MIMIKA — Krisis pangan dan air bersih melanda ratusan warga di tiga distrik terisolasi Kabupaten Puncak, Papua Tengah—yakni Agandugume, Oneri, dan Lambewi. Cuaca ekstrem imbas fenomena El Nino memicu kekeringan hebat dan penurunan suhu udara drastis hingga 2 derajat Celsius, yang berujung pada gagal panen massal di kebun-kebun warga.
Komando Operasi (Koops) TNI Habema kemudian merespon mengirimkan bantuan logistik dan tim medis secara bertahap melalui Bandara Mozes Kilangin Timika, Mimika, Jumat (31/7).
Komandan Satuan Tugas Teritorial Koops TNI Habema, Brigjen TNI Stefie Jantje Nuhujanan, mengonfirmasi bahwa kondisi di lapangan memburuk akibat kombinasi cuaca ekstrem dan ketiadaan pasokan air.
Ia menambahkan, pembekuan dan kekeringan lahan pertanian menjadi pemicu utama kelangkaan bahan pokok.
“Hal ini akibat dari fenomena El Nino, yang mengakibatkan kekeringan, kemudian suhu udara di daerah yang terdampak ini cukup ekstrem, berkisar antara 2 derajat sampai dengan 9 derajat. Nah, hal ini membuat kebun-kebun masyarakat yang ada di tiga distrik tersebut menjadi gagal panen, sehingga terjadilah krisis pangan dan krisis air,” imbuh Stefie.
MIMIKA — Krisis pangan dan air bersih melanda ratusan warga di tiga distrik terisolasi Kabupaten Puncak, Papua Tengah—yakni Agandugume, Oneri, dan Lambewi. Cuaca ekstrem imbas fenomena El Nino memicu kekeringan hebat dan penurunan suhu udara drastis hingga 2 derajat Celsius, yang berujung pada gagal panen massal di kebun-kebun warga.
Komando Operasi (Koops) TNI Habema kemudian merespon mengirimkan bantuan logistik dan tim medis secara bertahap melalui Bandara Mozes Kilangin Timika, Mimika, Jumat (31/7).
Komandan Satuan Tugas Teritorial Koops TNI Habema, Brigjen TNI Stefie Jantje Nuhujanan, mengonfirmasi bahwa kondisi di lapangan memburuk akibat kombinasi cuaca ekstrem dan ketiadaan pasokan air.
Ia menambahkan, pembekuan dan kekeringan lahan pertanian menjadi pemicu utama kelangkaan bahan pokok.
“Hal ini akibat dari fenomena El Nino, yang mengakibatkan kekeringan, kemudian suhu udara di daerah yang terdampak ini cukup ekstrem, berkisar antara 2 derajat sampai dengan 9 derajat. Nah, hal ini membuat kebun-kebun masyarakat yang ada di tiga distrik tersebut menjadi gagal panen, sehingga terjadilah krisis pangan dan krisis air,” imbuh Stefie.