Bagi Safina, kuliah di Rusia menghadirkan tantangan yang jauh berbeda. Dibandingkan sistem pendidikan di Indonesia. “Lebih sulit di sana (Rusia, Red),” ujarnya. Salah satu perbedaan paling mencolok adalah masa studi yang bersifat mutlak. Mahasiswa tidak diperbolehkan mempercepat ataupun memperpanjang masa kuliah. Program sarjana harus ditempuh selama empat tahun. Sedangkan magister selama dua tahun.
“Di Rusia masa studi sudah ditetapkan. Tidak bisa dipercepat menjadi tiga tahun atau diperpanjang. Sama seperti sekolah. Kalau SD enam tahun ya enam tahun,” tuturnya.Tak hanya itu, sistem akademik juga menerapkan aturan yang sangat ketat. Setiap mata kuliah yang telah ditentukan dalam kurikulum wajib dinyatakan lulus pada semester tersebut. Jika gagal pada satu mata kuliah, mahasiswa tidak dapat melanjutkan ke semester berikutnya dan berisiko dikeluarkan dari kampus alias drop out (DO).
“Kalau ada mata kuliah yang tidak lulus, kami tidak bisa mengulang sesuka hati seperti di Indonesia. Sistemnya langsung berhenti, karena tidak bisa melanjutkan semester berikutnya,” jelasnya. Tekanan semakin besar ketika menghadapi ujian semester. Berbeda dengan kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia yang menggunakan ujian tertulis, mahasiswa di Rusia diuji secara lisan.
Setiap akhir semester, mahasiswa harus memelajari puluhan hingga ratusan materi. Saat ujian berlangsung, penguji akan memberikan satu topik secara acak yang harus dijelaskan langsung di hadapan dosen. Lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab secara spontan. (*/lin)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Bagi Safina, kuliah di Rusia menghadirkan tantangan yang jauh berbeda. Dibandingkan sistem pendidikan di Indonesia. “Lebih sulit di sana (Rusia, Red),” ujarnya. Salah satu perbedaan paling mencolok adalah masa studi yang bersifat mutlak. Mahasiswa tidak diperbolehkan mempercepat ataupun memperpanjang masa kuliah. Program sarjana harus ditempuh selama empat tahun. Sedangkan magister selama dua tahun.
“Di Rusia masa studi sudah ditetapkan. Tidak bisa dipercepat menjadi tiga tahun atau diperpanjang. Sama seperti sekolah. Kalau SD enam tahun ya enam tahun,” tuturnya.Tak hanya itu, sistem akademik juga menerapkan aturan yang sangat ketat. Setiap mata kuliah yang telah ditentukan dalam kurikulum wajib dinyatakan lulus pada semester tersebut. Jika gagal pada satu mata kuliah, mahasiswa tidak dapat melanjutkan ke semester berikutnya dan berisiko dikeluarkan dari kampus alias drop out (DO).
“Kalau ada mata kuliah yang tidak lulus, kami tidak bisa mengulang sesuka hati seperti di Indonesia. Sistemnya langsung berhenti, karena tidak bisa melanjutkan semester berikutnya,” jelasnya. Tekanan semakin besar ketika menghadapi ujian semester. Berbeda dengan kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia yang menggunakan ujian tertulis, mahasiswa di Rusia diuji secara lisan.
Setiap akhir semester, mahasiswa harus memelajari puluhan hingga ratusan materi. Saat ujian berlangsung, penguji akan memberikan satu topik secara acak yang harus dijelaskan langsung di hadapan dosen. Lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab secara spontan. (*/lin)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q