MIMIKA – Persipuncak Puncak Cartenz akan kembali bertemu dengan Persipani Paniai di final kompetisi Liga 4 zona Papua Tengah. Hal ini setelah keduanya berhasil mengalahkan lawan-lawannya.
Persipuncak mengamankan tiket ke final setelah menumbangkan Persido Dogiyai dengan skor tipis 2-1 di Stadion Wania Imipi, SP 1, Mimika, Senin (16/3) pagi, sementara sorenya Persipani Paniai mengalahkan tuan rumah Persemi Mimika melalui adu penalti 5-4.
Gol kemenangan Persipuncak dicetak oleh Yohan Woppydan Natalius Gabriel Fonataba, sementara itu, satu-satunya gol balasan dari Persido Dogiyai dilesakkan oleh Efredo Kambuaya.
Pelatih Persipuncak, Hendriko Kiwak, memberikan apresiasi tinggi atas daya juang anak asuhnya. Ia menilai mentalitas pemain menjadi pembeda dalam laga yang penuh tekanan tersebut.
“Walau sempat tertinggal tapi mereka (para pemain) punya mentalitas yang baik sehingga terus mengejar bola dan selama peluit belum berbunyi mereka tetap kerja keras sehingga membuahkan gol,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Pelatih Persido Dogiyai, Jefry Edison Rumabu, mengungkapkan bahwa timnya telah berupaya maksimal. Namun, tingginya tensi permainan menyebabkan sejumlah pemain kunci mengalami cedera sejak pertengahan babak pertama, yang merusak ritme permainan tim.
“Dan itu di luar dugaan kami, awal sudah ada persiapan yang baik, namun ketika berjalannya waktu dalam babak pertama intensitas beberapa pemain semakin menurun,” kata Jefry.
Sementara di semifinal II yang digelar sore kemarin, Persipani Paniai melangkah mulus ke partai puncak dengan menumbangkan Persemi Mimika melalui adu penalti.
Pertandingan sejak awal berjalan sengit. Hingga waktu normal 2×45 menit berakhir, kedua tim bermain imbang sehingga laga harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu (extra time).
Ketegangan memuncak pada babak pertama perpanjangan waktu. Sejumlah keputusan wasit memicu protes keras dari kubu Persipani yang menilai kepemimpinan pengadil lapangan tidak objektif.
Protes tidak hanya datang dari pemain di lapangan, tetapi juga ditujukan kepada manajemen pertandingan dan Panitia Pelaksana (Panpel).
Kericuhan tidak hanya didominasi satu pihak. Kubu Persemi Mimika turut melayangkan protes serupa atas beberapa momen krusial yang dianggap pelanggaran namun luput dari keputusan wasit.