Sementara untuk pasangan calon baik walikota maupun gubernur, diakuinya sampai saat ini mereka belum pernah ikut dalam kegiatan kampanye paslon. Akan tetapi untuk pilihan sudah ditentukan khususnya calon gubernur dia mengaku telah menentukan pilihannya. “Kalau gubernur sudah ada, karena mereka hanya dua calon saja,” ujarnya.
Namun untuk calon Walikota Jayapura, sampai sekarang Yos belum tau nama-nama kandidat calon Walikota Jayapura. Sehingga dia pun masih binggung untuk menentukan pilihan. “Saya tidak tau, calon walikota siapa-siapa, sehingga masih binggung,” bebernya.
Meski demikian namun pria kelahiran Provinsi Maluku Tenggara itu menaruh sejumlah harapan kepada para paslon, diantaranya ruang kerja bagi mereka. Dimana sampai saat ini mereka masih kesulitan mencari pekerjaan. Adapun saat ini, kehidupan mereka masih bergantung pada hasil jualan seperti sapu, kaset kaki, koran Cendrawasih Pos, serta perkakas rumah tangga lainnya yang ia jual di Emperan Saga Abepura.
“Memang saat ini saya jualan, tapi jualan ini kita beli lagi dari orang, sehingga untungnya kecil,” ungkapnya.
Ia berharap calon pemimpin yang baru ini khususnya Walikota punya kebijakan khusus untuk meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas di Kota Jayapura. “Kalaupun tidak kasih bantuan, paling tidak kasih kami kerja, apa saja yang penting bisa buat kami hidup,” imbuhnya.
Iapun tinggal dengan saudaranya sesama dari Maluku Tenggara. Untuk bertahan hidup, Ia harus berjualan setiap hari. Hasil jualannya digunakan untuk beli beras maupun nasi. “Kita ini susah, mau makan saja untung-untungan, jadi kalau para pemimpin ini ingin bantu kami, maka berikan kami pekerjaan,” harapnya.
Sementara itu Stefanus Imbiri, mengaku meski telah sejak lama telah ikut dalam pemilu, namun masih menemukan sejumlah kendala. Salah satunya penyediaan templat braille, atau surat suara khusus untuk tuna netra.
Seperti pemilu legislatif dan presiden kemarin memang disediakan templat braille, namun kendalanya KPU tidak memberi sosialisasi terkait oenggunaan dari surat suara tersebut.
“Kami memang dikasi barang itu (braille) tapi karena tidak ada sosilisasi, sehingga kami binggung cara coblosnya seperti apa,” ujarnya.
Adapun Yustinus sat ini tinggal di Yayasan Humania Polimak, sampai saat ini belum ada satupun kandidat petugas baik KPU maupun badan Adhock yang datang untuk bersosialisasi tentang tahapan pilkad, padahal jumlah mereka cukuk banyak. “Kami yang tinggal di Yayasan Humania Polimak ini ada sekitar 34 orang semuanya sudah terdaftr sebagai pemilih tetap,” jelasnya. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos