Kontekstual Budaya Papua, Wajib Sapa Dosen dengan Mama dan Bapa

Terobosan Kecil Dekan FISIP Uncen yang Beri Dampak Besar Karakter Mahasiswa

Di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Uncen, ada kewajiban menyapa dosen dengan sebutan yang tidak pada umumnya di kampus atau fakultas lainnya. Inovasi kecil ini diyakini memberi dampak besar terhadap karakter di kalangan mahasiswa.

Laporan: Robert Mboik_Jayapura

Mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Cenderawasih diwajibkan untuk menyapa setiap dosen baik laki-laki maupun perempuan dengan sapaan Mama untuk perempuan dan bapak untuk laki-laki. Sapaan ini berlaku bagi semua dosen baik yang masih muda maupun yang sudah tua, baik yang sudah menikah maupun yang belum.

Baca Juga :  Berkonsep Modern, RS Vertikal Terbesar di Indonesia Timur

    Biasanya panggilan mama dan bapak itu sejatinya berlaku untuk orang tua kandung tetapi dalam budaya masyarakat Papua, tidak sedikit juga orang yang bukan status anak kandung memanggil dengan sebutan mama atau bapa untuk orang yang lebih tua.

   Dekan FISIP Uncen Dr. Marlina Flassy mewajibkan setiap mahasiswanya untuk memanggil para dosen dengan panggilan mama dan bapak, bukan tanpa alasan.   Marlina mengaku  sejak dirinya dipercayakan sebagai Dekan FISIP Uncen, dirinya memang telah mewajibkan mahasiswanya untuk menyapa para dosen dengan sebutan Mama dan Bapa.

   Menurutnya,  ini merujuk pada budaya orang asli Papua,  yang selalu memanggil mama untuk  kaum perempuan yang berusia tua,  begitu juga dengan kaum laki-laki sebagai yang usianya lebih tua dengan panggilan bapak.

Baca Juga :  Notice Opsen di Kartu Pajak, Tidak Jadi Beban karena Besaran Pajak Tetap Sama

   Dalam konteks hubungan sebagai mahasiswa dan dosen, panggilan mama dan bapa untuk para  dosen ini agar tidak ada lagi gap atau kesenjangan  antara dosen dan mahasiswa. Mahasiswa akan menganggap dosennya sebagai orang tua kandungnya, sehingga ada batasan batasan disana.    

Terobosan Kecil Dekan FISIP Uncen yang Beri Dampak Besar Karakter Mahasiswa

Di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Uncen, ada kewajiban menyapa dosen dengan sebutan yang tidak pada umumnya di kampus atau fakultas lainnya. Inovasi kecil ini diyakini memberi dampak besar terhadap karakter di kalangan mahasiswa.

Laporan: Robert Mboik_Jayapura

Mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Cenderawasih diwajibkan untuk menyapa setiap dosen baik laki-laki maupun perempuan dengan sapaan Mama untuk perempuan dan bapak untuk laki-laki. Sapaan ini berlaku bagi semua dosen baik yang masih muda maupun yang sudah tua, baik yang sudah menikah maupun yang belum.

Baca Juga :  Uncen Mulai Siapkan Kelas Internasional

    Biasanya panggilan mama dan bapak itu sejatinya berlaku untuk orang tua kandung tetapi dalam budaya masyarakat Papua, tidak sedikit juga orang yang bukan status anak kandung memanggil dengan sebutan mama atau bapa untuk orang yang lebih tua.

   Dekan FISIP Uncen Dr. Marlina Flassy mewajibkan setiap mahasiswanya untuk memanggil para dosen dengan panggilan mama dan bapak, bukan tanpa alasan.   Marlina mengaku  sejak dirinya dipercayakan sebagai Dekan FISIP Uncen, dirinya memang telah mewajibkan mahasiswanya untuk menyapa para dosen dengan sebutan Mama dan Bapa.

   Menurutnya,  ini merujuk pada budaya orang asli Papua,  yang selalu memanggil mama untuk  kaum perempuan yang berusia tua,  begitu juga dengan kaum laki-laki sebagai yang usianya lebih tua dengan panggilan bapak.

Baca Juga :  Sempat Tak Percaya Saat Disuruh Main Baki Sore

   Dalam konteks hubungan sebagai mahasiswa dan dosen, panggilan mama dan bapa untuk para  dosen ini agar tidak ada lagi gap atau kesenjangan  antara dosen dan mahasiswa. Mahasiswa akan menganggap dosennya sebagai orang tua kandungnya, sehingga ada batasan batasan disana.    

Berita Terbaru

Artikel Lainnya