Friday, February 27, 2026
27.4 C
Jayapura

Cuaca Tak Bersahabat, Terpaksa Bertahan dengan Kasbon

‘’Dari bulan Januari sampai sekarang kami memang belum melaut karena cuaca di laut belum sepenuhnya bersahabat. Ombak masih cukup tinggi. Apalagi, sudah memasuki bulan puasa. Jadi kami memilih untuk menunggu sambil kita bisa berpuasa secara khusuk bersama keluarga,’’ kata Husein.

Selain berpuasa tersebut, lanjutnya, pihaknya juga memperbaiki jaring yang rusak. Termasuk memperbaiki kapal.

‘’Semacam dok begitu. Yang rusak kita perbaiki. Ada juga yang melakukan pengecatan kapal,’’ katanya.

Hal sama disampaikan Hasan, nelayan lainnya. Bersama dengan 4 teman lainnya, pria asal Jeneponto, Sulawesi Selatan itu tampak menyulam atau menjahit jarring yang robek. Jaring-jaring yang robek tersebut, kata Hasan, selain karena tersangkut di batu di dasar laut, juga ada yang terpaksa di robek untuk mempermudah mengeluarkan ikan dari jaring tersebut.

Baca Juga :  Tak Sekedar Ditertibkan, Harus Ada Solusi Penataan dan Pengawasan 

Hasan juga mengaku belum berlayar karena masalah cuaca di laut yang sewaktu-waktu berubah, sehingga kesempatan tersebut digunakan untuk memperbaiki jaring yang rusak maupun kapal yang rusak.

‘’Apalagi tepat masuk bulan Ramadan, jadi setelah bulan suci Ramadan baru berlayar,’’ katanya. Iapun memperkirakan baru akan berlayar mencari ikan sekitar akhir bulan Maret atau awal April 2026. Sekali berlayar, baik Husein maupun Hasan membutuhkan waktu antara 2-3 bulan dik laut baru kembali ke darat. Keduanya juga mengaku jika ikan yang diburu biasanya jenis ikan kakap untuk diambil gelembungnya.

‘’Dari bulan Januari sampai sekarang kami memang belum melaut karena cuaca di laut belum sepenuhnya bersahabat. Ombak masih cukup tinggi. Apalagi, sudah memasuki bulan puasa. Jadi kami memilih untuk menunggu sambil kita bisa berpuasa secara khusuk bersama keluarga,’’ kata Husein.

Selain berpuasa tersebut, lanjutnya, pihaknya juga memperbaiki jaring yang rusak. Termasuk memperbaiki kapal.

‘’Semacam dok begitu. Yang rusak kita perbaiki. Ada juga yang melakukan pengecatan kapal,’’ katanya.

Hal sama disampaikan Hasan, nelayan lainnya. Bersama dengan 4 teman lainnya, pria asal Jeneponto, Sulawesi Selatan itu tampak menyulam atau menjahit jarring yang robek. Jaring-jaring yang robek tersebut, kata Hasan, selain karena tersangkut di batu di dasar laut, juga ada yang terpaksa di robek untuk mempermudah mengeluarkan ikan dari jaring tersebut.

Baca Juga :  Tidur di Tenda dengan Berbagai Fasilitas, Dididik Dengan Kebiasaan Militer   

Hasan juga mengaku belum berlayar karena masalah cuaca di laut yang sewaktu-waktu berubah, sehingga kesempatan tersebut digunakan untuk memperbaiki jaring yang rusak maupun kapal yang rusak.

‘’Apalagi tepat masuk bulan Ramadan, jadi setelah bulan suci Ramadan baru berlayar,’’ katanya. Iapun memperkirakan baru akan berlayar mencari ikan sekitar akhir bulan Maret atau awal April 2026. Sekali berlayar, baik Husein maupun Hasan membutuhkan waktu antara 2-3 bulan dik laut baru kembali ke darat. Keduanya juga mengaku jika ikan yang diburu biasanya jenis ikan kakap untuk diambil gelembungnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya