Saturday, April 5, 2025
28.7 C
Jayapura

Pemerintah dan Pertamina Diminta Tegas Soal Kelangkaan Solar

JAYAPURA-Sudah hampir satu bulan persoalan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar dan juga Pertalate diakhir pekan  di Kota Jayapura masih belum terselesaikan. Hal ini diakui oleh supir truk yang sedang antre solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Nagoya Kota Jayapura.

“Antre seperti ini sudah sejak awal Maret, bahkan bukan cuma disini hampir semua SPBU di Kota Jayapura,”Ungkap salah satu sopir truk yang namanya enggan dikorankan, Sabtu (26/3) .

Ia mengaku sejak ketersediaan Solar berkurang sistem pengisiannyapun dibatasi oleh pihak SPBU.

“Sekarang orang SPBU tidak ijin untuk isi full tangki, satu mobil cuma bisa isi Rp 250 ribu. Sistem pengisian seperti ini yang bikin kami harus antre setiap hari,”keluhnya.

Mirisnya lagi kadang mereka antre dari pagi sampai sore tapi suplayer Solar tak kunjung datang dari Pertamina. Mereka mengaku resah dengan keadan ini namun karena tidak memiliki kapasitas untuk bersuara, terpaksa hanya bertumpu pada kesebaran.

Baca Juga :  17.326 Peserta Belum Mengajukan Pencairan JHT

“Antre seperti ini mungkin sudah hal biasa bagi kami, tapi yang bikin sedih kadang antre dari pagi sampai sore tapi stok Solar dari pangkalan pertamina tak kunjung datang. Kami mau bersuara tapi kepada siapa,”,Ungkapnya.

“Saya hanya pegawai harian lepas,  gaji saya sistem bagi persen dengan perusahan, jadi kalau antaran saya banyak, gajipun cukup tinggi. Tapi sejak stok Solar langka gaji saya sangat berkurang dari sebelumnya,” Imbuhnya.

Senada dengan itu Juki sopir truk  yang sedang antri solar di SPBU APO mengatakan semenjak SPBU Dok V Bawah tidak menyediakan Solar, semua pengguna mobil berbahan bakar Solar yang berada di daerah Dok hingga Pasari n2 terpaksa harus antri di SPBU APO.

Baca Juga :  Pelaku Ekonomi Mulai Melakukan Penyesuaian

Melihat kondisi Solar sangat langka Ia berharap pada ketegasan Pemerintah dan juga Pertamina karena menurutnya jika hal ini tidak direspon oleh pihak yang berwenang maka akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Kota Jayapura.

“Kita inikan sudah dilanda pandemi selama dua tahun dan sekarang ini sudah mulai ada kelonggaran tentu dengan adanya kelonggaran seperti ini bisa membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tapi kalau modelnya seperti ini sama saja dengan situasi pandemi kemarin. Semoga pemerintah bisa cari tau ada apa dengan stok Solar ini,”Pungkasnya.(CR-267/gin)

JAYAPURA-Sudah hampir satu bulan persoalan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar dan juga Pertalate diakhir pekan  di Kota Jayapura masih belum terselesaikan. Hal ini diakui oleh supir truk yang sedang antre solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Nagoya Kota Jayapura.

“Antre seperti ini sudah sejak awal Maret, bahkan bukan cuma disini hampir semua SPBU di Kota Jayapura,”Ungkap salah satu sopir truk yang namanya enggan dikorankan, Sabtu (26/3) .

Ia mengaku sejak ketersediaan Solar berkurang sistem pengisiannyapun dibatasi oleh pihak SPBU.

“Sekarang orang SPBU tidak ijin untuk isi full tangki, satu mobil cuma bisa isi Rp 250 ribu. Sistem pengisian seperti ini yang bikin kami harus antre setiap hari,”keluhnya.

Mirisnya lagi kadang mereka antre dari pagi sampai sore tapi suplayer Solar tak kunjung datang dari Pertamina. Mereka mengaku resah dengan keadan ini namun karena tidak memiliki kapasitas untuk bersuara, terpaksa hanya bertumpu pada kesebaran.

Baca Juga :  Ciptakan Kebersamaan Dalam Keberagaman

“Antre seperti ini mungkin sudah hal biasa bagi kami, tapi yang bikin sedih kadang antre dari pagi sampai sore tapi stok Solar dari pangkalan pertamina tak kunjung datang. Kami mau bersuara tapi kepada siapa,”,Ungkapnya.

“Saya hanya pegawai harian lepas,  gaji saya sistem bagi persen dengan perusahan, jadi kalau antaran saya banyak, gajipun cukup tinggi. Tapi sejak stok Solar langka gaji saya sangat berkurang dari sebelumnya,” Imbuhnya.

Senada dengan itu Juki sopir truk  yang sedang antri solar di SPBU APO mengatakan semenjak SPBU Dok V Bawah tidak menyediakan Solar, semua pengguna mobil berbahan bakar Solar yang berada di daerah Dok hingga Pasari n2 terpaksa harus antri di SPBU APO.

Baca Juga :  DOB dan Otsus Baru Semestinya Jadi Berkat Bagi Orang Papua

Melihat kondisi Solar sangat langka Ia berharap pada ketegasan Pemerintah dan juga Pertamina karena menurutnya jika hal ini tidak direspon oleh pihak yang berwenang maka akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi di Kota Jayapura.

“Kita inikan sudah dilanda pandemi selama dua tahun dan sekarang ini sudah mulai ada kelonggaran tentu dengan adanya kelonggaran seperti ini bisa membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tapi kalau modelnya seperti ini sama saja dengan situasi pandemi kemarin. Semoga pemerintah bisa cari tau ada apa dengan stok Solar ini,”Pungkasnya.(CR-267/gin)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya