Namun, ketika air mulai dalam, orang tua menggendong anak-anak mereka menuju sekolah, menunggu hingga jam belajar selesai, lalu kembali menggendong mereka pulang menyeberangi sungai. Rutinitas itu berulang dari hari ke hari. Nagari Lubuk Karak dengan 407 kepala keluarga hanya memiliki akses jalan darat berupa tanah merah. Saat hujan, jalur itu berubah menjadi kubangan panjang yang tak bisa dilalui kendaraan biasa.
Jika ada warga sakit, perjalanan menuju fasilitas kesehatan bisa memakan waktu berjam-jam. Keterisolasian semakin terasa saat senja tiba. Sinyal telekomunikasi nyaris tak bersahabat.Ponsel hanya menangkap jaringan di titik-titik tertentu dan itupun tidak stabil. Sebagian warga mulai memanfaatkan wifi dan Starlink, namun harapan akan kehadiran tower telekomunikasi tetap besar.
Meski demikian, kehidupan di Lubuk Karak tak pernah benar-benar sunyi dari harapan. Warga tetap bekerja di ladang dan kebun. Bertani, menyadap karet, dan mengelola hasil alam menjadi cara bertahan hidup. Gotong royong bukan sekadar budaya, melainkan kebutuhan. Saat satu rumah kesulitan, seluruh nagari ikut merasakan.
Para orang tua menggantungkan harapan besar pada pendidikan. Mereka percaya, meski jalan berlumpur dan sungai harus diseberangi, anak-anak mereka kelak bisa hidup lebih baik. Pendidikan menjadi cahaya kecil yang terus dijaga agar tidak padam, meski angin keterbatasan berembus kencang. Lubuk Karak bukan sekadar wilayah di peta Kabupaten Dharmasraya.
Ia adalah kisah tentang ketabahan dan mimpi-mimpi kecil yang menolak tenggelam di arus sungai dan lumpur jalanan. Di tengah gencarnya pembangunan yang terus digaungkan, nagari ini masih menunggu uluran tangan nyata: jalan yang layak, jembatan yang aman, dan sinyal yang menghubungkan mereka dengan masa depan.
Namun, ketika air mulai dalam, orang tua menggendong anak-anak mereka menuju sekolah, menunggu hingga jam belajar selesai, lalu kembali menggendong mereka pulang menyeberangi sungai. Rutinitas itu berulang dari hari ke hari. Nagari Lubuk Karak dengan 407 kepala keluarga hanya memiliki akses jalan darat berupa tanah merah. Saat hujan, jalur itu berubah menjadi kubangan panjang yang tak bisa dilalui kendaraan biasa.
Jika ada warga sakit, perjalanan menuju fasilitas kesehatan bisa memakan waktu berjam-jam. Keterisolasian semakin terasa saat senja tiba. Sinyal telekomunikasi nyaris tak bersahabat.Ponsel hanya menangkap jaringan di titik-titik tertentu dan itupun tidak stabil. Sebagian warga mulai memanfaatkan wifi dan Starlink, namun harapan akan kehadiran tower telekomunikasi tetap besar.
Meski demikian, kehidupan di Lubuk Karak tak pernah benar-benar sunyi dari harapan. Warga tetap bekerja di ladang dan kebun. Bertani, menyadap karet, dan mengelola hasil alam menjadi cara bertahan hidup. Gotong royong bukan sekadar budaya, melainkan kebutuhan. Saat satu rumah kesulitan, seluruh nagari ikut merasakan.
Para orang tua menggantungkan harapan besar pada pendidikan. Mereka percaya, meski jalan berlumpur dan sungai harus diseberangi, anak-anak mereka kelak bisa hidup lebih baik. Pendidikan menjadi cahaya kecil yang terus dijaga agar tidak padam, meski angin keterbatasan berembus kencang. Lubuk Karak bukan sekadar wilayah di peta Kabupaten Dharmasraya.
Ia adalah kisah tentang ketabahan dan mimpi-mimpi kecil yang menolak tenggelam di arus sungai dan lumpur jalanan. Di tengah gencarnya pembangunan yang terus digaungkan, nagari ini masih menunggu uluran tangan nyata: jalan yang layak, jembatan yang aman, dan sinyal yang menghubungkan mereka dengan masa depan.