Lalu jika pimpinan melakukan kesalahan atau dianggap berpotensi terjadi pelanggaran maka sekalipun sebagai bawahan harus tetap mengingatkan pimpinan. Jangan justru mendiamkan karena ini sama artinya menjemuruskan pimpinan sendiri. “Saya kadang kurang teliti dan staf langsung mengingatkan. Tidak masalah, saya malah senang,” tambahnya.
Dan berbicara soal karir, Juliana ternyata sudah menjadi ASN sejak tahun 1986. Setelah diangkat sebagai ASN, ia langsung ditempatkan di DPR Papua. “Saya ikut tes dan ketika itu hanya 3 orang saja yang lulus untuk menempati di DPR. Saya hanya sempat pindah sebentar sebagai Sekretaris BKPM namun ditarik lagi ke DPR sampai sekarang,” ceritanya.
Juliana dalam bekerja juga mencoba menerapkan keseimbangan yang proporsional antara eksekusif dan legislatif. Disatu sisi ia sebagai ASN dengan pimpinan seorang gubernur, disisi lain ia wajib melayani dan memfasilitasi semua kebutuhan anggota DPR. “Apa yang disampaikan dewan atau kebijakan yang disampaikan gubernur itu saya terjemahkan dan menjalankan semampu saya agar semua bisa terlayani dan berjalan sesuai program yang sudah direncanakan,” jelasnya.
Selama menjadi ASN, kata Juliana Waromi momentum yang cukup sulit juga pernah dialami. Ketika itu berkaitan dengan perekrutan pegawai negeri di DPR yang melebihi kuota. “Situasinya cukup dilema tapi puji Tuhan bisa kami selesaikan,” imbuhnya.
Terkait peluang perempuan untuk menapak di posisi tertinggi kata Juliana hal tersebut sangat terbuka. apalagi diera demokrasi ini penyetaraan gender cukup menjadi bahan pertimbangan sehingga tak perlu minder apalagi malu untuk terus meniti karir ke titik paling tinggi.
“Pemerintah tidak membatasi sekalipun perempuan, yang penting ada kemauan,” tegasnya.
Dan meski sudah memasuki masa pensiun, ternyata Juliana mengantongi sertipikat Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang artinya tenaganya masih bisa digunakan hingga beberapa tahun ke depan. Saya masih ingin berkarya dan banyak hal yang harus dibantu. Iapun berbicara terkait Pendapatan Asli Daerah yang dikatakan cukup dikuasai. Kekayaan sumber daya alam, posisi strategis, serta keunikan budaya seharusnya menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Papua kata dia harus membuka ruang seluas-luasnya untuk pihak ketiga. “Kita tidak mungkin jalan sendiri. Itu tidak mungkin. Tidak bisa hanya menunggu transferan dari pusat, harus melihat potensi dan itu dimaksimalkan.
Saya memiliki penelitian tentang itu,” imbuh wanita yang mengambi S2 di UGM dan S3 di Uncen ini. Juliana juga kerap diundang diberbagai forum akademik, sebagai penguji, narasumber diskusi ilmiah maupun dalam lingkungan birokrasi.
Ia juga menyuarakan bahwa investasi harus menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan, bukan justru memperlebar kesenjangan. Tapi menurutnya semua harus berpijak pada data, dan analisis ilmiah.
Lalu bagaimana menempatkan posisi sebagai seorang perempuan yang harus mengurus keluarga dan mengejar karir. Kata Juliana ada peran mulia sebagai seorang ibu. Bagi dirinya, keluarga bukanlah penghalang bagi pencapaian profesional, melainkan sumber kekuatan yang menumbuhkan keteguhan hati.
Peran keibuan justru menjadi energi moral yang mendorongnya untuk terus melangkah, bertahan, dan memberikan yang terbaik dalam setiap amanah yang diembannya. Menjalani berbagai peran secara bersamaan bukanlah perkara mudah. Tuntutan pekerjaan, studi doktoral, serta tanggung jawab dalam keluarga sering kali datang bersamaan dan menguras energi.