alexametrics
26.7 C
Jayapura
Friday, May 27, 2022

Ombak Tinggi, Stok BBM Terbatas Sebabkan Waktu Mencari Ikan Lebih Singkat

Para Nelayan yang Tetap Kerja Keras Mencari Ikan di Tengah Bulan Ramadan

Harga ikan di Jayapura belakangan ini memang cenderung naik. Selain karena pengaruh factor cuaca, banyak nelayan yang ternyata tetap berpuasa di tengah bulan Ramadan. Tentu tidak mudah bekerja dengan menggunakan tenaga fisik dengan kondisi sedang berpuasa. Namun itu tak jadi masalah, kendala utama di Ombak dan ketersediaan BBM Solar.

Laporan: Carolus Daot_Jayapura

Siang itu, matahari memang belum sampai di atas kepala,  namun cuaca pantai Hamadi memang sedang panas. Wajah-wajah lesu dan kurang tenaga terlihat di beberapa nelayan, bahkan ada yang berbaring di tempat teduh, setelah menurunkan ikan dari perahunya. Meski tak mengatakan berpuasa, namun dilihat dari kondisi itu, memang ada beberapa nelayan yang tetap menjalankan ibadah puasanya.

  Seorang pria, dengan kaos di kepala untuk menahan panas, terlihat di antara aktifitas nelayan di pangkalan ikan Hamadi. Pria asal Makasar, yang mengkau bernama Darlin ini, memang bukan satu-satunya nelayan yang tetap puasa di tengah melaksanakan pekerjaannya mencari ikan.

  Di tengah istirahat siangnya, Darlin mengaku memang sudah terbiasa dengan kehidupan di laut, sejak kecil di Makasar. Sebagai anak pantai, kehidupan laut, berenang di laut sudah biasa. Tak heran, saat merantau ke Jayapura 15 tahun lalu, pilihan hidupnya mengais rejeki di Papua, dengan bekerja sebagai pencari ikan.

   Awalnya hanya mengikuti orang dengan sistem kerja bagi hasil. Tak puas dengan itu, ia pun berupaya mandiri dengan terus berusaha, penuh semangat tak mengenal waktu untuk berlayar di lautan lepas. Suka duka sebagai nelayan sudah banyak dirasakan.

    Seiring berjalanya waktu, akhirnya dia mampu membeli perahu dengan ukuran cukup besar hasil dari cucuran keringatnya. Dia pun melanjutkan pekerjaan pokoknya berlayar menangkap ikan. Kehidupanya hampir 80 persen kehidupanya hanya di atas perahu. Kebahagian bersama istri dan anaknya bisa dihitung dengan jari namun hal itu dia lakukan demi mensejahtrakan keluarga kecilnya.

Baca Juga :  Dijemput Mobil Tentara, Disuruh Masak di Cendana

  Pada momen Ramadan ini, dia tetap berpuasa. Namun di satu sisi, juga tetap harus bekerja keras, supaya bisa memenuhi kebutuhan untuk lebaran nanti.  Hanya saja memang tidak mudah, kondisi laut saat ini cukup menguras tenaga karena cuaca laut yang bergelombang tinggi. Darlin pung mengaku karena kondisi arus yang sangat kencang dan dengan keadaan mesin perahu yang tidak besar dengan terpaksa ia lakukan hal yang cukup fatal dengan mematikan mesin perahu.

  Hal itu menurutnya bagian dari upaya agar mesin perahu tidak rusak. Cara yang dia lakukan itu pun memberikan dampak yang baik yang walaupun harus bertahan sampai kondisi laut kembali normal, namun baginya masih ada harapan untuk bisa kembali ke daratan dengan keadaan baik.  Rutinitas pekerjaan sebagai nelayan terus di jalani. Setiap malam dia berangkat mencari ikan setelah menyempatkan berbuka bersama keluarga. Semeentara saat saur, dilakukan di tengah laut.

  “Beginilah kehidupan saya, siangnya tidur malam hari bekerja. Dan saat ini karena harus berpuasa cukup terasa lelah dengan kondisi cuaca laut yang sangat bergelombang tinggi. Jadi karena kondisi cuaca yang sangat buruk hasil tangkapan pun sangat berkurang,” ungkap  Darlin kepada Cendrawasih pos, Selasa  (20/4).

   Dengan kondisi  cuaca yang tidak bersahabat ini, pergi ke laut nyari hanya sia-sia. Namun karena melihat permintaan ikan di bulan ramadan cukup tinggi dengan terpaksa dia tetap melaut. Jika dihitung hasil dari pada kerja kerasnya seakan tak terbayarkan karena tidak sesuai dengan ekspetasi.

   Menurut Darlin 200 ekor ikan setiap harinya tidak memberikan dampak lebih pada kebutuhan hidupnya. Sebab harusnya dengan kondisi perahu yang cukup besar jangkauan ruang geraknya  di laut lepas cukup leluasa. Namun karena kondisi yang tidak stabil ini terpaksa bisa berlayar di bibir laut. Diapun mengaku biasanya hasil tangkapanya bisa capai 40 ekor/ hari, tapi sejak awal bulan april hanya mampu pada batas tertentu.

Baca Juga :  Langsung Plong saat Mendengar Jokowi Bilang Enak

   “Ya mau bagai mana kondisi alam seperti ini bisa dibilang sangat rugi, karena kami ada tiga orang dari kedua anggota yang ada sistem pembagian upah pun tergantung banyaknya ikan yang ditangkap., namun tetap bersyukur masih bisa dapat ikan walaupun cuma sedikit”, tutur Darlin

  Darlin pun mengaku selain cuaca di laut yang sangat buruk  keterbatasan ketersedia Bahan Bakar Minyak (BBM) juga menjadi faktor utama kurangnya waktu untuk menangkap ikan. Bagaimana tidak, karena ketersediaan solar hanya sedikit menyebabkan waktunya untuk mencangkap ikan dipersingkat.

  “Susah sekali dapat solar bagaimana mau dapat ikan yang banyak kalau waktu kami berlayar cuma sedikit. Ini menjadi kendala utama juga”, bebernya.

  Semoga saja kondisi ini bisa kembali normal sebelum lebaran, karena kalau modelnya masih seperti ini akan kewalahan menadapatkan ikan pada bulan lebaran nanti”, lanjut Darlin

  Dari pantauan Cendrawasih pos terlihat begitu banyak perahu yang sedang bersandar di pangkalan ikan di Pasar Hamadi dan menurut Darlin sebagian besar perahu perahu tersebut tidak pernah berlayar sejak awal buln April. Hal ini disebabkan karena kondisi perahu yang ukuranya kecil sehingga tidak memungkinkan untuk berlayar di laut lepas karena gelombang laut yang cukup tinggi.

  “Memang kondisi cuaca saat ini tidak bisa hanya dengan perahu kecil. Perahu yang ukuran besarpun masih di perhitungkan keselamatanya. Hal ini juga faktor utama kurangnya pasokan ikan, karena kurangnya para nelayan untuk menangkap ikan.” tutur Darlin. (*/tri)

Para Nelayan yang Tetap Kerja Keras Mencari Ikan di Tengah Bulan Ramadan

Harga ikan di Jayapura belakangan ini memang cenderung naik. Selain karena pengaruh factor cuaca, banyak nelayan yang ternyata tetap berpuasa di tengah bulan Ramadan. Tentu tidak mudah bekerja dengan menggunakan tenaga fisik dengan kondisi sedang berpuasa. Namun itu tak jadi masalah, kendala utama di Ombak dan ketersediaan BBM Solar.

Laporan: Carolus Daot_Jayapura

Siang itu, matahari memang belum sampai di atas kepala,  namun cuaca pantai Hamadi memang sedang panas. Wajah-wajah lesu dan kurang tenaga terlihat di beberapa nelayan, bahkan ada yang berbaring di tempat teduh, setelah menurunkan ikan dari perahunya. Meski tak mengatakan berpuasa, namun dilihat dari kondisi itu, memang ada beberapa nelayan yang tetap menjalankan ibadah puasanya.

  Seorang pria, dengan kaos di kepala untuk menahan panas, terlihat di antara aktifitas nelayan di pangkalan ikan Hamadi. Pria asal Makasar, yang mengkau bernama Darlin ini, memang bukan satu-satunya nelayan yang tetap puasa di tengah melaksanakan pekerjaannya mencari ikan.

  Di tengah istirahat siangnya, Darlin mengaku memang sudah terbiasa dengan kehidupan di laut, sejak kecil di Makasar. Sebagai anak pantai, kehidupan laut, berenang di laut sudah biasa. Tak heran, saat merantau ke Jayapura 15 tahun lalu, pilihan hidupnya mengais rejeki di Papua, dengan bekerja sebagai pencari ikan.

   Awalnya hanya mengikuti orang dengan sistem kerja bagi hasil. Tak puas dengan itu, ia pun berupaya mandiri dengan terus berusaha, penuh semangat tak mengenal waktu untuk berlayar di lautan lepas. Suka duka sebagai nelayan sudah banyak dirasakan.

    Seiring berjalanya waktu, akhirnya dia mampu membeli perahu dengan ukuran cukup besar hasil dari cucuran keringatnya. Dia pun melanjutkan pekerjaan pokoknya berlayar menangkap ikan. Kehidupanya hampir 80 persen kehidupanya hanya di atas perahu. Kebahagian bersama istri dan anaknya bisa dihitung dengan jari namun hal itu dia lakukan demi mensejahtrakan keluarga kecilnya.

