Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Rutan Negara Jembrana Garap Limbah Jadi Cuan
Ada pemandangan berbeda di balik jeruji Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Negara, Kabupaten Jembrana. Sejumlah warga binaan pemasyarakatan (WBP) tampak sibuk dengan tumpukan koran bekas. Limbah yang menghasilkan uang.
Laporan: I Gde Riantory Warmadewa_Bali
Di tangan-tangan terampil mereka, limbah kertas itu disulap menjadi produk bernilai seni dan ekonomi.Di sebuah sudut ruang kerja, ada yang melinting lembaran koran dengan telaten. Sebagian lainnya memotong kertas sesuai ukuran, lalu masuk tahap perakitan hingga finishing untuk memberikan sentuhan akhir pada produk.
Proses ini tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga kesabaran dan ketelitian tinggi. Kepala Subsi Pelayanan Tahanan Rutan Negara, I Nyoman Tulus Sedeng, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kemandirian di bidang kerajinan. Salah satu produk unggulan yang dihasilkan adalah sarana persembahyangan seperti keben dan bokor.
Bahan bakunya adalah koran berkas atau kertas yang tak lagi digunakan. Bahan yang selama ini hanya habis di buang atau habis dibakar. Padahal jika diolah kembali ternyata bisa menjadi bahan utama untuk menciptakan kerajinan tangan yang tak biasa. Tak biasa karena selama ini banyak produk funitur yang justru berbahan plastik. Bahan yang secara lingkungan dianggap kurang bersahabat.
“Terutama dari pokja (kelompok kerja) ini yaitu membuat kerajinan untuk kegiatan persembahyangan seperti keben atau bokor. Pengerjaan untuk membuat keben ini paling cepat membutuhkan waktu tiga hari,” ungkap Tulus, Jumat (20/2). Harga produk pun bervariasi. Keben besar dibanderol Rp300 ribu, keben kecil Rp200 ribu.
Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Rutan Negara Jembrana Garap Limbah Jadi Cuan
Ada pemandangan berbeda di balik jeruji Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Negara, Kabupaten Jembrana. Sejumlah warga binaan pemasyarakatan (WBP) tampak sibuk dengan tumpukan koran bekas. Limbah yang menghasilkan uang.
Laporan: I Gde Riantory Warmadewa_Bali
Di tangan-tangan terampil mereka, limbah kertas itu disulap menjadi produk bernilai seni dan ekonomi.Di sebuah sudut ruang kerja, ada yang melinting lembaran koran dengan telaten. Sebagian lainnya memotong kertas sesuai ukuran, lalu masuk tahap perakitan hingga finishing untuk memberikan sentuhan akhir pada produk.
Proses ini tidak hanya membutuhkan keterampilan, tetapi juga kesabaran dan ketelitian tinggi. Kepala Subsi Pelayanan Tahanan Rutan Negara, I Nyoman Tulus Sedeng, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kemandirian di bidang kerajinan. Salah satu produk unggulan yang dihasilkan adalah sarana persembahyangan seperti keben dan bokor.
Bahan bakunya adalah koran berkas atau kertas yang tak lagi digunakan. Bahan yang selama ini hanya habis di buang atau habis dibakar. Padahal jika diolah kembali ternyata bisa menjadi bahan utama untuk menciptakan kerajinan tangan yang tak biasa. Tak biasa karena selama ini banyak produk funitur yang justru berbahan plastik. Bahan yang secara lingkungan dianggap kurang bersahabat.
“Terutama dari pokja (kelompok kerja) ini yaitu membuat kerajinan untuk kegiatan persembahyangan seperti keben atau bokor. Pengerjaan untuk membuat keben ini paling cepat membutuhkan waktu tiga hari,” ungkap Tulus, Jumat (20/2). Harga produk pun bervariasi. Keben besar dibanderol Rp300 ribu, keben kecil Rp200 ribu.