Jam masuk dimulai pukul 08:00 WIT dan berakhir pukul 12:30 WIT. Selebihnya, masjid menjadi ruang belajar yang hidup. Pesantren kilat digelar selama dua hari. Materinya sederhana, namun sarat makna. Anak-anak diajarkan tentang hukum puasa, tata cara salat yang benar, praktik wudhu, hingga pemaknaan niat.
“Karena segala sesuatu tergantung pada niat,” ujar Ketua Takmir Masjid Jami Kota Jayapura, dan Kepala SMP Nurul Huda Jayapura, H. Muhammad Syaiful, kepada Cenderawasih Pos.
Di sela materi, anak-anak kembali menunduk khusyuk membaca Alquran. Tadarus menjadi jeda yang menenangkan sekaligus penguat hafalan. Mereka juga dibiasakan melaksanakan salat duha, melantunkan Asmaul Husna, dan menghafal surah-surah pendek.
Ramadan, bagi mereka bukan waktu untuk bermalas-malasan, melainkan momentum membentuk kebiasaan baik. “Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi mengisinya dengan kegiatan yang mendatangkan manfaat,” katanya.
Pada hari ketiga masuk sekolah nanti, siswa/siswi dijadwalkan membawa menu masing-masing untuk berbuka puasa bersama di sekolah. Kemudian dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah, dan tarawih bersama.
Di sisi lain, pengurus masjid telah menyusun jadwal penyediaan takjil sejak hari pertama hingga hari ke-30 Ramadan. Warga bergiliran membawa hidangan berbuka, yang disiapkan di ruang-ruang kelas sekolah. Tradisi ini telah berlangsung bertahun-tahun, menjadi simpul kebersamaan yang terus terjaga.
Kata H. Muhammad Syaiful, tahun ini ada tambahan program makan bergizi gratis (MBG) turut dirasakan sekolahnya. Meski begitu, suasana Ramadan disebut tak banyak berubah. Spirit yang sama tetap menyala yakni memakmurkan masjid. “Buat apa masjid besar jika tidak diisi dengan ibadah?” ucapnya.