Wednesday, May 29, 2024
28.7 C
Jayapura

Buka Muswil Muhammadiyah-Aisyiyah Papua, Ini Amanah Ketum Haedar Nashir

JAYAPURA_Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si., membuka Muswil ke-8 Muhammadiyah dan Aisyiyah Provinsi Papua, Sabtu (18/02/2023), di Aula BPMP Kotaraja, Jayapura, Sabtu (18/2/2023). Haedar menyampaikan amanah, sesaat sebelum membuka Muswil, ditandai dengan penabuhan tifa.

Hadir pada kesempatan ini Analis Kebijakan Pemerintah Provinsi Papua, Drs. Hans Yan Hamadi, M.Si., mewakili Plh. Gubernur Papua, jajaran ForkompimdaPapua, Kepala Kemenag Kota, Dr. H. Abdul Hafid Jusuf, Sekretaris PP Muhammadiyah M. Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., Sekretaris PP Aisyiyah Dr. Atiyatul Ulya, M. Ag, Ketua PW Muhammadiyah Subhan Hafid Massa, Lc., Ketua PW Aisyiyah Papua, beserta masing-masing jajaran serta para peserta Muswil dari unsur Amal Usaha Muhammadiyah dan Organisasi Otonom.

Dalam amanahnya Haedar menyampaikan 6 hal penting. Pertama, Bersyukur pada Allah Swt. dan Berterima Kasih pada Para Mitra yang Telah Membantu Muhammadiyah
Haedar menyatakan rasa syukur pada Allah karena dapat menyelenggarakan Musyawarah Wilayah Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-8. Ia menyampaikan terima kasih pada pemerintah Provinsi dan Kota Jayapura serta seluruh jajaran pemerintahan, jajaran POLRI, TNI dan masyarakat Papua, termasuk para tokoh adat, tokoh masyarakat seluruhnya, yang selama ini telah bekerja sama, bermitra, dan juga membantu dan mendukung gerak Muhammadiyah, Aisyiyah di Papua.

“Kami tidak akan bisa bergerak, termasuk mengembangkan pendidikan dan pelayanan sosial di Papua maupun di Bumi Papua secara keseluruhan, dan di negeri kita Indonesia, jika tanpa dukungan kerja sama, sinergi, kolaborasi, dari pemerintah setempat, dan seluruh kekuatan masyarakat. Dan insyaallah dukungan kerja sama ini semuanya akan kembali untuk kemajuan rakyat, untuk kemajuan masyarakat, dan untuk kemajuan seluruh kawasan Indonesia, termasuk di Bumi Papua”, ucapnya.

Kedua, Muhammadiyah Berdiri Sebagai Usaha Mencerdaskan dan Memajukan Masyarakat dan Bangsa Indonesia, Termasuk di Papua.

Muhammadiyah yang berdiri jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, kata Haedar, tidak lain kehadirannya untuk memberikan usaha-usaha mencerdaskan dan memajukan masyarakat dan bangsa Indonesia, termasuk di Papua. Sehingga, apa yang dilakukan sebenarnya bukan untuk Muhammadiyah, tetapi untuk masyarakat, bangsa dan kemanusiaan.

Baca Juga :  Masih Didominasi Perkara 3C

Dirincikannya, bahwa Muhammadiyah sekarang mempunyai 173 perguruan tinggi termasuk 4 di Papua dan Papua Barat, diantaranya Universitas Muhammadiyah Papua, Universitas Muhammadiyah Sorong, dan Sekolah Tinggi Muhammadiyah di Manokwari. Muhammadiyah mempunyai 122 Rumah Sakit Muhammadiyah. Aisyiyah punya 9 perguruan tinggi. Dengan 3 diantaranya universitas.

“Universitas Aisyiyah di Jogja adalah universitas dan perguruan tinggi, satu satunya yang dikelola oleh organisasi perempuan. Mungkin bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Karena tidak ada organisasi perempuan yang terbesar, dan mendirikan universitas. Siapa tahu ke depan juga di Bumi Papua,” jelas Haedar.

Muhammadiyah, urainya lagi, punya 122 rumah sakit dan sekitar 363 klinik dan balai kesehatan yang juga dikelola oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah. Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah dasar menengah, termasuk pondok pesantren di Indonesia, bahkan sekarang merambah ke luar negeri. Muhammadiyah punya Universitas Muhammadiyah Malaysia dan Muhammadiyah Australia. Aisyiyah punya sekitar 20.000 PAUD dan TK, dengan 7 TK di Papua dari sekitar 20 ribuan. Bahkan Aisyiyah punya TK di Kairo, Mesir.

