Ketemu Tupai Jinak, Kayu Bolong dan Guyuran Hujan

“Mereka jadi akrab karena sering diberi makan. Tapi kita tetap harus bijak memperlakukannya,” ujar Lihun Alfonso. Di pos ini juga terdapat rambu keselamatan, termasuk imbauan untuk tidak berkemah. “Jalur dari Pos 2 hingga Shelter 1 memang tidak direkomendasikan untuk berkemah. Selain hutan padat dan lembap, jalur ini juga merupakan lintasan hewan buas. Selain itu, cerita-cerita mistis juga cukup banyak,” ujarnya.

Perjalanan dari Panorama menuju Shelter 1 menjadi tantangan sesungguhnya. Jaraknya sekitar 1,5 km dengan elevasi cukup tajam. Shelter 1 berada di ketinggian 2.505 mdpl, dengan selisih sekitar 250 mdpl dari Panorama.Jalur berubah drastis—lebih curam, licin, dan dipenuhi akar pohon besar. Di beberapa titik, kami harus berpegangan untuk menjaga keseimbangan.

Baca Juga :  Wujud Otsus Setelah 24 Tahun Diterapkan di Tanah Papua

Sekitar 30 menit berjalan, kami tiba di titik ikonik: Kayu Bolong. “Ini salah satu ikon Gunung Kerinci, Pak,” kata Lihun. Kayu Bolong dikenal sebagai salah satu spot mistis di Gunung Kerinci. Berbagai cerita beredar, mulai dari sosok “nenek tua” hingga fenomena aneh yang sulit dijelaskan. “Benar atau tidak, yang penting kita tetap menjaga sopan santun dan tidak merusak alam,” ujar Lihun. Tak lama kemudian, hujan deras turun. Kami segera mengenakan mantel dan melanjutkan perjalanan.

Udara dingin semakin menusuk. Jalur berubah menjadi aliran air. Sepatu dan kaus kaki basah, tubuh diliputi dingin dan lelah. Namun semangat tak boleh runtuh. “Lihat itu, shelter sudah dekat. Sekitar 10 menit lagi,” seru Lihun. Rombongan mulai terpecah menjadi dua kelompok, hal yang lazim dalam pendakian besar karena perbedaan stamina.Akhirnya, kami tiba di Shelter 1 di ketinggian 2.505 mdpl. Area ini merupakan lokasi perkemahan sebelum melanjutkan ke Shelter 3 dan puncak Indrapura (3.805 mdpl).

Baca Juga :  Bupati Silih Berganti Kondisi Jalan dan Selokan Tak Pernah Berubah

“Mereka jadi akrab karena sering diberi makan. Tapi kita tetap harus bijak memperlakukannya,” ujar Lihun Alfonso. Di pos ini juga terdapat rambu keselamatan, termasuk imbauan untuk tidak berkemah. “Jalur dari Pos 2 hingga Shelter 1 memang tidak direkomendasikan untuk berkemah. Selain hutan padat dan lembap, jalur ini juga merupakan lintasan hewan buas. Selain itu, cerita-cerita mistis juga cukup banyak,” ujarnya.

Perjalanan dari Panorama menuju Shelter 1 menjadi tantangan sesungguhnya. Jaraknya sekitar 1,5 km dengan elevasi cukup tajam. Shelter 1 berada di ketinggian 2.505 mdpl, dengan selisih sekitar 250 mdpl dari Panorama.Jalur berubah drastis—lebih curam, licin, dan dipenuhi akar pohon besar. Di beberapa titik, kami harus berpegangan untuk menjaga keseimbangan.

Baca Juga :  Salju Cartenz Tak Lagi Abadi

Sekitar 30 menit berjalan, kami tiba di titik ikonik: Kayu Bolong. “Ini salah satu ikon Gunung Kerinci, Pak,” kata Lihun. Kayu Bolong dikenal sebagai salah satu spot mistis di Gunung Kerinci. Berbagai cerita beredar, mulai dari sosok “nenek tua” hingga fenomena aneh yang sulit dijelaskan. “Benar atau tidak, yang penting kita tetap menjaga sopan santun dan tidak merusak alam,” ujar Lihun. Tak lama kemudian, hujan deras turun. Kami segera mengenakan mantel dan melanjutkan perjalanan.

Udara dingin semakin menusuk. Jalur berubah menjadi aliran air. Sepatu dan kaus kaki basah, tubuh diliputi dingin dan lelah. Namun semangat tak boleh runtuh. “Lihat itu, shelter sudah dekat. Sekitar 10 menit lagi,” seru Lihun. Rombongan mulai terpecah menjadi dua kelompok, hal yang lazim dalam pendakian besar karena perbedaan stamina.Akhirnya, kami tiba di Shelter 1 di ketinggian 2.505 mdpl. Area ini merupakan lokasi perkemahan sebelum melanjutkan ke Shelter 3 dan puncak Indrapura (3.805 mdpl).

Baca Juga :  Gelar Penyuluhan Kesehatan di Posyandu dan Berikan Bantuan Bibit Lele

Berita Terbaru

Artikel Lainnya