alexametrics
25.7 C
Jayapura
Tuesday, June 21, 2022

Harga Cabe dan Sayuran Melambung

JUALAN DI JALAN- Karena banjir, para pedagang sayur dan bumbu dapur di Pasar Youtefa Abepura, memilih jualan di pinggir-pinggir jalan menuju pasar Rabu (20/3). Dampak dari banjir, harga sayur dan cabe naik.( FOTO : Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Dampak dari hujan deras yang mengguyur Jayapura mulai hari Sabtu (16/3) lalu dan menyebabkan banjir dimana-mana, tampaknya sangat berpengaruh pada harga cabe dan sayuran di Kota Jayapura.

 Dari pantauan Cenderawasih Pos di Pasar Youtefa Abepura, Rabu (20/3) kemarin, sejumlah harga cabe mengalami kenaikan akibat, jalur pengiriman dari Arso, Kabupaten Keerom, terganggu karena banjir. Juga ladang petani cabe serta sayur terkena banjir. Hal inilah yang menyebabkan adanya kenaikan harga di pasaran, walaupun stoknya masih tercukupi.

 Aminah salah satu pedagang bumbu dapur mengatakan, harga cabe rawit naik, pasca banjir. Sebelum ada banjir harga cabe rawit Rp 60 ribu per kg, namun sekarang bisa mencapai Rp 150 ribu per kg. Sedangkan cabe padang sebelumnya Rp 40-50 ribu per kg, kini sudah mencapai Rp 70 ribu per kg.

 “Pasti kalau hujan deras sampai menyebabkan banjir harga komoditas di pasar ada yang mengalami kenaiikan seperti cabe dan sayur,’’ungkapnya kepada Cenderawasih Pos saat berjualan di samping jalan baru menuju Pasar Youtefa Abepura, akibat pasar masih becek.

 Di tempat yang sama, Fian yang juga penjual sayur dan bumbu dapur juga mengatakan hal senada bahwa harga cabe dan sayur mengalami kenaikan. Untuk harga sawi putih, sebelum banjir harganya hanya Rp 12 ribu/kg, tapi kini mencapai Rp 20 ribu. Sedangkan,  sayur kol sebelumnya Rp 20 ribu/kg menjadi Rp 30 ribu/kg.

Baca Juga :  Permintaan Buku Pelajaran Masih Tinggi

 Para penjual mengakui, walaupun harganya naik, ini tidak mempengaruhi pembeli untuk tidak datang ke pasar. Karena bagaimanapun sayur dan cabe, selalu dibutuhkan setiap hari untuk memasak.

 Sementara itu, banjir bandang yang menerjang Kabupaten Jayapura beberapa hari lalu juga membawa dampak tersendiri bagi para petani sayur lokal di sekitar Kota Sentani dan memicu naiknya harga sejumlah sayur lokal yang dijual di Pasar Pharaa  Sentani

 Seperti hasil pantauan  Cenderawasih Pos, Rabu (20/3), pagi kemarin sayur lokal yang mengalami kenaikan yang cukup tinggi adalah daun singkong dan beberapa sayur lainnya.

 Untuk daun singkong ini dijual dengan harga Rp20.000 per ikat. Padahal sebelumnya sayuran ini hanya dijual dengan harga Rp 5.000 sampai Rp10.000 per ikat.

“Sayur mahal karena memang sangat sulit didapat saat ini,” ungkap Madisa salah satu penjual sayur dipasar Phara Sentani.

Baca Juga :  Plat Nomor Kendaraan Tercatat,  yang Mencurigakan akan Ditanya

 Selain daun singkong beberapa jenis sayur lain seperti kangkung, kacang panjang, buncis dan bunga pepaya juga mahal. Dia mengaku, sejumlah sayuran lokal lainya itu memang terlihat tidak mengalami perubahan harga jual. Akan tetapi para penjual mensiasatinya dengan mengurangi porsi dari biasanya.

“Kalau biasanya setiap satu ikat sayur yang dijual itu banyak tapi saat ini kami kurangi sedikit supaya dari situ ada untung,” bebernya.

 Dia mengaku, melonjaknya harga sayur  lokal di Pasar Phaaraa Sentani itu disebabkan karena sebagian besar lahan atau  kebun sayur milik petani sudah rusak akibat terjangan banjir. “Kalau dikebun memang sayur lagi kosong, karena kebun kami rusak kena banjir,” paparnya.

