Saturday, February 28, 2026
28.5 C
Jayapura

Sejumlah Aktivis dari 150 Negara Akan Berlayar ke Gaza

JAKARTA – Sejumlah aktivis internasional kembali meluncurkan sebuah misi flotilla kemanusiaan baru bagi rakyat Palestina, dengan pelayaran ke Jalur Gaza. Misi ini dijadwalkan akan berlangsung pada April mendatang.

“Freedom and Resilience Flotilla akan berlayar dari Barcelona pada 12 April,” kata penyelenggara misi kemanusiaan tersebut, dilansir dari Antara, Kamis (26/2).

Misi flotilla terbaru itu diperkirakan akan melibatkan 100 kapal dengan aktivis yang berasal dari 150 negara. Flotilla dijadwalkan singgah di Italia, Tunisia, dan sejumlah pelabuhan lain di Laut Mediterania sebelum tiba di Gaza.

“Freedom and Resilience Flotilla” menyusul misi fllotilla bantuan kemanusiaan sebelumnya yang pada Oktober 2025 dicegat pasukan Zionis Israel.Para aktivis yang ditangkap saat itu kemudian dideportasi. Kementerian Luar Negeri Turki menyebut langkah Israel itu sebagai “tindak pembajakan” dan menegaskan serangan terhadap aktivis damai sebagai pelanggaran berat hukum internasional.

Baca Juga :  Gerakan Ekonomi, 11 Kampung Peroleh Bantuan Motor 3 Roda

Dalam sebuah konferensi pers di Istanbul, Rabu, juru bicara aktivis Turki Dilek Tekocak menyatakan bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza masih sangat buruk meski di tengah berlakunya gencatan senjata, dengan 477 warga Palestina di wilayah tersebut tewas sepanjang periode tersebut.

JAKARTA – Sejumlah aktivis internasional kembali meluncurkan sebuah misi flotilla kemanusiaan baru bagi rakyat Palestina, dengan pelayaran ke Jalur Gaza. Misi ini dijadwalkan akan berlangsung pada April mendatang.

“Freedom and Resilience Flotilla akan berlayar dari Barcelona pada 12 April,” kata penyelenggara misi kemanusiaan tersebut, dilansir dari Antara, Kamis (26/2).

Misi flotilla terbaru itu diperkirakan akan melibatkan 100 kapal dengan aktivis yang berasal dari 150 negara. Flotilla dijadwalkan singgah di Italia, Tunisia, dan sejumlah pelabuhan lain di Laut Mediterania sebelum tiba di Gaza.

“Freedom and Resilience Flotilla” menyusul misi fllotilla bantuan kemanusiaan sebelumnya yang pada Oktober 2025 dicegat pasukan Zionis Israel.Para aktivis yang ditangkap saat itu kemudian dideportasi. Kementerian Luar Negeri Turki menyebut langkah Israel itu sebagai “tindak pembajakan” dan menegaskan serangan terhadap aktivis damai sebagai pelanggaran berat hukum internasional.

Baca Juga :  Kunker di Biak dan Supiori, Pj Gubernur Serahkan Paket Bantuan

Dalam sebuah konferensi pers di Istanbul, Rabu, juru bicara aktivis Turki Dilek Tekocak menyatakan bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza masih sangat buruk meski di tengah berlakunya gencatan senjata, dengan 477 warga Palestina di wilayah tersebut tewas sepanjang periode tersebut.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya