Friday, February 20, 2026
26.9 C
Jayapura

Di Nduga Menangis Sambil Robek Baju, Tempuh 13 Jam Jalan Kaki ke Omon

Hanya saja untungnya tim ini memiliki jaringan yang cukup solid sehingga tidak terlalu terkendala dalam hal pemenuhan obat-obatan. Dari sekitar 200 anggota, sebagian besar merupakan alumni Uncen sehingga untuk membangun koordinasi ketika dibutuhkan tidaklah susah. “Kalau ke RSU Dok II kami punya kakak-kakak senior juga ada, ke rumah sakit lain juga masih ada teman-teman dan semuanya siap mensuport sehingga apa yang kami butuhkan tidak terlalu sulit didapat terutama obat-obat umum,” aku Rafael.

Menariknya selain melakukan pelayanan medis, tim ini juga menyempatkan memberikan pakaian layak pakai termasuk buku bagi anak-anak usia dini. Jadi selain mengecek kondisi kesehatan warga, ada manfaat lain yang diberikan. Dari berbagai cerita yang dilalui sejak 2015, kata Rafael ada banyak pengalaman seru dan menarik atau bahkan sampai menyentuh hati dari perjalanan mereka.

Baca Juga :  Masyarakat Miskin Jangan Sakit Apalagi Meninggal di Jayapura

Ia mengkisahkan ketika pertama masuk di Nduga ternyata warga setempat menolak. Warga menganggap tim ini bagian dari pemerintah yang tujuannya belum tentu baik. Masyarakat khawatir justru terjadi apa-apa. Lalu meski sudah dijelaskan sedemikian rupa namun warga masih bersikeras tidak mau menerima pelayanan medis dari mereka. Pandangan negatif dilekatkan betul oleh warga setempat ketika itu.

“Kami sudah jelaskan berulang-ulang, hingga akhirnya kaka perempuan kami menangis dan merobek baju lalu mengatakan bahwa mereka sama-sama hitam kulit keriting rambut tidak mungkin menyakiti sesama. Kakak ketika itu cukup emosional dan akhirnya warga mau memahami dan menerima,” cerita Rafael. Diakui terkadang tidak mudah membangun pemahaman yang positif sekalipun datang dengan niat baik. Perlu ada penghubung yang mengkomunikasikan untuk bisa diterima masyarakat.

Baca Juga :  Banyak Tenda Kosong Tak Ditempati, Pedagang Lainnya Harus Jualan di Tanah

Hanya saja untungnya tim ini memiliki jaringan yang cukup solid sehingga tidak terlalu terkendala dalam hal pemenuhan obat-obatan. Dari sekitar 200 anggota, sebagian besar merupakan alumni Uncen sehingga untuk membangun koordinasi ketika dibutuhkan tidaklah susah. “Kalau ke RSU Dok II kami punya kakak-kakak senior juga ada, ke rumah sakit lain juga masih ada teman-teman dan semuanya siap mensuport sehingga apa yang kami butuhkan tidak terlalu sulit didapat terutama obat-obat umum,” aku Rafael.

Menariknya selain melakukan pelayanan medis, tim ini juga menyempatkan memberikan pakaian layak pakai termasuk buku bagi anak-anak usia dini. Jadi selain mengecek kondisi kesehatan warga, ada manfaat lain yang diberikan. Dari berbagai cerita yang dilalui sejak 2015, kata Rafael ada banyak pengalaman seru dan menarik atau bahkan sampai menyentuh hati dari perjalanan mereka.

Baca Juga :  Sempat Gugup Lewati Zona Merah, Namun Terbayar Oleh Senyum Bocah di Serambakon

Ia mengkisahkan ketika pertama masuk di Nduga ternyata warga setempat menolak. Warga menganggap tim ini bagian dari pemerintah yang tujuannya belum tentu baik. Masyarakat khawatir justru terjadi apa-apa. Lalu meski sudah dijelaskan sedemikian rupa namun warga masih bersikeras tidak mau menerima pelayanan medis dari mereka. Pandangan negatif dilekatkan betul oleh warga setempat ketika itu.

“Kami sudah jelaskan berulang-ulang, hingga akhirnya kaka perempuan kami menangis dan merobek baju lalu mengatakan bahwa mereka sama-sama hitam kulit keriting rambut tidak mungkin menyakiti sesama. Kakak ketika itu cukup emosional dan akhirnya warga mau memahami dan menerima,” cerita Rafael. Diakui terkadang tidak mudah membangun pemahaman yang positif sekalipun datang dengan niat baik. Perlu ada penghubung yang mengkomunikasikan untuk bisa diterima masyarakat.

Baca Juga :  Landasan Pacu Sudah 75 Persen, Siapkan Akses Jalan Baru

Berita Terbaru

Artikel Lainnya