Monday, January 12, 2026
26.4 C
Jayapura

Kemenag Ingatkan Khutbah Idul Fitri Tidak Bermuatan Politik

JAKARTA– Perayaan Idul Fitri 2025 semakin dekat. Rencananya Kemenag menggelar Sidang Isbat penentuan 1 Syawal 1446 H besok (29/3). Karena posisi hilal masih minus atau di bawah ufuk, hampir bisa dipastikan lebaran serentak pada Senin (31/3). Kementerian Agama (Kemenag) menerbitkan Surat Edaran khusus menyambut Idul Fitri 2025.

Di dalam surat edaran itu, ada beberapa aspek penting yang dituangkan. Di antaranya adalah pelaksanaan malam takbir dilaksanakan sesuai dengan aturan di tiap-tiap pemerintah daerah. Selain itu, Kemenag juga meminta isi khutbah Idul Fitri tidak bermuatan pesan politik praktis. 

“Umat Islam kami imbau melaksanakan ibadah di sisa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri dengan menyenangkan dan menenangkan,” kata Menag Nasaruddin Umar. Kemudian juga harus sesuai dengan syariat Islam dan menjunjung tinggi nilai toleransi.

Baca Juga :  Dampak Efisiensi, Kemenag Papua Pantau Hilal di Komba

Nasaruddin juga mengingatkan umat Islam untuk menunaikan kewajiban membayar zakat. Khususnya kewajiban zakat fitrah. Bagi Nasaruddin, zakat dan instrumen keuangan keagamaan lainnya seperti infak dan sedekah memiliki peran penting. Khususnya dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.Sementara itu, Wamenag Romo H. R. Muhammad Syafii mendukung tradisi saling memberi di momen Idulfitri.

Termasuk memberikan tunjangan hari raya (THR). Menurutnya, hal itu sudah membudaya sejak zaman dahulu. Namun, Romo Syafii tegas menolak aksi paksa minta THR yang dilakukan pihak manapun.

“Yang saya maksud sebagai budaya kita itu saling memberi, terlebih di Hari Idulfitri. Sejak dulu, kita diajarkan untuk peduli,” sebut Romo Syafii. Sebagai contoh, setiap lebaran, dia siapkan uang khusus untuk diberikan kepada cucu, anak-anak sekitar rumah, dan tetangga yang membutuhkan.

Baca Juga :  Besaran Zakat Fitrah, Maal dan Fidyah Ditetapkan

“Ini juga dilakukan sekaligus mendidik anak untuk peduli dan mau berbagi,” sambungnya.Ditegaskan Romo Syafii, memberi adalah hal positif. Puasa juga melatih umat Islam untuk peduli sehingga lahir pribadi-pribadi yang dermawan. “Kedermawanan penting agar harta tidak hanya bergulir di kalangan orang-orang kaya saja. Ada pemerataan,” sebutnya.

Tentang adanya pihak yang meminta, apalagi dengan cara memaksa, Romo Syafii tegas menolaknya. Menurut dia, aksi semacam itu menurutnya tidak baik. “Meminta apalagi dengan memaksa, itu jelas bukan budaya kita. Agama tidak mengajarkan hal itu. Karenanya, tidak seharusnya dilakukan. Kita tolak itu,” tegas Romo Syafii. Dia mengatakan agama mengajarkan untuk memberi, bukan meminta. Tangan di atas jauh lebih baik dari tangan di bawah. (wan/JawaPos.com)

)

JAKARTA– Perayaan Idul Fitri 2025 semakin dekat. Rencananya Kemenag menggelar Sidang Isbat penentuan 1 Syawal 1446 H besok (29/3). Karena posisi hilal masih minus atau di bawah ufuk, hampir bisa dipastikan lebaran serentak pada Senin (31/3). Kementerian Agama (Kemenag) menerbitkan Surat Edaran khusus menyambut Idul Fitri 2025.

Di dalam surat edaran itu, ada beberapa aspek penting yang dituangkan. Di antaranya adalah pelaksanaan malam takbir dilaksanakan sesuai dengan aturan di tiap-tiap pemerintah daerah. Selain itu, Kemenag juga meminta isi khutbah Idul Fitri tidak bermuatan pesan politik praktis. 

“Umat Islam kami imbau melaksanakan ibadah di sisa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri dengan menyenangkan dan menenangkan,” kata Menag Nasaruddin Umar. Kemudian juga harus sesuai dengan syariat Islam dan menjunjung tinggi nilai toleransi.

Baca Juga :  MK Perintahkan Pemilu Nasional Dipisah Dengan Pemilu Daerah Dikritik

Nasaruddin juga mengingatkan umat Islam untuk menunaikan kewajiban membayar zakat. Khususnya kewajiban zakat fitrah. Bagi Nasaruddin, zakat dan instrumen keuangan keagamaan lainnya seperti infak dan sedekah memiliki peran penting. Khususnya dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.Sementara itu, Wamenag Romo H. R. Muhammad Syafii mendukung tradisi saling memberi di momen Idulfitri.

Termasuk memberikan tunjangan hari raya (THR). Menurutnya, hal itu sudah membudaya sejak zaman dahulu. Namun, Romo Syafii tegas menolak aksi paksa minta THR yang dilakukan pihak manapun.

“Yang saya maksud sebagai budaya kita itu saling memberi, terlebih di Hari Idulfitri. Sejak dulu, kita diajarkan untuk peduli,” sebut Romo Syafii. Sebagai contoh, setiap lebaran, dia siapkan uang khusus untuk diberikan kepada cucu, anak-anak sekitar rumah, dan tetangga yang membutuhkan.

Baca Juga :  Teddy Masih Tersenyum Setelah Divonis Penjara Seumur Hidup

“Ini juga dilakukan sekaligus mendidik anak untuk peduli dan mau berbagi,” sambungnya.Ditegaskan Romo Syafii, memberi adalah hal positif. Puasa juga melatih umat Islam untuk peduli sehingga lahir pribadi-pribadi yang dermawan. “Kedermawanan penting agar harta tidak hanya bergulir di kalangan orang-orang kaya saja. Ada pemerataan,” sebutnya.

Tentang adanya pihak yang meminta, apalagi dengan cara memaksa, Romo Syafii tegas menolaknya. Menurut dia, aksi semacam itu menurutnya tidak baik. “Meminta apalagi dengan memaksa, itu jelas bukan budaya kita. Agama tidak mengajarkan hal itu. Karenanya, tidak seharusnya dilakukan. Kita tolak itu,” tegas Romo Syafii. Dia mengatakan agama mengajarkan untuk memberi, bukan meminta. Tangan di atas jauh lebih baik dari tangan di bawah. (wan/JawaPos.com)

)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya