alexametrics
27.6 C
Jayapura
Saturday, May 21, 2022

Terdapat 110 Batu Berdiri Berbentuk Lonjong dengan Ukuran Bervariasi

Mengunjungi Situs Praserajah Bukit Tutari di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu 

MENGAMBAR-Dua siswa terlihat serius menggambar Situs Tutari di atas Bukit Tutari, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Jumat (22/11). ( FOTO : Yewen/Cepos)

Situs Megalitik Tutari adalah salah satu situs praserajarah yang menyimpan berbagai peningalan prasejarah di Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura. Apa saja situs prasejarah yang berada di Bukit Tutari?

Laporan: Roberth Yewen- Sentani

Situs Megalitik Tutari adalah sebuah tempat bersejarah yang menyimpan berbagai pradaban dan kebudayaan masyarakat yang berada di pnggir Dnau Sentani pada masa prasejarah, tepatnya pada zaman neolitik akhir. Situs Tutari sendiri berada di atas Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu Kabupaten Jayapura.

Untuk melihat Situs Tutari dan segala peninggalan yang berada di atas, maka kita membutuhkan waktu kurang lebih 15-30 menit untuk mengunjungi segala peninggalan yang berada di atas mulai dari sektor pertama sampai dengan sektor keenam. Sektor-sektor ini sendiri telah dibuat oleh Balai Arkeologi Papua.

Dari sektor pertama sampai sektor keenam Situs Tutari, para pengunjung akan menemukan batu lukis, batu bongkahan berbentuk arca, batu berbaris dan menhir atau batu berdiri. Peninggalan ini sendiri telah berada pada zaman prasejarah.

Baca Juga :  Polisi Keluarkan DPO

“Situs ini diberi nama Tutari, karena berada di Bukit Tutari. Konon suku yang pernah mendiami wilayah sekitar situs ini adalah Suku Tutari. Suku ini memperoleh makanan dengan berburu, menangkap ikan, berternak, dan bercocok tanam,” ungkap Pegawai Arkeologi Papua, Hari Suroto kepada Cenderawasih Pos di Bukit Tutari Kampung Doyo Lama Distrik Waibu Kabupaten Jayapura, Jumat (22/11).

Saat mengunjungi Situs Tutari, terlihat beberapa siswa dan beberapa mahasiswa dengan serius menggambar berbagai situs yang tersedia melalui kertas maupun kulit kayu yang tersedia. Para siswa dirangsang untuk menggambar agar tetap mengingat prasejarah yang berada di Situs Tutari.

Suroto menjelaskan, pihaknya dari Balai Arkeologi mengelompokkan peninggalan di situs ini menjadi enam sektor. Di sektor pertama terdapat motif ikan dan kadal, sektor kedua terdapat motif ikan dan motif geometris, sektor ketiga terdapat motif ikan, kadal, geometris, kura-kura, sektor empat terdapat motif ikan, kadal, geometris, motif lingkaran-lingkaran berjumlah 18 buah yang dihubungkan oleh sebuah garis, kura-kura, manusia dan flora batu makhluk gaib berada di sektor IV. 

Baca Juga :  Jelang Porkab, Bupati Lantik Kolektif Pengcab Olahraga

“Bongkahan-bongkahan batu ini masing-masing berbentuk menyerupai kepala, leher dan badan. Berjumlah empat. Keempat batu ini dipercaya sebagai representasi empat panglima perang ondoafi Uii Marweri yang mengalahkan Suku Tutari. Batu berbaris adalah sektor kelima,” jelasnya.

Lebih lanjut Suroto, menyampaikan,  batu ini membentuk dua barisan dengan orientasi memanjang antara Barat Laut dan Timur Daya. Batu ini dipercaya sebagai jalan penghubung antara dunia manusia dan alam tempat roh nenek moyang bersemayam. Pada sektor keenam merupakan loksi situs paling tinggi. Pada masa prasejarah, tempat paling tinggi dipercaya sebagai paling sakral dan suci. 

Di sini ada 110 batu berdiri yang ditopang batu-batu kecil. Batu-batu ini berbentuk lonjong dengan ukuran bervariasi.

“Dipercaya sebagai tempat bersemayam roh nenek moyang,” ucapnya.

Potensi budaya Situs Tutari merupakan simbol-simbol budaya yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai budaya tersebut dapat menjadi sumber pembentukan karakter bangsa yang patut diketahui dan dipahami untuk memupuk rasa kebanggaan dan semangat memajukan bangsa. (*)

Mengunjungi Situs Praserajah Bukit Tutari di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu 

MENGAMBAR-Dua siswa terlihat serius menggambar Situs Tutari di atas Bukit Tutari, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Jumat (22/11). ( FOTO : Yewen/Cepos)

Situs Megalitik Tutari adalah salah satu situs praserajarah yang menyimpan berbagai peningalan prasejarah di Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura. Apa saja situs prasejarah yang berada di Bukit Tutari?

Laporan: Roberth Yewen- Sentani

Situs Megalitik Tutari adalah sebuah tempat bersejarah yang menyimpan berbagai pradaban dan kebudayaan masyarakat yang berada di pnggir Dnau Sentani pada masa prasejarah, tepatnya pada zaman neolitik akhir. Situs Tutari sendiri berada di atas Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu Kabupaten Jayapura.

Untuk melihat Situs Tutari dan segala peninggalan yang berada di atas, maka kita membutuhkan waktu kurang lebih 15-30 menit untuk mengunjungi segala peninggalan yang berada di atas mulai dari sektor pertama sampai dengan sektor keenam. Sektor-sektor ini sendiri telah dibuat oleh Balai Arkeologi Papua.

Dari sektor pertama sampai sektor keenam Situs Tutari, para pengunjung akan menemukan batu lukis, batu bongkahan berbentuk arca, batu berbaris dan menhir atau batu berdiri. Peninggalan ini sendiri telah berada pada zaman prasejarah.

Baca Juga :  Andika: Jangan Hanya Taat Aturan Saat Ada Polisi

“Situs ini diberi nama Tutari, karena berada di Bukit Tutari. Konon suku yang pernah mendiami wilayah sekitar situs ini adalah Suku Tutari. Suku ini memperoleh makanan dengan berburu, menangkap ikan, berternak, dan bercocok tanam,” ungkap Pegawai Arkeologi Papua, Hari Suroto kepada Cenderawasih Pos di Bukit Tutari Kampung Doyo Lama Distrik Waibu Kabupaten Jayapura, Jumat (22/11).

Saat mengunjungi Situs Tutari, terlihat beberapa siswa dan beberapa mahasiswa dengan serius menggambar berbagai situs yang tersedia melalui kertas maupun kulit kayu yang tersedia. Para siswa dirangsang untuk menggambar agar tetap mengingat prasejarah yang berada di Situs Tutari.

Suroto menjelaskan, pihaknya dari Balai Arkeologi mengelompokkan peninggalan di situs ini menjadi enam sektor. Di sektor pertama terdapat motif ikan dan kadal, sektor kedua terdapat motif ikan dan motif geometris, sektor ketiga terdapat motif ikan, kadal, geometris, kura-kura, sektor empat terdapat motif ikan, kadal, geometris, motif lingkaran-lingkaran berjumlah 18 buah yang dihubungkan oleh sebuah garis, kura-kura, manusia dan flora batu makhluk gaib berada di sektor IV. 

Baca Juga :  Pembangunan Trotoar Dinilai Semrawut

“Bongkahan-bongkahan batu ini masing-masing berbentuk menyerupai kepala, leher dan badan. Berjumlah empat. Keempat batu ini dipercaya sebagai representasi empat panglima perang ondoafi Uii Marweri yang mengalahkan Suku Tutari. Batu berbaris adalah sektor kelima,” jelasnya.

Lebih lanjut Suroto, menyampaikan,  batu ini membentuk dua barisan dengan orientasi memanjang antara Barat Laut dan Timur Daya. Batu ini dipercaya sebagai jalan penghubung antara dunia manusia dan alam tempat roh nenek moyang bersemayam. Pada sektor keenam merupakan loksi situs paling tinggi. Pada masa prasejarah, tempat paling tinggi dipercaya sebagai paling sakral dan suci. 

Di sini ada 110 batu berdiri yang ditopang batu-batu kecil. Batu-batu ini berbentuk lonjong dengan ukuran bervariasi.

“Dipercaya sebagai tempat bersemayam roh nenek moyang,” ucapnya.

Potensi budaya Situs Tutari merupakan simbol-simbol budaya yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai budaya tersebut dapat menjadi sumber pembentukan karakter bangsa yang patut diketahui dan dipahami untuk memupuk rasa kebanggaan dan semangat memajukan bangsa. (*)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/