“Apa yang kami lakukan itu tidak lain untuk mencerdaskan bangsa, sehatkan bangsa, memakmurkan bangsa, mencerahkan bangsa tanpa membeda bedakan agama, suku, ras golongan, bahkan pilihan politik.”ungkapnya.

Ketiga, Muhammadiyah Lahir dari Pandangan Islam Rahmatan Lil ‘Alamiin
Gerakan Muhammadiyah ini, kata Haedar, pertama lahir dari pandangan Islam yang sekarang kemudian sering disebut dengan rahmatan lil ‘alamin. “Itu dasarnya kasih sayang dan pancaran dari rahman Rahim-Nya Allah. Yang Allah itu juga mencintai seluruh mahluk-Nya, baik yang beriman kepada-Nya, atau tidak beriman,” terang Haedar.

Islam, jelasnya, menjadi agama yang membangun peradaban yang utama, peradaban yang luhur, peradaban yang mulia, yang peradaban itu lahir dari nilai-nilai Illahi. Pertama, Islam datang untuk menegakkan agama tauhid kepada Allah, tetapi dari tauhid itu membebaskan manusia dari segala bentuk kejahilan. Kedua, dalam berniaga berekonomi Islam datang dengan cara berniaga yang halal dan baik, dan menentang ekonomi ribawi. Ketiga Islam datang dengan damai dan menegakkan perdamaian. Keempat, Islam datang memuliakan perempuan sebagaimana mulianya laki laki.

Baca Juga :  Komplotan Penjual Miras Dengan Kata Sandi "Ada" Ditangkap

“Poin penting inilah yang disambut oleh Muhammadiyah dan Aisyah. Menghadirkan Islam sebagai agama yang menyebar kebaikan utama yang melintas barat dan Islam sebagai din atau agama yang membawa kemajuan. Dan itulah yang kita sebut sebagai Islam berkemajuan,” demikian ditegaskan Haedar.
Komitmen Muhammadiyah di Papua ke Depan
Dalam konteks Papua, dinilainya memang belum maksimal. “Ya tentu dengan segala keterbatasan. Kami tetap berjuang. Ya alhamdulillah sekarang sudah kelihatan. Di Jayapura tadi saya sampaikan lembaga pendidikan terus berkembang. Insyaallah juga universitasnya terus bertambah. Tetapi apa yang kami lakukan ini akan terus kita lakukan sehingga. Kita kita menghadirkan gerak yang bisa lebih memberi manfaat,” jelasnya.
Ia lantas menyampaikan harapan ke depan untuk bisa mendirikan Rumah Sakit Muhammadiyah dan akan terus berikhtiar supaya terwujud.

Dari Muswil, Pesan Bagi Muhammadiyah di Papua Haedar menyampaikan harapan kepada seluruh warga Muhammadiyah di Papua. Pertama menjadikan muswil ini sebagai model musyawarah wilayah yang bermarwah bermartabat utama, musyawarah mufakat dan tidak ada kegaduhan, tidak ada perselisihan.
Kedua musyawarah wilayah yang suasananya jadi contoh bagi yang lain. Sebagaimana Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di Surakarta. Menurutnya hal ini dikarenakan yang bermusyawarah juga menjadi uswah hasanah, atau teladan yang baik.

Ketiga, Muswil yang berkemajuan. “Dari sini hasilkan keputusan-keputusan terbaik, yang membawa kemajuan Muhammadiyah di Bumi Papua sekaligus memberi manfaat terbaik bagi masyarakat, bagi pemerintah dan seluruh komponen masyarakat bangsa di Bumi Papua tercinta”, demikian harapannya.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sesuai Pemekaran Provinsi Papua
Papua setelah ada pemekaran total akan menjadi 4 (provinsi). Selain Papua kemudian ada Papua Selatan, Papua Tengah dan Papua Pegunungan. Haedar mengharapkan ada rekomendasi dan keputusan dari Musyawarah Wilayah, walau belum bisa membentuk kepengurusan baru, namun ada rekomendasi dan keputusan berdirinya pimpinan wilayah di 4 provinsi yang ada. (*/tri)

JAYAPURA_Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si., membuka Muswil ke-8 Muhammadiyah dan Aisyiyah Provinsi Papua, Sabtu (18/02/2023), di Aula BPMP Kotaraja, Jayapura, Sabtu (18/2/2023). Haedar menyampaikan amanah, sesaat sebelum membuka Muswil, ditandai dengan penabuhan tifa.

Hadir pada kesempatan ini Analis Kebijakan Pemerintah Provinsi Papua, Drs. Hans Yan Hamadi, M.Si., mewakili Plh. Gubernur Papua, jajaran ForkompimdaPapua, Kepala Kemenag Kota, Dr. H. Abdul Hafid Jusuf, Sekretaris PP Muhammadiyah M. Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D., Sekretaris PP Aisyiyah Dr. Atiyatul Ulya, M. Ag, Ketua PW Muhammadiyah Subhan Hafid Massa, Lc., Ketua PW Aisyiyah Papua, beserta masing-masing jajaran serta para peserta Muswil dari unsur Amal Usaha Muhammadiyah dan Organisasi Otonom.

Dalam amanahnya Haedar menyampaikan 6 hal penting. Pertama, Bersyukur pada Allah Swt. dan Berterima Kasih pada Para Mitra yang Telah Membantu Muhammadiyah
Haedar menyatakan rasa syukur pada Allah karena dapat menyelenggarakan Musyawarah Wilayah Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-8. Ia menyampaikan terima kasih pada pemerintah Provinsi dan Kota Jayapura serta seluruh jajaran pemerintahan, jajaran POLRI, TNI dan masyarakat Papua, termasuk para tokoh adat, tokoh masyarakat seluruhnya, yang selama ini telah bekerja sama, bermitra, dan juga membantu dan mendukung gerak Muhammadiyah, Aisyiyah di Papua.

“Kami tidak akan bisa bergerak, termasuk mengembangkan pendidikan dan pelayanan sosial di Papua maupun di Bumi Papua secara keseluruhan, dan di negeri kita Indonesia, jika tanpa dukungan kerja sama, sinergi, kolaborasi, dari pemerintah setempat, dan seluruh kekuatan masyarakat. Dan insyaallah dukungan kerja sama ini semuanya akan kembali untuk kemajuan rakyat, untuk kemajuan masyarakat, dan untuk kemajuan seluruh kawasan Indonesia, termasuk di Bumi Papua”, ucapnya.

Kedua, Muhammadiyah Berdiri Sebagai Usaha Mencerdaskan dan Memajukan Masyarakat dan Bangsa Indonesia, Termasuk di Papua.

Muhammadiyah yang berdiri jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, kata Haedar, tidak lain kehadirannya untuk memberikan usaha-usaha mencerdaskan dan memajukan masyarakat dan bangsa Indonesia, termasuk di Papua. Sehingga, apa yang dilakukan sebenarnya bukan untuk Muhammadiyah, tetapi untuk masyarakat, bangsa dan kemanusiaan.

Baca Juga :  UU Cipta Kerja Mempercepat Akselerasi Ekonomi

Dirincikannya, bahwa Muhammadiyah sekarang mempunyai 173 perguruan tinggi termasuk 4 di Papua dan Papua Barat, diantaranya Universitas Muhammadiyah Papua, Universitas Muhammadiyah Sorong, dan Sekolah Tinggi Muhammadiyah di Manokwari. Muhammadiyah mempunyai 122 Rumah Sakit Muhammadiyah. Aisyiyah punya 9 perguruan tinggi. Dengan 3 diantaranya universitas.

“Universitas Aisyiyah di Jogja adalah universitas dan perguruan tinggi, satu satunya yang dikelola oleh organisasi perempuan. Mungkin bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Karena tidak ada organisasi perempuan yang terbesar, dan mendirikan universitas. Siapa tahu ke depan juga di Bumi Papua,” jelas Haedar.

Muhammadiyah, urainya lagi, punya 122 rumah sakit dan sekitar 363 klinik dan balai kesehatan yang juga dikelola oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah. Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah dasar menengah, termasuk pondok pesantren di Indonesia, bahkan sekarang merambah ke luar negeri. Muhammadiyah punya Universitas Muhammadiyah Malaysia dan Muhammadiyah Australia. Aisyiyah punya sekitar 20.000 PAUD dan TK, dengan 7 TK di Papua dari sekitar 20 ribuan. Bahkan Aisyiyah punya TK di Kairo, Mesir.

“Apa yang kami lakukan itu tidak lain untuk mencerdaskan bangsa, sehatkan bangsa, memakmurkan bangsa, mencerahkan bangsa tanpa membeda bedakan agama, suku, ras golongan, bahkan pilihan politik.”ungkapnya.

Ketiga, Muhammadiyah Lahir dari Pandangan Islam Rahmatan Lil ‘Alamiin
Gerakan Muhammadiyah ini, kata Haedar, pertama lahir dari pandangan Islam yang sekarang kemudian sering disebut dengan rahmatan lil ‘alamin. “Itu dasarnya kasih sayang dan pancaran dari rahman Rahim-Nya Allah. Yang Allah itu juga mencintai seluruh mahluk-Nya, baik yang beriman kepada-Nya, atau tidak beriman,” terang Haedar.

Islam, jelasnya, menjadi agama yang membangun peradaban yang utama, peradaban yang luhur, peradaban yang mulia, yang peradaban itu lahir dari nilai-nilai Illahi. Pertama, Islam datang untuk menegakkan agama tauhid kepada Allah, tetapi dari tauhid itu membebaskan manusia dari segala bentuk kejahilan. Kedua, dalam berniaga berekonomi Islam datang dengan cara berniaga yang halal dan baik, dan menentang ekonomi ribawi. Ketiga Islam datang dengan damai dan menegakkan perdamaian. Keempat, Islam datang memuliakan perempuan sebagaimana mulianya laki laki.

Baca Juga :  Komplotan Penjual Miras Dengan Kata Sandi "Ada" Ditangkap

“Poin penting inilah yang disambut oleh Muhammadiyah dan Aisyah. Menghadirkan Islam sebagai agama yang menyebar kebaikan utama yang melintas barat dan Islam sebagai din atau agama yang membawa kemajuan. Dan itulah yang kita sebut sebagai Islam berkemajuan,” demikian ditegaskan Haedar.
Komitmen Muhammadiyah di Papua ke Depan
Dalam konteks Papua, dinilainya memang belum maksimal. “Ya tentu dengan segala keterbatasan. Kami tetap berjuang. Ya alhamdulillah sekarang sudah kelihatan. Di Jayapura tadi saya sampaikan lembaga pendidikan terus berkembang. Insyaallah juga universitasnya terus bertambah. Tetapi apa yang kami lakukan ini akan terus kita lakukan sehingga. Kita kita menghadirkan gerak yang bisa lebih memberi manfaat,” jelasnya.
Ia lantas menyampaikan harapan ke depan untuk bisa mendirikan Rumah Sakit Muhammadiyah dan akan terus berikhtiar supaya terwujud.

Dari Muswil, Pesan Bagi Muhammadiyah di Papua Haedar menyampaikan harapan kepada seluruh warga Muhammadiyah di Papua. Pertama menjadikan muswil ini sebagai model musyawarah wilayah yang bermarwah bermartabat utama, musyawarah mufakat dan tidak ada kegaduhan, tidak ada perselisihan.
Kedua musyawarah wilayah yang suasananya jadi contoh bagi yang lain. Sebagaimana Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di Surakarta. Menurutnya hal ini dikarenakan yang bermusyawarah juga menjadi uswah hasanah, atau teladan yang baik.

Ketiga, Muswil yang berkemajuan. “Dari sini hasilkan keputusan-keputusan terbaik, yang membawa kemajuan Muhammadiyah di Bumi Papua sekaligus memberi manfaat terbaik bagi masyarakat, bagi pemerintah dan seluruh komponen masyarakat bangsa di Bumi Papua tercinta”, demikian harapannya.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sesuai Pemekaran Provinsi Papua
Papua setelah ada pemekaran total akan menjadi 4 (provinsi). Selain Papua kemudian ada Papua Selatan, Papua Tengah dan Papua Pegunungan. Haedar mengharapkan ada rekomendasi dan keputusan dari Musyawarah Wilayah, walau belum bisa membentuk kepengurusan baru, namun ada rekomendasi dan keputusan berdirinya pimpinan wilayah di 4 provinsi yang ada. (*/tri)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya