Wednesday, March 11, 2026
25.9 C
Jayapura

Semangat IWD Mengingatkan Perjuangan Kesetaraan Belum Usai

Eksistensi Perempuan Papua di Tengah Lapisan Kekerasan

Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD). Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa perjuangan menuju kesetaraan gender masih terus berlangsung. Termasuk di wilayah Papua.

Laporan: Elfira-Jayapura

Pada tahun 2026 ini, IWD mengangkat tema “Give To Gain” atau Memberi untuk Mendapatkan. Sebuah gagasan yang sederhana, tetapi mengandung makna mendalam bahwa perubahan lahir dari solidaritas, dari kesediaan untuk memberi perhatian, dukungan, dan ruang bagi perempuan.

Di Papua, peringatan IWD tidak sekadar seremoni tahunan. Bagi banyak perempuan, momentum ini menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali realitas kehidupan mereka yang masih diwarnai berbagai tantangan.

Baca Juga :  Pemprov Papua Selatan Dukung Pelayanan Suster PBHK di Bumi Anim Ha

Aktivis sekaligus Perempuan Pembela HAM, Novita Opki, menilai gerakan IWD jika dikaitkan dengan situasi di Papua menunjukkan bahwa perjuangan perempuan di wilayah ini masih terus mencari bentuk yang ideal.

“Gerakan perempuan di Papua sedang mencari bentuk perjuangan yang ideal agar perempuan bisa bebas dalam berbagai sisi kehidupan,” ujarnya, Senin (9/3).

Menurutnya, potret IWD menjadi salah satu pijakan penting yang membangkitkan kembali gerakan perempuan. Gerakan tersebut tidak hanya muncul dalam organisasi atau komunitas, tetapi juga tumbuh melalui langkah-langkah individu.

Saat ini, semakin banyak perempuan muda yang terlibat dalam berbagai aktivitas yang mendukung keadilan bagi perempuan. Keterlibatan generasi muda ini menjadi sinyal bahwa kesadaran untuk memperjuangkan hak-hak perempuan mulai tumbuh kuat di kalangan perempuan Papua.

Baca Juga :  Berhrap Polres Merauke Jadi Percontohan di Wilayah Selatan Papua

Namun di balik tumbuhnya gerakan tersebut, tantangan yang dihadapi perempuan Papua masih sangat kompleks. “Hingga kini, dukungan terhadap perlindungan perempuan dinilai belum sepenuhnya hadir, baik dari lingkungan sosial maupun institusi yang seharusnya memberikan jaminan keamanan. Salah satu penyebabnya adalah konstruksi budaya patriarki yang masih kuat memengaruhi kehidupan masyarakat,” katanya.

Eksistensi Perempuan Papua di Tengah Lapisan Kekerasan

Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD). Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa perjuangan menuju kesetaraan gender masih terus berlangsung. Termasuk di wilayah Papua.

Laporan: Elfira-Jayapura

Pada tahun 2026 ini, IWD mengangkat tema “Give To Gain” atau Memberi untuk Mendapatkan. Sebuah gagasan yang sederhana, tetapi mengandung makna mendalam bahwa perubahan lahir dari solidaritas, dari kesediaan untuk memberi perhatian, dukungan, dan ruang bagi perempuan.

Di Papua, peringatan IWD tidak sekadar seremoni tahunan. Bagi banyak perempuan, momentum ini menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali realitas kehidupan mereka yang masih diwarnai berbagai tantangan.

Baca Juga :  Puncak Peringatan HAN 2024 Dipusatkan di Istora Papua Bangkit

Aktivis sekaligus Perempuan Pembela HAM, Novita Opki, menilai gerakan IWD jika dikaitkan dengan situasi di Papua menunjukkan bahwa perjuangan perempuan di wilayah ini masih terus mencari bentuk yang ideal.

“Gerakan perempuan di Papua sedang mencari bentuk perjuangan yang ideal agar perempuan bisa bebas dalam berbagai sisi kehidupan,” ujarnya, Senin (9/3).

Menurutnya, potret IWD menjadi salah satu pijakan penting yang membangkitkan kembali gerakan perempuan. Gerakan tersebut tidak hanya muncul dalam organisasi atau komunitas, tetapi juga tumbuh melalui langkah-langkah individu.

Saat ini, semakin banyak perempuan muda yang terlibat dalam berbagai aktivitas yang mendukung keadilan bagi perempuan. Keterlibatan generasi muda ini menjadi sinyal bahwa kesadaran untuk memperjuangkan hak-hak perempuan mulai tumbuh kuat di kalangan perempuan Papua.

Baca Juga :  Coaching Program New Exporter Digelar bagi 50 UMKM  Papua

Namun di balik tumbuhnya gerakan tersebut, tantangan yang dihadapi perempuan Papua masih sangat kompleks. “Hingga kini, dukungan terhadap perlindungan perempuan dinilai belum sepenuhnya hadir, baik dari lingkungan sosial maupun institusi yang seharusnya memberikan jaminan keamanan. Salah satu penyebabnya adalah konstruksi budaya patriarki yang masih kuat memengaruhi kehidupan masyarakat,” katanya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya