Berdasarkan Penelitian dan Jurnal Terbaru!
BULAN Ramadhan tidak hanya identik dengan ibadah fisik seperti menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga senja tiba. Lebih dari itu, puasa Ramadhan memberi dampak yang luar biasa bagi kesehatan fisik sekaligus mental seseorang.
Ya, tidak sekadar pengalaman spiritual semata. Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai penelitian dan artikel jurnal ilmiah telah mengeksplorasi bagaimana praktik puasa berdampak positif pada kondisi psikologis, emosi, dan fungsi kognitif.
Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa Ramadhan bisa menjadi momen transformasi batin yang sekaligus meningkatkan kesejahteraan mental secara nyata.
Terlepas dari dimensi religiusnya, puasa Ramadhan telah dikaitkan dengan banyak manfaat psikologis yang terukur, termasuk peningkatan ketahanan terhadap stres, pengaturan emosi yang lebih baik, serta penurunan gejala kecemasan dan depresi.
Penelitian menunjukkan bahwa perubahan pola makan, ritme tidur, serta peningkatan ibadah dan refleksi diri berkontribusi pada peningkatan mood serta perasaan tenang dan puas.
Hal ini menunjukkan bahwa manfaat puasa bukan hanya soal ketahanan fisik, tetapi juga mekanisme pemulihan mental yang bermakna.
Namun, masih banyak orang yang belum menyadari bahwa Ramadhan bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga kesempatan tahunan untuk menyelaraskan pikiran dan tubuh agar berfungsi lebih optimal secara psikologis.
Ketidaktahuan ini sering membuat mereka hanya fokus pada aspek fisik tanpa mengapresiasi manfaat kesehatan mental yang bisa diperoleh dari praktik ini.
Dikutip dari beberapa sumber seperti Alodokter dan Halodoc, inilah tujuh manfaat puasa Ramadhan untuk kesehatan mental berdasarkan bukti ilmiah dan jurnal penelitian terpercaya.