada beberapa komoditas pertanian yang sangat berpengaruh terhadap inflasi di Kota Jayapura, yakni cabai rawit, bawang merah dan komoditas lainnya. Untuk menurunkan tingkat inflasi ini, Pemkot Jayapura selain melakukan operasi pasar, juga mulai menggalakan tanaman komoditas pertanian.

  Jika sebelumnya, sudah mendorong pembagian bibit tanaman cabai kepada masyarakat, maupuan menanami lahan kosong dengan tanaman cabai, kini Pemkot Jayapura juga mendorong peningkatan produktifitas bawang merah. Hal ini, dimaksudkan agar kebutuhan di Kota Jayapura ini tidak tergantung pasokan dari luar.   

Baca Juga :  Akan Dilakukan Pertukaran Pembina Apel

  Karena itu, secara nyata Pemerintah Kota Jayapura telah mencanangkan gerakan tanam bawang merah yang dilakukan oleh Penjabat Wali Kota Jayapura, Frans Pekey di kawasan pertanian di Koya Barat, Distrik Muara Tami, bersama jajaran OPD di lingkungan Pemkot Jayapura, Kamis (23/2) pekan kemarin.

   Frans Pekey mengatakan, beberapa tahun terakhir, harga komoditi bahan pokok seperti bawang merah, bawang putih, tomat dan cabai di sejumlah pasar tradisional sering mengalami fluktuasi harga.

  Karena itu,  Pemerintah Kota Jayapura mempunyai inisiatif melakukan perancangan penanaman bawang merah di Koya Barat untuk membantu ketersediaan kebutuhan bawang merah dan ini sejalan dengan instruksi Presiden Republik Indonesia yakni bersama menjaga akan ketahanan pangan tahun 2023.

   Kata Pekey di sisi lain, TPID Kota Jayapura ingin menjaga agar fluktuasi atau naik turun harga nantinya tidak memberatkan kebutuhan masyarakat Kota Jayapura pada umumnya, sehingga komitmen TPID Kota Jayapura yakni akan terus melakukan pemantauan terhadap harga komoditi pokok di semua sentra pasar tradisional di Kota Jayapura.

   Menurutnya, dari hasil kesepakatan Pemkot Jayapura bersama TPID, ada beberapa poin penting yang menjadi perhatian bersama salah satunya langkah yang konstruktif yakni dengan menanam tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan pasar, tidak lain adalah untuk mengintervensi harga bahan pokok yang terus melonjak setiap tahunnya.

Baca Juga :  Jelang Pemilu, Kaum Milenial Harus Turut Jaga Ruang Digital

  Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Jayapura, Jean H. Rollo mengatakan, pencanangan penanaman bawang merah dilakukan di Koya Barat di lahan seluas 10 hektar.

   Kata Rollo, bawang merah merupakan salah satu komoditas yang memberikan andil inflasi, namun minat petani untuk menanam bawang masih kurang. Karena itu, Pemkot Jayapura  mendorong petani bisa memanfaatkan lahan di Koya Barat dengan menanam bawang merah.

   Pasalnya, di sana Petani cenderung menanam jagung, kacang tanah yang lebih mudah dan praktis serta permintaan pasar yang telah tersedia. Sehingga dalam waktu tertentu bawang merah yang dipasok dari luar Papua, sangat menentukan inflasi.

   “Selain itu, bawang merah tidak seperti komoditi lainnya, seperti  tomat dan cabai yang dapat diganti berupa saos kemasan. Terlebih selera konsumen di Kota Jayapura bukan bahan olahan siap konsumsi, melainkan bahan baku segar,”ujarnya.

   Jean Rollo menambahkan, penanaman bawang merah dilakukan secara berkelanjutan yang akan dilakukan oleh petani yang telah diseleksi, serta lahan dan fasilitas penunjang telah disiapkan.

  Dia berharap, bawang merah yang ditanam pertama ini memenuhi jumlah produksi di Kota Jayapura , dengan perkiraan jika ditanam 10 ton bibit akan panen 100 ton. (*/tri)

Upaya Pemkot Jayapura Mencegah Inflasi dengan Meningkatkan Komoditas Pertanian

Dari sumber Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jayapura, menyebutkan bahwa tingkat inflasi tahunan di wilayah Kota Jayapura mencapai 5,26 persen atau di bawah inflasi nasional yang tercatat 5,51 persen. Banyak factor yang menyebabkan terjadinya inflasi di Kota Jayapura, selain harga tiket, juga harga komoditas pertanian. Karena itu, menjaga stabilitas harga komoditas pertanian ini  yang kini jadi perhatian intensif kota Jayapura.

Laporan: Priyadi_Jayapura

Tingkat inflasi di Kota Jayapura sebagai barometeri Provinsi Papua, memang masih cukup tinggi. Dimana tingkat inflasi tahunan di Kota Jayapura di bulan Januari 2023 tercatat 5,26 persen.

  Dibandingkan dengan bulan Desember, sebenarnya tingkat inflasi Kota Jayapura ini menurun 0,60 persen. Dimana pada bulan Desember 2022 inflasi Kota Jayapura tercatat 5,81 persen. Penurunan ini disebabkan harga beberapa komoditas mengalami penurunan, seperti tiket dan harga ikan.

   Selain itu, juga ada beberapa komoditas pertanian yang sangat berpengaruh terhadap inflasi di Kota Jayapura, yakni cabai rawit, bawang merah dan komoditas lainnya. Untuk menurunkan tingkat inflasi ini, Pemkot Jayapura selain melakukan operasi pasar, juga mulai menggalakan tanaman komoditas pertanian.

  Jika sebelumnya, sudah mendorong pembagian bibit tanaman cabai kepada masyarakat, maupuan menanami lahan kosong dengan tanaman cabai, kini Pemkot Jayapura juga mendorong peningkatan produktifitas bawang merah. Hal ini, dimaksudkan agar kebutuhan di Kota Jayapura ini tidak tergantung pasokan dari luar.   

Baca Juga :  Baru Satu Balon Ketua KNPI Kembalikan Berkas

  Karena itu, secara nyata Pemerintah Kota Jayapura telah mencanangkan gerakan tanam bawang merah yang dilakukan oleh Penjabat Wali Kota Jayapura, Frans Pekey di kawasan pertanian di Koya Barat, Distrik Muara Tami, bersama jajaran OPD di lingkungan Pemkot Jayapura, Kamis (23/2) pekan kemarin.

   Frans Pekey mengatakan, beberapa tahun terakhir, harga komoditi bahan pokok seperti bawang merah, bawang putih, tomat dan cabai di sejumlah pasar tradisional sering mengalami fluktuasi harga.

  Karena itu,  Pemerintah Kota Jayapura mempunyai inisiatif melakukan perancangan penanaman bawang merah di Koya Barat untuk membantu ketersediaan kebutuhan bawang merah dan ini sejalan dengan instruksi Presiden Republik Indonesia yakni bersama menjaga akan ketahanan pangan tahun 2023.

   Kata Pekey di sisi lain, TPID Kota Jayapura ingin menjaga agar fluktuasi atau naik turun harga nantinya tidak memberatkan kebutuhan masyarakat Kota Jayapura pada umumnya, sehingga komitmen TPID Kota Jayapura yakni akan terus melakukan pemantauan terhadap harga komoditi pokok di semua sentra pasar tradisional di Kota Jayapura.

   Menurutnya, dari hasil kesepakatan Pemkot Jayapura bersama TPID, ada beberapa poin penting yang menjadi perhatian bersama salah satunya langkah yang konstruktif yakni dengan menanam tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan pasar, tidak lain adalah untuk mengintervensi harga bahan pokok yang terus melonjak setiap tahunnya.

Baca Juga :  Polisi Kejar Pelaku Penganiayaan Penjaga Kios

  Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Jayapura, Jean H. Rollo mengatakan, pencanangan penanaman bawang merah dilakukan di Koya Barat di lahan seluas 10 hektar.

   Kata Rollo, bawang merah merupakan salah satu komoditas yang memberikan andil inflasi, namun minat petani untuk menanam bawang masih kurang. Karena itu, Pemkot Jayapura  mendorong petani bisa memanfaatkan lahan di Koya Barat dengan menanam bawang merah.

   Pasalnya, di sana Petani cenderung menanam jagung, kacang tanah yang lebih mudah dan praktis serta permintaan pasar yang telah tersedia. Sehingga dalam waktu tertentu bawang merah yang dipasok dari luar Papua, sangat menentukan inflasi.

   “Selain itu, bawang merah tidak seperti komoditi lainnya, seperti  tomat dan cabai yang dapat diganti berupa saos kemasan. Terlebih selera konsumen di Kota Jayapura bukan bahan olahan siap konsumsi, melainkan bahan baku segar,”ujarnya.

   Jean Rollo menambahkan, penanaman bawang merah dilakukan secara berkelanjutan yang akan dilakukan oleh petani yang telah diseleksi, serta lahan dan fasilitas penunjang telah disiapkan.

  Dia berharap, bawang merah yang ditanam pertama ini memenuhi jumlah produksi di Kota Jayapura , dengan perkiraan jika ditanam 10 ton bibit akan panen 100 ton. (*/tri)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya