Tak Ada Budidaya, Populasi Udang Selingkuh Semakin Berkurang

Tingkat kesulitan mencari udang selingkuh dan bahanya yang harus dihadapi membuat harga udang ini sangat tinggi dimana untuk satu tumpukan yang dikemas dalam pelastik berisi 15 sampai dengan 20 udang dijual dengan harga Rp 300 ribu sampai dengan Rp 500 ribu tergantung hasil dan ukuran yang di dapatkan.

Dengan tingkat kemahalan yang begitu tinggi saat ini udang selingkuh lebih banyak di pasarkan masyarakat ke beberapa restoran dan hotel yang menyajikan menu tersebut. Sebab tidak semua usaha kuliner maupun perhotelan di Wamena mampu untuk menyajikan menu udang selingkuh, setelah masuk ke restoran dan hotel harga kuliner cukup tinggi dimana untuk satu porsinya berisi 8-10 ekor dipatok dengan harga Rp 700 ribu.

Salah Satu warga yang sering kali mencari udang selingkuh Yosep Walilo mengaku jika penangkapan terhadap udang selingkuh saat ini memang cukup sulit dan tidak semudah waktu-waktu lalu dipinggiran Sungai Baliem dan hasilnya juga cukup memuaskan, namun untuk saat ini dirinya harus menelusuri setiap pinggiran kali baliem untuk bisa mendapatkan udang tersebut.

Baca Juga :  Efisiensikan Biaya Operasional Penerbangan, Trigana Batasi Penerimaan Barang Cargo ke Wamena

“Untuk mencari udang selingkuh itu kita harus menebar jaring di setiap pinggiran Kali Baliem, dan ini hanya bisa dilakukan pasca air di kali sedang surut,”ungkapnya kepada Cenderawasih Pos di Wamena Jumat (29/5).

Hasil yang didapat juga kalau banyak bisa langsung dijual, namun kalau hasilnya masih kurang, sdikumpulkan dulu, artinya setiap udang yang ditangkap itu di simpan sementara dalam satu wadah apabila jumlahnya sudah cukup banyak baru bisa di jual ke restoran atau hotel. Jarang ada warga yang mencari udang selingkuh di pasar, sehingga para nelayan udang selingkuh ini lebih banyak memilih untuk menjual ke restoran dan hotel yang sering kali menerima hasil tangkapan yang dibawah oleh masyarakat.

Baca Juga :  Tanah 7 Hektar di Distrik Bpiri Direkomendasikan Bangun Sekolah Rakyat

“Kami tidak bisa menjual udang selingkuh itu setiap hari sebab untuk mencari udang selingkuh ini butuh waktu, biasanya 3 sampai 4 hari baru bisa dijual sebab udang yang didapatkan itu terkadang harus dikumpulkan dulu,”kata Yosep.

Saat ini sudah banyak warga yang menangkap udang tersebut dengan peralatan modern sehingga tangkapan bisa lebih banyak. Namun Ironisnya jumlah udang selingkuh di Sungai Baliem semakin lama semakin berkurang, untuk itu perlu dijaga kelestarian udang ini dengan penangkapan selektif sebab udang selingkuh merupakan potensi tersembunyi Lembah Baliem yang belum dikembangkan artinya belum bisa utuk dibudidayakan.

Tingkat kesulitan mencari udang selingkuh dan bahanya yang harus dihadapi membuat harga udang ini sangat tinggi dimana untuk satu tumpukan yang dikemas dalam pelastik berisi 15 sampai dengan 20 udang dijual dengan harga Rp 300 ribu sampai dengan Rp 500 ribu tergantung hasil dan ukuran yang di dapatkan.

Dengan tingkat kemahalan yang begitu tinggi saat ini udang selingkuh lebih banyak di pasarkan masyarakat ke beberapa restoran dan hotel yang menyajikan menu tersebut. Sebab tidak semua usaha kuliner maupun perhotelan di Wamena mampu untuk menyajikan menu udang selingkuh, setelah masuk ke restoran dan hotel harga kuliner cukup tinggi dimana untuk satu porsinya berisi 8-10 ekor dipatok dengan harga Rp 700 ribu.

Salah Satu warga yang sering kali mencari udang selingkuh Yosep Walilo mengaku jika penangkapan terhadap udang selingkuh saat ini memang cukup sulit dan tidak semudah waktu-waktu lalu dipinggiran Sungai Baliem dan hasilnya juga cukup memuaskan, namun untuk saat ini dirinya harus menelusuri setiap pinggiran kali baliem untuk bisa mendapatkan udang tersebut.

Baca Juga :  2023, Dorong Pembangunan Rumah Sakit Vertikal Segera Dimulai

“Untuk mencari udang selingkuh itu kita harus menebar jaring di setiap pinggiran Kali Baliem, dan ini hanya bisa dilakukan pasca air di kali sedang surut,”ungkapnya kepada Cenderawasih Pos di Wamena Jumat (29/5).

Hasil yang didapat juga kalau banyak bisa langsung dijual, namun kalau hasilnya masih kurang, sdikumpulkan dulu, artinya setiap udang yang ditangkap itu di simpan sementara dalam satu wadah apabila jumlahnya sudah cukup banyak baru bisa di jual ke restoran atau hotel. Jarang ada warga yang mencari udang selingkuh di pasar, sehingga para nelayan udang selingkuh ini lebih banyak memilih untuk menjual ke restoran dan hotel yang sering kali menerima hasil tangkapan yang dibawah oleh masyarakat.

Baca Juga :  PPD Tolikara yang Baru Segera Dilantik

“Kami tidak bisa menjual udang selingkuh itu setiap hari sebab untuk mencari udang selingkuh ini butuh waktu, biasanya 3 sampai 4 hari baru bisa dijual sebab udang yang didapatkan itu terkadang harus dikumpulkan dulu,”kata Yosep.

Saat ini sudah banyak warga yang menangkap udang tersebut dengan peralatan modern sehingga tangkapan bisa lebih banyak. Namun Ironisnya jumlah udang selingkuh di Sungai Baliem semakin lama semakin berkurang, untuk itu perlu dijaga kelestarian udang ini dengan penangkapan selektif sebab udang selingkuh merupakan potensi tersembunyi Lembah Baliem yang belum dikembangkan artinya belum bisa utuk dibudidayakan.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya