JAYAPURA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura memprediksi cuaca ekstrem dengan hujan ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Papua selama 16–22 Maret 2026.
Untuk cuaca pada pelaksanaan Salat Idul Fitri, BMKG memprediksi pada tanggal 20 – 22 Maret 2026: Cuaca umumnya cerah berawan hingga berawan, dengan potensi hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, Sarmi, Mamberamo Raya dan Waropen.
“Secara umum, pola curah hujan di Provinsi Papua dipengaruhi oleh Angin Monsun, sehingga intensitas hujan cenderung meningkat pada periode Monsun Barat/Asia yang membawa banyak massa udara lembap ke wilayah Papua yang saat ini sedang berlangsung,” jelas Finnyalia Napitupulu, Ketua Tim Meteorologi Publik BMKG Papua, Senin (16/3).
Lanjut Finnyalia mengatakan pada periode Monsun Asia saat ini, potensi peningkatan intensitas hujan cukup tinggi di sebagian besar wilayah Papua dan dapat disertai kilat/petir serta angin kencang. Kondisi tersebut dipicu oleh peningkatan pemanasan permukaan yang mendorong pertumbuhan awan Cumulonimbus (awan badai).
Kondisi ini juga terjadi karena anomali suhu muka laut di perairan utara Papua terpantau berada pada kondisi positif, yang berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan di wilayah utara Provinsi Papua.
Selain itu, pantauan pola angin menunjukkan adanya daerah belokan dan konfluensi angin di wilayah utara Papua yang dapat meningkatkan intensitas curah hujan.
JAYAPURA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura memprediksi cuaca ekstrem dengan hujan ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Papua selama 16–22 Maret 2026.
Untuk cuaca pada pelaksanaan Salat Idul Fitri, BMKG memprediksi pada tanggal 20 – 22 Maret 2026: Cuaca umumnya cerah berawan hingga berawan, dengan potensi hujan sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, Sarmi, Mamberamo Raya dan Waropen.
“Secara umum, pola curah hujan di Provinsi Papua dipengaruhi oleh Angin Monsun, sehingga intensitas hujan cenderung meningkat pada periode Monsun Barat/Asia yang membawa banyak massa udara lembap ke wilayah Papua yang saat ini sedang berlangsung,” jelas Finnyalia Napitupulu, Ketua Tim Meteorologi Publik BMKG Papua, Senin (16/3).
Lanjut Finnyalia mengatakan pada periode Monsun Asia saat ini, potensi peningkatan intensitas hujan cukup tinggi di sebagian besar wilayah Papua dan dapat disertai kilat/petir serta angin kencang. Kondisi tersebut dipicu oleh peningkatan pemanasan permukaan yang mendorong pertumbuhan awan Cumulonimbus (awan badai).
Kondisi ini juga terjadi karena anomali suhu muka laut di perairan utara Papua terpantau berada pada kondisi positif, yang berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan di wilayah utara Provinsi Papua.
Selain itu, pantauan pola angin menunjukkan adanya daerah belokan dan konfluensi angin di wilayah utara Papua yang dapat meningkatkan intensitas curah hujan.