Baca Juga :  Ceritakan Pesan Tentang Dulu Budaya Berkuasa, Kini Teknologi yang Menguasai

  Pada momen Ramadan ini, dia tetap berpuasa. Namun di satu sisi, juga tetap harus bekerja keras, supaya bisa memenuhi kebutuhan untuk lebaran nanti.  Hanya saja memang tidak mudah, kondisi laut saat ini cukup menguras tenaga karena cuaca laut yang bergelombang tinggi. Darlin pung mengaku karena kondisi arus yang sangat kencang dan dengan keadaan mesin perahu yang tidak besar dengan terpaksa ia lakukan hal yang cukup fatal dengan mematikan mesin perahu.

  Hal itu menurutnya bagian dari upaya agar mesin perahu tidak rusak. Cara yang dia lakukan itu pun memberikan dampak yang baik yang walaupun harus bertahan sampai kondisi laut kembali normal, namun baginya masih ada harapan untuk bisa kembali ke daratan dengan keadaan baik.  Rutinitas pekerjaan sebagai nelayan terus di jalani. Setiap malam dia berangkat mencari ikan setelah menyempatkan berbuka bersama keluarga. Semeentara saat saur, dilakukan di tengah laut.

  “Beginilah kehidupan saya, siangnya tidur malam hari bekerja. Dan saat ini karena harus berpuasa cukup terasa lelah dengan kondisi cuaca laut yang sangat bergelombang tinggi. Jadi karena kondisi cuaca yang sangat buruk hasil tangkapan pun sangat berkurang,” ungkap  Darlin kepada Cendrawasih pos, Selasa  (20/4).

   Dengan kondisi  cuaca yang tidak bersahabat ini, pergi ke laut nyari hanya sia-sia. Namun karena melihat permintaan ikan di bulan ramadan cukup tinggi dengan terpaksa dia tetap melaut. Jika dihitung hasil dari pada kerja kerasnya seakan tak terbayarkan karena tidak sesuai dengan ekspetasi.

   Menurut Darlin 200 ekor ikan setiap harinya tidak memberikan dampak lebih pada kebutuhan hidupnya. Sebab harusnya dengan kondisi perahu yang cukup besar jangkauan ruang geraknya  di laut lepas cukup leluasa. Namun karena kondisi yang tidak stabil ini terpaksa bisa berlayar di bibir laut. Diapun mengaku biasanya hasil tangkapanya bisa capai 40 ekor/ hari, tapi sejak awal bulan april hanya mampu pada batas tertentu.

Baca Juga :  Bersyukur Bisa Umroh di Bulan Ramadan yang Pahalannya Dilipatgandakan

   “Ya mau bagai mana kondisi alam seperti ini bisa dibilang sangat rugi, karena kami ada tiga orang dari kedua anggota yang ada sistem pembagian upah pun tergantung banyaknya ikan yang ditangkap., namun tetap bersyukur masih bisa dapat ikan walaupun cuma sedikit”, tutur Darlin

  Darlin pun mengaku selain cuaca di laut yang sangat buruk  keterbatasan ketersedia Bahan Bakar Minyak (BBM) juga menjadi faktor utama kurangnya waktu untuk menangkap ikan. Bagaimana tidak, karena ketersediaan solar hanya sedikit menyebabkan waktunya untuk mencangkap ikan dipersingkat.

  “Susah sekali dapat solar bagaimana mau dapat ikan yang banyak kalau waktu kami berlayar cuma sedikit. Ini menjadi kendala utama juga”, bebernya.

  Semoga saja kondisi ini bisa kembali normal sebelum lebaran, karena kalau modelnya masih seperti ini akan kewalahan menadapatkan ikan pada bulan lebaran nanti”, lanjut Darlin

  Dari pantauan Cendrawasih pos terlihat begitu banyak perahu yang sedang bersandar di pangkalan ikan di Pasar Hamadi dan menurut Darlin sebagian besar perahu perahu tersebut tidak pernah berlayar sejak awal buln April. Hal ini disebabkan karena kondisi perahu yang ukuranya kecil sehingga tidak memungkinkan untuk berlayar di laut lepas karena gelombang laut yang cukup tinggi.

  “Memang kondisi cuaca saat ini tidak bisa hanya dengan perahu kecil. Perahu yang ukuran besarpun masih di perhitungkan keselamatanya. Hal ini juga faktor utama kurangnya pasokan ikan, karena kurangnya para nelayan untuk menangkap ikan.” tutur Darlin. (*/tri)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

/