“Saya sudah minta ijin kepada orang di kampung untuk memaparkan proses Werakma ini dalam ujian skripsi saya. Ini sakral dan tidak sembarangan makanya saya harus ijin,” ujar Miki saat ditemui di KedIAMan, Entrop, belum lama ini.
Dalam prosesi pembakaran jenasah atau transisi ke alam lain itu Miki menghadirkan orang yang dituakan dan juga puluhan anak muda asal Jayawijaya. Tim kecil ini yang menyiapkan semua perlengkapan karena ada proses bakar batu. Tim ini menyiapkan kayu untuk membakar jenasah kemudian lubang untuk bakar batu sekaligus isian dalam bakar batu itu.
Yang membedakan pada proses bakar batu umumnya adalah pada Werakma tidak menggunakan daging seperti babi atau ayam. Yang menjadi isian bakar batu hanyalah ubi dan sayur. Ini juga untuk menghormati jenazah dan keluarga duka karena daging identik dengan kehidupan dan pesta sementra suasana yang terjadi adalah kematian dan duka. Sedikit mirip pesta bakar batu namun pesan yang dibawa adalah duka.
Selain proses pembakaran jenazah dan bakar batu, Miki juga memvisualisasikan skripsinya lewat tayangan film dokumenter. Miki mengaku tidak merencanakan ini namun karena setiap pulang ke kampung ia mencoba merekam semua perjalanannya menggunakan Hp sederhana. Kadang juga ia memakai kamera DSLR yang masih semi pro. Miki merekam semuanya sejak tahun 2019 lalu. Momentum dan potongan dokumen lama itulah yang kemudian dijahit menjadi film dokumenter.