Friday, January 16, 2026
26.7 C
Jayapura

Beli Lahan Tandus Kini Jadi Hutan Organik

“Kalau menyiram atau memupuk sayurannya, otomatis pohonnya ikut subur. Itulah rahasia hutan ini,” sambungnya. Perjuangan itu berlanjut hingga bertahun-tahun. Lahan hijau tersebut berkembang menjadi 30 hektare hutan organik. Setiap kali ada pohon yang mati, segera diganti. Setiap jengkal tanah dihidupkan kembali. “Pohon endemik dari seluruh Indonesia ada di sini. Kami sebut ini kebun raya kecil,” ungkapnya.Banyak Tantangan

Di tengah deforestasi di Indonesia yang terus meluas dan memicu bencana ekologis seperti di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, hutan yang ditanam Rosita dan keluarga menjadi angin segar.

Namun, keberadaan hutan itu terwujud melalui perjuangan yang tidak mudah. Banyak tantangan harus dihadapi, terutama dari manusia. Sejumlah calo tanah berupaya melarang Rosita membeli tanah dari masyarakat.“Saya sudah 25 tahun tinggal di sini. Kalau ada yang mau macam-macam, saya lawan. Ini bukan untuk dijual, tapi untuk anak cucu,” kata perempuan kelahiran Cimande itu.

Baca Juga :  Pemkab Jayawijaya Masih Cari Lahan 7 Hektar untuk Bangun Sekolah Rakyat

Dari hutan yang ia tanam dan rawat, lahirlah sebuah ekosistem baru. Berdasarkan penelitian mahasiswa IPB, terdapat 121 jenis flora, 25 jenis burung, 10 jenis herpetofauna, dan 59 jenis insekta yang hidup di kawasan tersebut.

Semuanya tumbuh tanpa campuran bahan kimia, murni organik. “Yang menghitung itu mahasiswa S1 sampai S3 IPB. Saya hanya menanam, alam yang bekerja,” imbuhnya.

“Kalau menyiram atau memupuk sayurannya, otomatis pohonnya ikut subur. Itulah rahasia hutan ini,” sambungnya. Perjuangan itu berlanjut hingga bertahun-tahun. Lahan hijau tersebut berkembang menjadi 30 hektare hutan organik. Setiap kali ada pohon yang mati, segera diganti. Setiap jengkal tanah dihidupkan kembali. “Pohon endemik dari seluruh Indonesia ada di sini. Kami sebut ini kebun raya kecil,” ungkapnya.Banyak Tantangan

Di tengah deforestasi di Indonesia yang terus meluas dan memicu bencana ekologis seperti di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, hutan yang ditanam Rosita dan keluarga menjadi angin segar.

Namun, keberadaan hutan itu terwujud melalui perjuangan yang tidak mudah. Banyak tantangan harus dihadapi, terutama dari manusia. Sejumlah calo tanah berupaya melarang Rosita membeli tanah dari masyarakat.“Saya sudah 25 tahun tinggal di sini. Kalau ada yang mau macam-macam, saya lawan. Ini bukan untuk dijual, tapi untuk anak cucu,” kata perempuan kelahiran Cimande itu.

Baca Juga :  Tidak Ada Kata Terlambat, Diyakini Mengalami Perubahan Positif

Dari hutan yang ia tanam dan rawat, lahirlah sebuah ekosistem baru. Berdasarkan penelitian mahasiswa IPB, terdapat 121 jenis flora, 25 jenis burung, 10 jenis herpetofauna, dan 59 jenis insekta yang hidup di kawasan tersebut.

Semuanya tumbuh tanpa campuran bahan kimia, murni organik. “Yang menghitung itu mahasiswa S1 sampai S3 IPB. Saya hanya menanam, alam yang bekerja,” imbuhnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya