Friday, January 30, 2026
25.8 C
Jayapura

Kontekstual Budaya Papua, Wajib Sapa Dosen dengan Mama dan Bapa

Terobosan Kecil Dekan FISIP Uncen yang Beri Dampak Besar Karakter Mahasiswa

Di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Uncen, ada kewajiban menyapa dosen dengan sebutan yang tidak pada umumnya di kampus atau fakultas lainnya. Inovasi kecil ini diyakini memberi dampak besar terhadap karakter di kalangan mahasiswa.

Laporan: Robert Mboik_Jayapura

Mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Cenderawasih diwajibkan untuk menyapa setiap dosen baik laki-laki maupun perempuan dengan sapaan Mama untuk perempuan dan bapak untuk laki-laki. Sapaan ini berlaku bagi semua dosen baik yang masih muda maupun yang sudah tua, baik yang sudah menikah maupun yang belum.

Baca Juga :  Siswa Semakin Rajin ke Sekolah, Program MBG di Biak Disambut Antusias

    Biasanya panggilan mama dan bapak itu sejatinya berlaku untuk orang tua kandung tetapi dalam budaya masyarakat Papua, tidak sedikit juga orang yang bukan status anak kandung memanggil dengan sebutan mama atau bapa untuk orang yang lebih tua.

   Dekan FISIP Uncen Dr. Marlina Flassy mewajibkan setiap mahasiswanya untuk memanggil para dosen dengan panggilan mama dan bapak, bukan tanpa alasan.   Marlina mengaku  sejak dirinya dipercayakan sebagai Dekan FISIP Uncen, dirinya memang telah mewajibkan mahasiswanya untuk menyapa para dosen dengan sebutan Mama dan Bapa.

   Menurutnya,  ini merujuk pada budaya orang asli Papua,  yang selalu memanggil mama untuk  kaum perempuan yang berusia tua,  begitu juga dengan kaum laki-laki sebagai yang usianya lebih tua dengan panggilan bapak.

Baca Juga :  Pendidikan dan Makan Gratis Sama-sama Penting

   Dalam konteks hubungan sebagai mahasiswa dan dosen, panggilan mama dan bapa untuk para  dosen ini agar tidak ada lagi gap atau kesenjangan  antara dosen dan mahasiswa. Mahasiswa akan menganggap dosennya sebagai orang tua kandungnya, sehingga ada batasan batasan disana.    

Terobosan Kecil Dekan FISIP Uncen yang Beri Dampak Besar Karakter Mahasiswa

Di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Uncen, ada kewajiban menyapa dosen dengan sebutan yang tidak pada umumnya di kampus atau fakultas lainnya. Inovasi kecil ini diyakini memberi dampak besar terhadap karakter di kalangan mahasiswa.

Laporan: Robert Mboik_Jayapura

Mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Cenderawasih diwajibkan untuk menyapa setiap dosen baik laki-laki maupun perempuan dengan sapaan Mama untuk perempuan dan bapak untuk laki-laki. Sapaan ini berlaku bagi semua dosen baik yang masih muda maupun yang sudah tua, baik yang sudah menikah maupun yang belum.

Baca Juga :  Ajak Para Pelajar Tolikara Jadi Generasi Hebat dan Berkarakter Injil

    Biasanya panggilan mama dan bapak itu sejatinya berlaku untuk orang tua kandung tetapi dalam budaya masyarakat Papua, tidak sedikit juga orang yang bukan status anak kandung memanggil dengan sebutan mama atau bapa untuk orang yang lebih tua.

   Dekan FISIP Uncen Dr. Marlina Flassy mewajibkan setiap mahasiswanya untuk memanggil para dosen dengan panggilan mama dan bapak, bukan tanpa alasan.   Marlina mengaku  sejak dirinya dipercayakan sebagai Dekan FISIP Uncen, dirinya memang telah mewajibkan mahasiswanya untuk menyapa para dosen dengan sebutan Mama dan Bapa.

   Menurutnya,  ini merujuk pada budaya orang asli Papua,  yang selalu memanggil mama untuk  kaum perempuan yang berusia tua,  begitu juga dengan kaum laki-laki sebagai yang usianya lebih tua dengan panggilan bapak.

Baca Juga :  Tidak Hanya di Luar, Masalah di Dalam Pasar Juga Diminta Ditertibkan

   Dalam konteks hubungan sebagai mahasiswa dan dosen, panggilan mama dan bapa untuk para  dosen ini agar tidak ada lagi gap atau kesenjangan  antara dosen dan mahasiswa. Mahasiswa akan menganggap dosennya sebagai orang tua kandungnya, sehingga ada batasan batasan disana.    

Berita Terbaru

Artikel Lainnya