Dia menambahkan meskipun sayur lokal sedang langka, kondisi ini juga diperpara dengan minimnya permintaan sayuran di pasar. Dia mengaku, sejak terjadinya banjir bandang tidak saja merusak kebun petani akan tetapi juga jumlah kunjungan pembeli di pasar berkurang. “Pembeli saat ini sepi, pendapatan kami juga sangat kurang,” tambahnya.(dil/roy/ary)

JUALAN DI JALAN- Karena banjir, para pedagang sayur dan bumbu dapur di Pasar Youtefa Abepura, memilih jualan di pinggir-pinggir jalan menuju pasar Rabu (20/3). Dampak dari banjir, harga sayur dan cabe naik.( FOTO : Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Dampak dari hujan deras yang mengguyur Jayapura mulai hari Sabtu (16/3) lalu dan menyebabkan banjir dimana-mana, tampaknya sangat berpengaruh pada harga cabe dan sayuran di Kota Jayapura.

 Dari pantauan Cenderawasih Pos di Pasar Youtefa Abepura, Rabu (20/3) kemarin, sejumlah harga cabe mengalami kenaikan akibat, jalur pengiriman dari Arso, Kabupaten Keerom, terganggu karena banjir. Juga ladang petani cabe serta sayur terkena banjir. Hal inilah yang menyebabkan adanya kenaikan harga di pasaran, walaupun stoknya masih tercukupi.

 Aminah salah satu pedagang bumbu dapur mengatakan, harga cabe rawit naik, pasca banjir. Sebelum ada banjir harga cabe rawit Rp 60 ribu per kg, namun sekarang bisa mencapai Rp 150 ribu per kg. Sedangkan cabe padang sebelumnya Rp 40-50 ribu per kg, kini sudah mencapai Rp 70 ribu per kg.

 “Pasti kalau hujan deras sampai menyebabkan banjir harga komoditas di pasar ada yang mengalami kenaiikan seperti cabe dan sayur,’’ungkapnya kepada Cenderawasih Pos saat berjualan di samping jalan baru menuju Pasar Youtefa Abepura, akibat pasar masih becek.

 Di tempat yang sama, Fian yang juga penjual sayur dan bumbu dapur juga mengatakan hal senada bahwa harga cabe dan sayur mengalami kenaikan. Untuk harga sawi putih, sebelum banjir harganya hanya Rp 12 ribu/kg, tapi kini mencapai Rp 20 ribu. Sedangkan,  sayur kol sebelumnya Rp 20 ribu/kg menjadi Rp 30 ribu/kg.

Baca Juga :  Perekonomian Kota Jayapura Semakin Baik

 Para penjual mengakui, walaupun harganya naik, ini tidak mempengaruhi pembeli untuk tidak datang ke pasar. Karena bagaimanapun sayur dan cabe, selalu dibutuhkan setiap hari untuk memasak.

 Sementara itu, banjir bandang yang menerjang Kabupaten Jayapura beberapa hari lalu juga membawa dampak tersendiri bagi para petani sayur lokal di sekitar Kota Sentani dan memicu naiknya harga sejumlah sayur lokal yang dijual di Pasar Pharaa  Sentani

 Seperti hasil pantauan  Cenderawasih Pos, Rabu (20/3), pagi kemarin sayur lokal yang mengalami kenaikan yang cukup tinggi adalah daun singkong dan beberapa sayur lainnya.

 Untuk daun singkong ini dijual dengan harga Rp20.000 per ikat. Padahal sebelumnya sayuran ini hanya dijual dengan harga Rp 5.000 sampai Rp10.000 per ikat.

“Sayur mahal karena memang sangat sulit didapat saat ini,” ungkap Madisa salah satu penjual sayur dipasar Phara Sentani.

Baca Juga :  Selama Januari 2022 Penumpang Melalui Bandara Sentani Naik 32%

 Selain daun singkong beberapa jenis sayur lain seperti kangkung, kacang panjang, buncis dan bunga pepaya juga mahal. Dia mengaku, sejumlah sayuran lokal lainya itu memang terlihat tidak mengalami perubahan harga jual. Akan tetapi para penjual mensiasatinya dengan mengurangi porsi dari biasanya.

“Kalau biasanya setiap satu ikat sayur yang dijual itu banyak tapi saat ini kami kurangi sedikit supaya dari situ ada untung,” bebernya.

 Dia mengaku, melonjaknya harga sayur  lokal di Pasar Phaaraa Sentani itu disebabkan karena sebagian besar lahan atau  kebun sayur milik petani sudah rusak akibat terjangan banjir. “Kalau dikebun memang sayur lagi kosong, karena kebun kami rusak kena banjir,” paparnya.

Dia menambahkan meskipun sayur lokal sedang langka, kondisi ini juga diperpara dengan minimnya permintaan sayuran di pasar. Dia mengaku, sejak terjadinya banjir bandang tidak saja merusak kebun petani akan tetapi juga jumlah kunjungan pembeli di pasar berkurang. “Pembeli saat ini sepi, pendapatan kami juga sangat kurang,” tambahnya.(dil/roy/ary)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/