”Kita tidak bisa melupakan beliau. Ini harus dikenang dengan penuh kasih sayang. Saya rasa kemenangan hari ini kami dedikasikan untuk Michael dan seluruh keluarga Hartono,” ucap Fabregas. Kemenangan ini juga memperlihatkan performa impresif Como yang tampil dominan sepanjang laga. Namun di balik pesta gol tersebut, terselip pesan emosional yang memperlihatkan sisi lain dari sepak bola bahwa di luar persaingan di lapangan, ada nilai kebersamaan dan penghormatan yang tetap dijunjung tinggi.
Gestur sederhana Fabregas menjadi simbol bahwa kemenangan bisa memiliki arti lebih dalam. Bagi Como, hasil ini bukan sekadar angka di papan skor, tetapi juga penghormatan bagi sosok yang telah membantu membangun fondasi klub menuju masa depan. Wafatnya Michael Bambang Hartono juga membuka tabir kekuatan bisnis yang ia bangun selama puluhan tahun.
Di balik sosoknya yang dikenal sederhana, tersimpan jaringan usaha bernilai ratusan triliun rupiah yang mengakar kuat di berbagai sektor strategis Indonesia. Kerajaan bisnis keluarga Hartono berawal dari PT Djarum, produsen rokok kretek yang berkembang menjadi salah satu pemain terbesar di Tanah Air.
Dari sektor inilah fondasi kekayaan dibangun—stabil, konsisten, dan mampu bertahan lintas generasi. Namun kekuatan Hartono tidak berhenti di industri tembakau. Justru dari sinilah ekspansi besar dimulai. Momentum krisis Asia 1997–1998 menjadi titik balik penting. Melalui akuisisi saham Bank Central Asia (BCA), keluarga Hartono masuk ke sektor keuangan dan menjadikannya sebagai mesin utama pertumbuhan kekayaan.
Hingga kini, BCA menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia dengan profitabilitas tinggi. Kepemilikan di sektor ini membuat kekayaan Hartono melonjak signifikan dan stabil di tengah dinamika ekonomi global. Tidak berhenti di sektor konvensional, Hartono juga membaca arah masa depan. Melalui Global Digital Niaga, mereka mengembangkan bisnis e-commerce lewat platform Blibli. Langkah ini diperkuat dengan aksi Initial Public Offering (IPO) pada 2022 yang berhasil menghimpun dana besar dan mempertegas posisi mereka di ekonomi digital.
Di sisi lain, jaringan bisnis juga merambah infrastruktur melalui Sarana Menara Nusantara (TOWR), yang mengelola ribuan menara telekomunikasi—aset vital di era konektivitas. Portofolio Hartono semakin luas dengan masuk ke sektor properti premium dan elektronik melalui merek Polytron. Bahkan, sejak 2025, Polytron mulai masuk ke industri kendaraan listrik—menandai adaptasi terhadap tren global energi bersih.
”Kita tidak bisa melupakan beliau. Ini harus dikenang dengan penuh kasih sayang. Saya rasa kemenangan hari ini kami dedikasikan untuk Michael dan seluruh keluarga Hartono,” ucap Fabregas. Kemenangan ini juga memperlihatkan performa impresif Como yang tampil dominan sepanjang laga. Namun di balik pesta gol tersebut, terselip pesan emosional yang memperlihatkan sisi lain dari sepak bola bahwa di luar persaingan di lapangan, ada nilai kebersamaan dan penghormatan yang tetap dijunjung tinggi.
Gestur sederhana Fabregas menjadi simbol bahwa kemenangan bisa memiliki arti lebih dalam. Bagi Como, hasil ini bukan sekadar angka di papan skor, tetapi juga penghormatan bagi sosok yang telah membantu membangun fondasi klub menuju masa depan. Wafatnya Michael Bambang Hartono juga membuka tabir kekuatan bisnis yang ia bangun selama puluhan tahun.
Di balik sosoknya yang dikenal sederhana, tersimpan jaringan usaha bernilai ratusan triliun rupiah yang mengakar kuat di berbagai sektor strategis Indonesia. Kerajaan bisnis keluarga Hartono berawal dari PT Djarum, produsen rokok kretek yang berkembang menjadi salah satu pemain terbesar di Tanah Air.
Dari sektor inilah fondasi kekayaan dibangun—stabil, konsisten, dan mampu bertahan lintas generasi. Namun kekuatan Hartono tidak berhenti di industri tembakau. Justru dari sinilah ekspansi besar dimulai. Momentum krisis Asia 1997–1998 menjadi titik balik penting. Melalui akuisisi saham Bank Central Asia (BCA), keluarga Hartono masuk ke sektor keuangan dan menjadikannya sebagai mesin utama pertumbuhan kekayaan.
Hingga kini, BCA menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia dengan profitabilitas tinggi. Kepemilikan di sektor ini membuat kekayaan Hartono melonjak signifikan dan stabil di tengah dinamika ekonomi global. Tidak berhenti di sektor konvensional, Hartono juga membaca arah masa depan. Melalui Global Digital Niaga, mereka mengembangkan bisnis e-commerce lewat platform Blibli. Langkah ini diperkuat dengan aksi Initial Public Offering (IPO) pada 2022 yang berhasil menghimpun dana besar dan mempertegas posisi mereka di ekonomi digital.
Di sisi lain, jaringan bisnis juga merambah infrastruktur melalui Sarana Menara Nusantara (TOWR), yang mengelola ribuan menara telekomunikasi—aset vital di era konektivitas. Portofolio Hartono semakin luas dengan masuk ke sektor properti premium dan elektronik melalui merek Polytron. Bahkan, sejak 2025, Polytron mulai masuk ke industri kendaraan listrik—menandai adaptasi terhadap tren global energi bersih.