Wednesday, January 14, 2026
27.7 C
Jayapura

Dari Cadangan Mati hingga Menaklukkan Thailand

Mengenal Sosok Messi Hamonangan Sirait, Wonderkid Futsal Papua

Tak pernah memiliki klub, tidak pernah memiliki pelatih dan latihan di lapangan seadanya. Hetson justru membawa Timnas Futsal U16 meraih gelar juara pada Piala AFF Futsal U-16 2025. Bagaimana perjalan Hetson dari cadangan mati hingga juara di Thailand.

Laporan_Erianto :

UNTUK pertama kalinya, Timnas Futsal Indonesia U-16 berhasil merengkuh gelar juara Piala AFF Futsal U-16 2025. Di balik drama kemenangan 4-3 atas raksasa Thailand di partai final yang berlangsung di Nonthanburi Hall, Senin (29/12), muncul satu nama yang menjadi buah bibir, Hetson Messi Hamonangan Sirait.

Bagi Hetson, medali emas yang melingkar di lehernya bukan sekadar prestasi, melainkan pembuktian dari sebuah perjalanan panjang penuh air mata dan penolakan.

Baca Juga :  Bahas Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Tanah Papua

Siapa sangka, penggawa Garuda Muda ini bukanlah produk akademi elit. Hetson lahir dan tumbuh di Nabire, Papua Tengah, sebagai pemain futsal “otodidak”. Tanpa pelatih formal dan tanpa sistem pembinaan yang rapi, ia mengasah bakatnya secara mandiri di lapangan-lapangan lokal yang kurang memadai.

Hetson bukan dari keluarga atlet profesional maupun akademi mentereng, jalan Hetson menuju Timnas layaknya mendaki gunung tanpa alas kaki. Sang ayah adalah seorang mantan pembalap lokal, namun darah otomotif tak mengalir di tubuh Hetson.

Keluarganya sempat mengarahkan Hetson ke olahraga bulutangkis atau karate. Namun, raket dan sabuk bela diri bukan jiwanya. Ia memilih futsal, pilihan yang awalnya justru ditentang keluarga karena dianggap tidak menjanjikan.

Baca Juga :  Berawal dari Gagal di Pleg, Tiga Kali Seleksi Langsung Jadi ketua

Nasibnya di kampung halaman pun tak selalu mulus. Hetson mengenang masa-masa sulit saat ia kerap dianggap sebelah mata.

Jalan terjal dimulai saat ia mencoba peruntungan dalam beberapa iven lokal (tarkam), ia kerap tampil dalam beberapa tarkam namun selalu dipandang mata dan dijadikan sebagai cadang mati.

Mengenal Sosok Messi Hamonangan Sirait, Wonderkid Futsal Papua

Tak pernah memiliki klub, tidak pernah memiliki pelatih dan latihan di lapangan seadanya. Hetson justru membawa Timnas Futsal U16 meraih gelar juara pada Piala AFF Futsal U-16 2025. Bagaimana perjalan Hetson dari cadangan mati hingga juara di Thailand.

Laporan_Erianto :

UNTUK pertama kalinya, Timnas Futsal Indonesia U-16 berhasil merengkuh gelar juara Piala AFF Futsal U-16 2025. Di balik drama kemenangan 4-3 atas raksasa Thailand di partai final yang berlangsung di Nonthanburi Hall, Senin (29/12), muncul satu nama yang menjadi buah bibir, Hetson Messi Hamonangan Sirait.

Bagi Hetson, medali emas yang melingkar di lehernya bukan sekadar prestasi, melainkan pembuktian dari sebuah perjalanan panjang penuh air mata dan penolakan.

Baca Juga :  Ole Romeny: Dari Belanda ke Jakarta, Siap Bergabung dengan Timnas Indonesia?

Siapa sangka, penggawa Garuda Muda ini bukanlah produk akademi elit. Hetson lahir dan tumbuh di Nabire, Papua Tengah, sebagai pemain futsal “otodidak”. Tanpa pelatih formal dan tanpa sistem pembinaan yang rapi, ia mengasah bakatnya secara mandiri di lapangan-lapangan lokal yang kurang memadai.

Hetson bukan dari keluarga atlet profesional maupun akademi mentereng, jalan Hetson menuju Timnas layaknya mendaki gunung tanpa alas kaki. Sang ayah adalah seorang mantan pembalap lokal, namun darah otomotif tak mengalir di tubuh Hetson.

Keluarganya sempat mengarahkan Hetson ke olahraga bulutangkis atau karate. Namun, raket dan sabuk bela diri bukan jiwanya. Ia memilih futsal, pilihan yang awalnya justru ditentang keluarga karena dianggap tidak menjanjikan.

Baca Juga :  Presiden Restui Proses Naturalisasi 4 Pemain Keturunan Anyar Timnas Indonesia

Nasibnya di kampung halaman pun tak selalu mulus. Hetson mengenang masa-masa sulit saat ia kerap dianggap sebelah mata.

Jalan terjal dimulai saat ia mencoba peruntungan dalam beberapa iven lokal (tarkam), ia kerap tampil dalam beberapa tarkam namun selalu dipandang mata dan dijadikan sebagai cadang mati.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya