“Beberapa kali ketemu dan akhirnya disepakati untuk membuat satu gerakan yang sama lewat komunitas. Disitulah teman-teman mulai konsen melakukan pelayanan,” kata Rafael Morin, Koordinator Pelayanan Wilayah Tabi. Rafael adalah seorang dokter umum dan usianya masih cukup muda. Ia menjelaskan bahwa komunitas memiliki visi yakni bagaimana bisa memberi manfaat bagi orang lain dari apa yang dimiliki.
Komunitas ini lebih mudah menjalankan aksi lantaran memiliki latar belakang yang mirip-mirip. Ada yang dokter, perawat, analis kesehatan, apoteker bahkan ada yang memiliki latar belakang berbeda juga memilih bergabung karena gerakan kemanusiaannya. Kata Rafael di komunitas ini ada juga yang beprofesi sebagai anggota tim SAR, advokad hingga guru.
Dan menariknya, jika awalnya berangkat dari latar belakang gereja namun kesini – kesini kesan bahwa kelompok ini berjalan karena alasan agama tertentu akhirnya hilang. Semua bergerak demi kemanusiaan dan berbicara kemanusiaan tidak melihat agama apa. Saat ini semua lintas agama berbaur dan lebih mementingkan nilai kemanusiaan dan lebih independen.
Kata Rafael aksi pelayanan yang sering dilakukan adalah masuk ke wilayah yang memang belum banyak tersentuh pelayanan kesehatan. Lokasi pengungsi, daerah terisolir hingga ke tempat yang memang tidak terjangkau. “Kami pernah melayani pengungsi 2018 di Kabupaten Nduga, Kabuaten Puncak Jaya, Intan Jaya, Yahukimo, Oksibil hingga ke Kampung Omon, Kabupaten Jayapura. Wilayah yang jauh dari sentuhan pelayanan pemerintah,” bebernya.
Diakui selama melakoni pekerjaan kemanusiaan ini timnya tidak meminta imbalan alias free. Lalu untuk kebutuhan kesana kemarin menurut Rafael kebanyakan diupayakan lewat swadaya anggota, open donasi ataupun dukungan dari para pihak yang tidak terikat. Ini dilakukan agar pekerjaan kemanusiaan ini lebih leluasa dan tanpa beban. “Untuk menuju satu lokasi yang sudah disepakati biasanya kami open donasi dan bekerjasama dengan pemuda gereja mencari dukungan. Teman-teman juga kadang ikut nyumbang,” tambahnya.
“Beberapa kali ketemu dan akhirnya disepakati untuk membuat satu gerakan yang sama lewat komunitas. Disitulah teman-teman mulai konsen melakukan pelayanan,” kata Rafael Morin, Koordinator Pelayanan Wilayah Tabi. Rafael adalah seorang dokter umum dan usianya masih cukup muda. Ia menjelaskan bahwa komunitas memiliki visi yakni bagaimana bisa memberi manfaat bagi orang lain dari apa yang dimiliki.
Komunitas ini lebih mudah menjalankan aksi lantaran memiliki latar belakang yang mirip-mirip. Ada yang dokter, perawat, analis kesehatan, apoteker bahkan ada yang memiliki latar belakang berbeda juga memilih bergabung karena gerakan kemanusiaannya. Kata Rafael di komunitas ini ada juga yang beprofesi sebagai anggota tim SAR, advokad hingga guru.
Dan menariknya, jika awalnya berangkat dari latar belakang gereja namun kesini – kesini kesan bahwa kelompok ini berjalan karena alasan agama tertentu akhirnya hilang. Semua bergerak demi kemanusiaan dan berbicara kemanusiaan tidak melihat agama apa. Saat ini semua lintas agama berbaur dan lebih mementingkan nilai kemanusiaan dan lebih independen.
Kata Rafael aksi pelayanan yang sering dilakukan adalah masuk ke wilayah yang memang belum banyak tersentuh pelayanan kesehatan. Lokasi pengungsi, daerah terisolir hingga ke tempat yang memang tidak terjangkau. “Kami pernah melayani pengungsi 2018 di Kabupaten Nduga, Kabuaten Puncak Jaya, Intan Jaya, Yahukimo, Oksibil hingga ke Kampung Omon, Kabupaten Jayapura. Wilayah yang jauh dari sentuhan pelayanan pemerintah,” bebernya.
Diakui selama melakoni pekerjaan kemanusiaan ini timnya tidak meminta imbalan alias free. Lalu untuk kebutuhan kesana kemarin menurut Rafael kebanyakan diupayakan lewat swadaya anggota, open donasi ataupun dukungan dari para pihak yang tidak terikat. Ini dilakukan agar pekerjaan kemanusiaan ini lebih leluasa dan tanpa beban. “Untuk menuju satu lokasi yang sudah disepakati biasanya kami open donasi dan bekerjasama dengan pemuda gereja mencari dukungan. Teman-teman juga kadang ikut nyumbang,” tambahnya.