Memasuki sore hari, kata Yermina, barulah Martha diberikan obat perangsang oleh pihak rumah sakit. Obat perangsang tersebut diberikan dua kali hingga malam hari. “Obat perangsang dimasukkan dua kali. Tapi setelah itu tidak ada penjelasan atau tindakan lanjutan. Tidak ada dokter yang datang menjelaskan kondisi pasien atau langkah medis yang akan diambil,” ungkapnya.
Kondisi Martha semakin memburuk hingga dini hari. Sekitar pukul 02.00 WIT, korban mulai berteriak kesakitan dan terlihat dalam kondisi kritis. “Dia sudah berteriak-teriak seperti orang mau lahiran begitu, barulah perawat dorang bereaksi. Kami bertanya apakah perlu operasi atau tindakan lain, tapi jawabannya hanya disuruh menunggu satu jam, dua jam,” kata Yermina.
Sekitar pukul 03.00 WIT, Martha dinyatakan meninggal dunia bersama bayi yang masih berada dalam kandungannya. Menurut keluarga, sebelum meninggal korban dalam kondisi sangat lemas dan kehabisan tenaga. “Karena sejak jam 02.00 WIT itu dia sudah teriak teriak seperti orang yang sudah mau lahiran,” jelas Yermina.
Pasca kejadian tersebut, pihak keluarga mengaku belum bertemu dengan pimpinan RS Marthen Indey. Mereka hanya berkomunikasi dengan perawat yang bertugas di ruang bersalin. “Kami hanya bertemu dengan perawat perawat saja,” ungkap Yermina.
Atas peristiwa ini, keluarga korban meminta perhatian serius dari Gubernur Papua, Wakil Gubernur Papua, Wali Kota Jayapura, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, hingga Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, untuk mengevaluasi dan menindaklanjuti pelayanan di RS Marthen Indey.
Memasuki sore hari, kata Yermina, barulah Martha diberikan obat perangsang oleh pihak rumah sakit. Obat perangsang tersebut diberikan dua kali hingga malam hari. “Obat perangsang dimasukkan dua kali. Tapi setelah itu tidak ada penjelasan atau tindakan lanjutan. Tidak ada dokter yang datang menjelaskan kondisi pasien atau langkah medis yang akan diambil,” ungkapnya.
Kondisi Martha semakin memburuk hingga dini hari. Sekitar pukul 02.00 WIT, korban mulai berteriak kesakitan dan terlihat dalam kondisi kritis. “Dia sudah berteriak-teriak seperti orang mau lahiran begitu, barulah perawat dorang bereaksi. Kami bertanya apakah perlu operasi atau tindakan lain, tapi jawabannya hanya disuruh menunggu satu jam, dua jam,” kata Yermina.
Sekitar pukul 03.00 WIT, Martha dinyatakan meninggal dunia bersama bayi yang masih berada dalam kandungannya. Menurut keluarga, sebelum meninggal korban dalam kondisi sangat lemas dan kehabisan tenaga. “Karena sejak jam 02.00 WIT itu dia sudah teriak teriak seperti orang yang sudah mau lahiran,” jelas Yermina.
Pasca kejadian tersebut, pihak keluarga mengaku belum bertemu dengan pimpinan RS Marthen Indey. Mereka hanya berkomunikasi dengan perawat yang bertugas di ruang bersalin. “Kami hanya bertemu dengan perawat perawat saja,” ungkap Yermina.
Atas peristiwa ini, keluarga korban meminta perhatian serius dari Gubernur Papua, Wakil Gubernur Papua, Wali Kota Jayapura, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, hingga Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, untuk mengevaluasi dan menindaklanjuti pelayanan di RS Marthen Indey.