Thursday, February 12, 2026
25.6 C
Jayapura

Mappalette Bola, Tradisi Unik Suku Bugis Pindahkan Rumah Utuh

SURABAYA – Pindah rumah lazimnya identik dengan mengemas barang dan meninggalkan bangunan lama. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi masyarakat Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Mereka memiliki tradisi Mappalette Bola, yakni memindahkan rumah secara utuh ke lokasi baru.

Rumah yang dipindahkan umumnya berupa rumah panggung berbahan kayu. Bangunan ini dirancang tanpa menggunakan paku, melainkan memanfaatkan sistem balok dan tiang. Konstruksi tersebut memungkinkan rumah dipindahkan tanpa harus dibongkar. Tradisi Mappalette Bola biasanya dilakukan saat pemilik rumah berpindah tempat tinggal atau ketika rumah dijual tanpa menyertakan tanahnya.

Sebelum prosesi dimulai, seluruh perabot rumah terlebih dahulu dikeluarkan untuk menghindari kerusakan. Tiang-tiang bawah rumah kemudian dipasangi bambu yang berfungsi sebagai pegangan. Puluhan hingga ratusan warga terlibat dalam proses pemindahan, mencerminkan kuatnya semangat gotong royong.

Baca Juga :  8 Hakim Bakal Adili Sidang Sengketa Pilpres, MK Akan Putuskan Voting 4 vs 4

Terdapat dua teknik dalam pemindahan rumah. Jika jarak lokasi baru relatif dekat, rumah didorong setelah bagian bawahnya dipasangi roda atau ban. Sementara itu, untuk jarak yang lebih jauh, rumah akan diangkat secara bersama-sama menggunakan bambu.

Prosesi dipimpin oleh ketua adat yang bertugas memberi aba-aba dan mengatur langkah warga. Doa bersama juga dipanjatkan sebelum pemindahan dimulai agar proses berjalan lancar. Kaum laki-laki bertugas mengangkat rumah, sedangkan kaum perempuan menyiapkan hidangan bagi warga yang terlibat.

Sebelum pemindahan, disajikan aneka kue tradisional Bugis seperti bandang, baronggo, dan suwella, lengkap dengan teh dan kopi. Setelah rumah tiba di lokasi baru, acara ditutup dengan hidangan berat berupa sup saudara dan olahan ikan bandeng bersaus kacang. Setahun setelah rumah dipindahkan, masyarakat kembali menggelar upacara Maccera Bola. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk tolak bala dengan menyapukan darah ayam pada tiang rumah. Tradisi Mappalette Bola menjadi simbol kuatnya nilai kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat Bugis yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. (ida/fir)

Baca Juga :  Tunjangan Guru PAI Non‑ASN Resmi Dinaikkan jadi Rp2.000.000 per Bulan

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

SURABAYA – Pindah rumah lazimnya identik dengan mengemas barang dan meninggalkan bangunan lama. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi masyarakat Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Mereka memiliki tradisi Mappalette Bola, yakni memindahkan rumah secara utuh ke lokasi baru.

Rumah yang dipindahkan umumnya berupa rumah panggung berbahan kayu. Bangunan ini dirancang tanpa menggunakan paku, melainkan memanfaatkan sistem balok dan tiang. Konstruksi tersebut memungkinkan rumah dipindahkan tanpa harus dibongkar. Tradisi Mappalette Bola biasanya dilakukan saat pemilik rumah berpindah tempat tinggal atau ketika rumah dijual tanpa menyertakan tanahnya.

Sebelum prosesi dimulai, seluruh perabot rumah terlebih dahulu dikeluarkan untuk menghindari kerusakan. Tiang-tiang bawah rumah kemudian dipasangi bambu yang berfungsi sebagai pegangan. Puluhan hingga ratusan warga terlibat dalam proses pemindahan, mencerminkan kuatnya semangat gotong royong.

Baca Juga :  PTDI Hidupkan Kembali CN235 Perkuat Operasi Militer di Papua

Terdapat dua teknik dalam pemindahan rumah. Jika jarak lokasi baru relatif dekat, rumah didorong setelah bagian bawahnya dipasangi roda atau ban. Sementara itu, untuk jarak yang lebih jauh, rumah akan diangkat secara bersama-sama menggunakan bambu.

Prosesi dipimpin oleh ketua adat yang bertugas memberi aba-aba dan mengatur langkah warga. Doa bersama juga dipanjatkan sebelum pemindahan dimulai agar proses berjalan lancar. Kaum laki-laki bertugas mengangkat rumah, sedangkan kaum perempuan menyiapkan hidangan bagi warga yang terlibat.

Sebelum pemindahan, disajikan aneka kue tradisional Bugis seperti bandang, baronggo, dan suwella, lengkap dengan teh dan kopi. Setelah rumah tiba di lokasi baru, acara ditutup dengan hidangan berat berupa sup saudara dan olahan ikan bandeng bersaus kacang. Setahun setelah rumah dipindahkan, masyarakat kembali menggelar upacara Maccera Bola. Ritual ini dilakukan sebagai bentuk tolak bala dengan menyapukan darah ayam pada tiang rumah. Tradisi Mappalette Bola menjadi simbol kuatnya nilai kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat Bugis yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. (ida/fir)

Baca Juga :  Trash Hero Biak Galang Kepedulian Warga Untuk Menjaga Kebersihan Pantai

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q

Berita Terbaru

Artikel Lainnya