Dari blok tersebut iapun pindah ke blok lain dan penonton videonya semakin banyak. Ini dilakukan keluarga tidak melupakan orang yang sudah meninggal dan bisa mengirimkan doa untuk para almarhum. Selama bekerja, Ponco memilih melakukan sendiri, datang ke makam sendiri, membersihkan sendiri dan menikmati keheningan tempat yang dihuni ribuan jenasah.
Untuk membuat videonya juga dilakukan hanya menggunakan tripod. Dan dari aksinya ini ternyata tak sedikit yang merespon positif kemudian memintanya untuk membantu membersihkan makam keluarga. Lokasinya juga tak tanggung-tanggung, ada yang masih disekitar lokasi Nglarangan, Magelang namun ada juga yang sampai luar kota hingga ke luar ke kabupaten lain.
Untuk lokasi yang direquest kata Ponco, ia membebankan semua ongkos kepada keluarga yang meminta bantuan. “Aku untuk jadwal karena sekarang masuk musim hujan biasanya pagi ke siang karena sore kadang hujan. Lalu untuk makam tidak terawat itu tanpa biaya,” bebernya. Namun jika ada yang ingin memberi uang Ponco mengaku tak pernah mematok. Semua seiklhasnya dan ia tak mau memberatkan.
Diceritakan aksinya ini sempat terhenti di makam ke 160 karena terkendala operasional. Ia tak memiliki anggaran untuk melanjutkan kegiatan dan kembali melanjutkan setelah ada dana. Untungnya dari video video yang diposting ternyata ramai, banyak yang mau donasi berbagi buat beli bunga, minum, atau alat.
Disitulah ia bisa berjalan hingga sekarang. “Jadi yang saya bersihkan adalah makam yang tidak terurus, setelah bersih lalu pulang. Sedangkan untuk yang merequest lokasi paling jauh di Wonosari Gunung Kidul tapi umumnya hanya open request untuk area Kota Magelang, Jogja Kota dan sekitarnya,”imbuhnya.
Soal inovasi dalam bekerja, kata Ponco, saat ini ia lebih banyak hanya melakukan pembersihan rumput dan daun-daun kering meski beberapa kali ia membersihkan batu nisan termasuk menebalkan tulisan nama di batu nisan.
“Mungkin ke depannya saya bakalan memperbaiki kijing (batu makam) yang pakai keramik. Hanya memang kendalanya di cuaca kalau masuk musim hujan tanah jadi licin dan daun-daun susah disapu,” bebernya.
Ditanya soal hal mistik, Ponco tak menampik hal tersebut. Ia menceritakan bahwa pernah sekali pas jam setengah tiga sore ia kembali ziarah ke makam ibunya dan tak lama hujan. Iapun bergegas turun ke bawah sambil mencari tempat untuk berteduh.
Disitu ia melihat rumput panjang bergerak gerak di tembok. “Tak kira ada ibu-ibu yang bersih-bersih makam gitu mas, setelah diperhatiin kok rambutnya nempel ditembok perbatasan makam, terus coba tak dekati tiba-tiba ilang,” ceritanya.