NABIRE – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang disertai dengan penerapan sistem pengisian BBM ganjil-genap di Kabupaten Nabire mulai dirasakan dampaknya oleh para tukang ojek. Selain biaya operasional yang meningkat, mereka juga mengaku kesempatan mencari nafkah semakin berkurang karena tidak bisa mengisi BBM setiap hari.
Meski berada dalam kondisi sulit, para tukang ojek di Pangkalan Ojek Pasar Karang memilih tidak menaikkan tarif. Mereka mengaku lebih mengutamakan masyarakat kecil, terutama para pedagang pasar, yang juga sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Salah seorang tukang ojek di pasar karang Nabire, Abdul Fatah, mengatakan hingga kini dirinya masih mempertahankan tarif lama meski harga BBM naik. Menurutnya, sebagian besar penumpang merupakan mama-mama Papua dan pedagang pasar yang setiap hari menggantungkan hidup dari hasil jualan.
“Mana ada yang naik. Saya tidak pernah naikkan ongkos. Kadang penumpang bayar kurang juga saya terima. Orang-orang di sini kebanyakan jualan setiap hari. Kadang dagangan mereka tidak laku, jadi saya kasihan juga. Lebih baik tetap pakai tarif biasa. Kalau penumpang kasih lebih saya terima, kalau kurang juga tetap saya ambil,” ujarnya saat ditemui di Pangkalan Ojek Pasar Karang, Senin (29/6).
Meski tidak menaikkan tarif, Abdul mengaku para tukang ojek kini menghadapi tantangan yang jauh lebih berat akibat kebijakan pengisian BBM dengan sistem ganjil-genap di SPBU.
“Kalau hari ini jadwal ganjil, besok genap. Artinya kalau saya isi BBM hari ini, besok saya tidak bisa isi lagi dan harus tunggu lusa. Kondisi ini yang buat kami berat karena tidak bisa narik ojek setiap hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Menurut Abdul, kebijakan tersebut membuat penghasilan para tukang ojek semakin menurun. Sementara itu, biaya hidup tetap harus dipenuhi setiap hari, mulai dari membeli BBM, makan, hingga kebutuhan keluarga. Ia juga mengaku tidak jarang menghadapi penumpang yang membayar ongkos di bawah tarif, bahkan ada yang tidak membayar sama sekali.
Keluhan senada disampaikan tukang ojek lainnya di Pasar Karang, Herru Keiya. Ia mengatakan para tukang ojek sebenarnya bisa saja menaikkan tarif mengikuti kenaikan harga BBM. Namun, rasa iba kepada masyarakat membuat mereka tetap menerima ongkos berapa pun yang mampu dibayar penumpang.
“Kasihan juga mama-mama yang jualan. Uangnya pas-pasan. Kalau kita minta Rp15 ribu, mereka bilang semua sudah naik karena BBM. Jadi mau jauh atau dekat, kalau mereka cuma mampu bayar Rp5 ribu ya kita terima saja,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya menerapkan kebijakan, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat kecil yang menggantungkan hidup sebagai tukang ojek . Menurutnya, banyak kepala keluarga di Nabire yang hanya mengandalkan penghasilan dari menarik ojek setiap hari. (tft/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q