BOKSMelihat Kreativitas para ODGJ di Danukusuman Solo yang Mengerjakan Produk Batik Ciprat
Meski mengalami ketidaknormalan dalam kejiwaan, ternyata tidak lantas membunuh karya kreatifitas yang dilakukan sejumlah para Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Solo. Mereka tetap kreatif menghasilkan produk yang membanggakan.
Laporan: Silvester Kurniawan_Solo
Di sebuah rumah bersahaja yang tak begitu luas di kawasan Kelurahan Danukusuman, Kecamatan Serengan, selembar kain primisima putih dibentang seadanya pada keempat sisinya. Siang itu, Selasa kemarin (19/5), seorang warga tampak tersenyum sumringah. Tangannya memegang kuas, memulas warna demi warna di atas pola lilin malam dengan penuh penjiwaan.
Sekilas, aktivitas ini tampak seperti proses membatik biasa. Namun, di sinilah letak keajaibannya. Guratan warna-warni tersebut lahir dari jemari seorang penyintas gangguan mental (bipolar). Melalui selembar kain, para orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Danukusuman sedang melukis jalan pulang mereka agar bisa kembali diterima di tengah masyarakat.
Batik Ciprat produksi Danukusuman ini memiliki karakteristik yang unik. Jika kain batik konvensional melalui proses pewarnaan dengan cara dicelup, di rumah produksi ini teknik yang digunakan justru mirip seperti melukis. Pewarna tekstil dioleskan secara manual menggunakan kuas pada bagian-bagian tertentu sesuai suasana hati si pembuatnya.
“Ada banyak manfaat dari program ini. Pertama, mereka mendapatkan penghasilan mandiri. Namun, manfaat yang jauh lebih besar adalah aspek psikisnya. Mereka menjadi lebih stabil, merasa bahagia, dan kembali beraktivitas karena merasa diakui oleh lingkungan,” ungkap Kuat Karyati, koordinator produksi sekaligus Petugas Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Danukusuman.
BOKSMelihat Kreativitas para ODGJ di Danukusuman Solo yang Mengerjakan Produk Batik Ciprat
Meski mengalami ketidaknormalan dalam kejiwaan, ternyata tidak lantas membunuh karya kreatifitas yang dilakukan sejumlah para Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Solo. Mereka tetap kreatif menghasilkan produk yang membanggakan.
Laporan: Silvester Kurniawan_Solo
Di sebuah rumah bersahaja yang tak begitu luas di kawasan Kelurahan Danukusuman, Kecamatan Serengan, selembar kain primisima putih dibentang seadanya pada keempat sisinya. Siang itu, Selasa kemarin (19/5), seorang warga tampak tersenyum sumringah. Tangannya memegang kuas, memulas warna demi warna di atas pola lilin malam dengan penuh penjiwaan.
Sekilas, aktivitas ini tampak seperti proses membatik biasa. Namun, di sinilah letak keajaibannya. Guratan warna-warni tersebut lahir dari jemari seorang penyintas gangguan mental (bipolar). Melalui selembar kain, para orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Danukusuman sedang melukis jalan pulang mereka agar bisa kembali diterima di tengah masyarakat.
Batik Ciprat produksi Danukusuman ini memiliki karakteristik yang unik. Jika kain batik konvensional melalui proses pewarnaan dengan cara dicelup, di rumah produksi ini teknik yang digunakan justru mirip seperti melukis. Pewarna tekstil dioleskan secara manual menggunakan kuas pada bagian-bagian tertentu sesuai suasana hati si pembuatnya.
“Ada banyak manfaat dari program ini. Pertama, mereka mendapatkan penghasilan mandiri. Namun, manfaat yang jauh lebih besar adalah aspek psikisnya. Mereka menjadi lebih stabil, merasa bahagia, dan kembali beraktivitas karena merasa diakui oleh lingkungan,” ungkap Kuat Karyati, koordinator produksi sekaligus Petugas Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Danukusuman.