Saturday, April 5, 2025
28.7 C
Jayapura

Bertahap, Pemkab Asmat Bangun Jalan Jembatan dengan Kontruksi Baja

MERAUKE–Pemerintah Kabupaten Asmat secara bertahap membangun jalan jembatan di Asmat  tidak lagi menggunakan kayu besi seperti yang dilakukan selama ini, namun dengan menggunakan kontruksi baja dan beton.

Bupati Asmat, Elisa Kambu mengungkapkan, sampai sekarang ini panjang jalan di Asmat yang sudah menggunakan kontruksi baja dan beton lebih dari 25  kilometer yang  dibangun tidak hanya di ibukota kabupaten, namun juga di distrik-distrik.

‘’Sampai sekarang, panjang jalan jembatan dengan menggunakan kontruksi baja dan beton lebih dari 230 kilometer,’’ kata Bupati Asmat Elisa Kambu, S.Sos, kepada Cenderawaih Pos, baru-baru ini. 

Untuk distrik yang juga sudah dibangun jalan jembatan dengan kontruksi beton tersebjut adalah Distrik Atsj sekitar 5 kilomdeter, Payit 4 kilometer, Suator  1 kilometer, Akat 1,1 kilometer, Sawaerma 1,2 kilometer dan Distrik Safaan 1,4 kilometer.

Baca Juga :  Seorang ABK KMN Nur Falaah Ditemukan Tak Bernyawa

Dikatakan, ada 4  jenis konstruksi di Asmat. Untuk kontruksi jenis pancang baja biayanya sebesar Rp 46 juta permeter lari x lebar 3 meter. Sehingga untuk membangun 1 kilometer jalan dengan lebar 3 meter menggunakan tiang pancang baja menghabiskan Rp 46 miliar. 

Sementara untuk kontruksi tiang pancang beton biayanya Rp 23 juta permeter lari dengan lebar 3 meter atau sekitar Rp 23 miliar perkilometer.  ‘’Dan kalau tidak demikian, maka hutan kayu di Asmat akan habis. Apalagi, saat ini kayu yang ada hampir muda semua sehingga kalau dipakai untuk  jalan jembatan paling bertahan sekitar 3 tahun sudah rusak. Memang kayu besi masih ada, tapi tinggal muda-mudanya dan ukuran kecil.

Baca Juga :  Dari 51 Izin Lokasi di Tahun 2007-2008, Kini  Tersisa 23 Perusahaan

Sementara kayu yang sudah tua-tua tidak ada lagi, sehingga mau tidak mau kita harus bangun jalan jembatan dengan konstruksi baja atau beton untuk mengurangi pemakaian kayu,’’ terangnya.

Namun begitu, jelas Elisa Kambu, masih ada jalan jembatan yang dibangun dengan menggunakan konstruksi kayu. Namun untuk bisa bertahan 10-15 tahun kedepan pihaknya menggunakan koridor atau atap. Selain jalan jembatan tersebut, lanjut Bupati Elisa Kambu, pihaknya juga mulai membangun fasilitas pemerintah dengan menggunakan tiang dan lantai beton.

Sedangkan bagian ke atas menggunakan kayu. ‘’Untuk RSUD Asmat yang ada di Agats, kita pakai  kontruksi beton. Semua itu karena kebutuhan, bukan karena keinginan,’’ pungkasnya.(ulo/tho)  

MERAUKE–Pemerintah Kabupaten Asmat secara bertahap membangun jalan jembatan di Asmat  tidak lagi menggunakan kayu besi seperti yang dilakukan selama ini, namun dengan menggunakan kontruksi baja dan beton.

Bupati Asmat, Elisa Kambu mengungkapkan, sampai sekarang ini panjang jalan di Asmat yang sudah menggunakan kontruksi baja dan beton lebih dari 25  kilometer yang  dibangun tidak hanya di ibukota kabupaten, namun juga di distrik-distrik.

‘’Sampai sekarang, panjang jalan jembatan dengan menggunakan kontruksi baja dan beton lebih dari 230 kilometer,’’ kata Bupati Asmat Elisa Kambu, S.Sos, kepada Cenderawaih Pos, baru-baru ini. 

Untuk distrik yang juga sudah dibangun jalan jembatan dengan kontruksi beton tersebjut adalah Distrik Atsj sekitar 5 kilomdeter, Payit 4 kilometer, Suator  1 kilometer, Akat 1,1 kilometer, Sawaerma 1,2 kilometer dan Distrik Safaan 1,4 kilometer.

Baca Juga :  Jalin Sinergitas, TNI dan  Polri Laksanakan Patroli dan Razia Miras Lokal 

Dikatakan, ada 4  jenis konstruksi di Asmat. Untuk kontruksi jenis pancang baja biayanya sebesar Rp 46 juta permeter lari x lebar 3 meter. Sehingga untuk membangun 1 kilometer jalan dengan lebar 3 meter menggunakan tiang pancang baja menghabiskan Rp 46 miliar. 

Sementara untuk kontruksi tiang pancang beton biayanya Rp 23 juta permeter lari dengan lebar 3 meter atau sekitar Rp 23 miliar perkilometer.  ‘’Dan kalau tidak demikian, maka hutan kayu di Asmat akan habis. Apalagi, saat ini kayu yang ada hampir muda semua sehingga kalau dipakai untuk  jalan jembatan paling bertahan sekitar 3 tahun sudah rusak. Memang kayu besi masih ada, tapi tinggal muda-mudanya dan ukuran kecil.

Baca Juga :  Antisipasi Musibah, BPBD Merauke Siapkan Tim Evakuasi 

Sementara kayu yang sudah tua-tua tidak ada lagi, sehingga mau tidak mau kita harus bangun jalan jembatan dengan konstruksi baja atau beton untuk mengurangi pemakaian kayu,’’ terangnya.

Namun begitu, jelas Elisa Kambu, masih ada jalan jembatan yang dibangun dengan menggunakan konstruksi kayu. Namun untuk bisa bertahan 10-15 tahun kedepan pihaknya menggunakan koridor atau atap. Selain jalan jembatan tersebut, lanjut Bupati Elisa Kambu, pihaknya juga mulai membangun fasilitas pemerintah dengan menggunakan tiang dan lantai beton.

Sedangkan bagian ke atas menggunakan kayu. ‘’Untuk RSUD Asmat yang ada di Agats, kita pakai  kontruksi beton. Semua itu karena kebutuhan, bukan karena keinginan,’’ pungkasnya.(ulo/tho)  

Berita Terbaru

Artikel Lainnya