SENTANI – Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Sentani, Hariyati Sokoy, menjelaskan aksi mogok mengajar yang dilakukan para guru merupakan bentuk tuntutan atas hak yang hingga kini belum dibayarkan, meski kewajiban sebagai pendidik telah dijalankan.
Menurutnya, para guru selama ini tetap melaksanakan tugas mendidik dan membimbing siswa. Namun karena hak belum diterima, mereka sepakat melakukan aksi mogok hingga ada realisasi pembayaran.
“Artinya selama ini mereka sudah melaksanakan kewajiban sebagai guru, tetapi hak mereka belum terbayarkan sehingga kami guru-guru menunjukkan aksi mogok mengajar,” ujarnya, Kamis (26/2).
Ia menjelaskan, selama aksi berlangsung, siswa tetap datang ke sekolah. Namun tidak ada aktivitas pembelajaran di kelas. Pihak sekolah tetap melakukan pengawasan dengan mengarahkan siswa membersihkan kelas dan menunggu pembagian makanan bergizi (MBG), setelah itu, siswa dipulangkan.
“Kami tetap mengontrol anak-anak. Setelah mendapatkan MBG, siswa dipulangkan sambil menunggu sampai hak guru dibayarkan dan aktivitas pembelajaran kembali normal,” katanya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sentani, Murni mengakui mogok belajar berdampak pada proses pembelajaran siswa. Jadwal dan target materi yang telah disusun sekolah menjadi terhambat.
“Yang jelas anak-anak kasihan karena tidak mendapatkan pembelajaran. Padahal jadwal sudah berjalan dan materi seharusnya sudah selesai satu bab,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk upaya agar hak-hak guru mendapat perhatian serius. Menurutnya, persoalan keterlambatan pembayaran bukan kali pertama terjadi.