SURABAYA – Rupiah hari ini, Senin (9/3), keok hingga menyentuh level di atas Rp 17.000 per USD. Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan bergerak melemah 76 poin atau 0,45 persen menembus Rp 17.001 per USD dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp 16.925 per USD.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah pada awal pekan ini dipengaruhi perkembangan politik di Iran yang dinilai berpotensi memperpanjang konflik di kawasan tersebut.
“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi adalah faktor eksternal dan internal yang kita lihat bahwa pemimpin baru Iran sudah terpilih yaitu pengganti Ayatullah Khamenei itu adalah Mujtaba Khamenei. Sehingga kemungkinan besar dalam enam bulan ke depan perang di Timur Tengah ini masih akan terus berjalan,” kata Ibrahim, Senin (9/3).
Ia menjelaskan pergantian kepemimpinan di Iran membuat ketegangan geopolitik semakin meningkat. Situasi tersebut berdampak pada produksi energi di kawasan Teluk yang mulai berkurang sehingga mendorong harga minyak mentah dunia melonjak. Menurut Ibrahim, jika konflik berkepanjangan tanpa solusi dalam waktu dekat, lonjakan harga energi berpotensi semakin tinggi dan memicu tekanan ekonomi global.
“Banyak analis yang mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan mencapai level USD 200 per barel apabila dalam jangka waktu satu bulan ini belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah,” ujarnya.
Kombinasi tekanan global dan kekhawatiran terhadap kondisi domestik inilah yang membuat investor cenderung berhati-hati, sehingga memicu aksi jual di pasar saham serta pelemahan nilai tukar rupiah. (eti/opi)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
SURABAYA – Rupiah hari ini, Senin (9/3), keok hingga menyentuh level di atas Rp 17.000 per USD. Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan bergerak melemah 76 poin atau 0,45 persen menembus Rp 17.001 per USD dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp 16.925 per USD.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah pada awal pekan ini dipengaruhi perkembangan politik di Iran yang dinilai berpotensi memperpanjang konflik di kawasan tersebut.
“Ada beberapa faktor yang mempengaruhi adalah faktor eksternal dan internal yang kita lihat bahwa pemimpin baru Iran sudah terpilih yaitu pengganti Ayatullah Khamenei itu adalah Mujtaba Khamenei. Sehingga kemungkinan besar dalam enam bulan ke depan perang di Timur Tengah ini masih akan terus berjalan,” kata Ibrahim, Senin (9/3).
Ia menjelaskan pergantian kepemimpinan di Iran membuat ketegangan geopolitik semakin meningkat. Situasi tersebut berdampak pada produksi energi di kawasan Teluk yang mulai berkurang sehingga mendorong harga minyak mentah dunia melonjak. Menurut Ibrahim, jika konflik berkepanjangan tanpa solusi dalam waktu dekat, lonjakan harga energi berpotensi semakin tinggi dan memicu tekanan ekonomi global.
“Banyak analis yang mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan mencapai level USD 200 per barel apabila dalam jangka waktu satu bulan ini belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah,” ujarnya.
Kombinasi tekanan global dan kekhawatiran terhadap kondisi domestik inilah yang membuat investor cenderung berhati-hati, sehingga memicu aksi jual di pasar saham serta pelemahan nilai tukar rupiah. (eti/opi)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q