Wednesday, March 25, 2026
27.4 C
Jayapura

Sempat Dikirim ke Roma, Bertahan Tiga Generasi Karena Menjaga Tradisi

“Roti ini sudah ada sejak zaman Belanda di Papua,” tutur Yosefina dengan senyum lembut saat ditemui wartawan Cenderawasih Pos, Rabu (22/10).

“Saya belajar dari mertua saya, Bapak Mayor. Beliau yang pertama kali buat, dan berpesan agar resep ini dijaga turun-temurun,”akunya. Diceritakan, Roti Mayor memiliki cita rasa yang khas yakni manisnya pas, gurihnya lembut, dan aromanya menggoda.

Semua itu berkat cara pembuatannya yang masih dipertahankan secara tradisional. Adonannya dipanggang dengan oven buatan tangan dari seng, dan kayu bakar menjadi sumber panas utama. Cetakan logam yang digunakan pun merupakan warisan dari masa Belanda, yang hingga kini masih awet dipakai. Menurutnya, membuat roti mayor tidaklah mudah.

Baca Juga :  Tiga Hari Menghilang, Tapasya Belum Ditemukan

Dibutuhkan ketulusan, keikhlasan, dan perasaan bahagia agar hasilnya benar-benar maksimal. Prosesnya memakan waktu hingga tujuh jam, dimulai dari mengayak tepung terigu agar halus tanpa gumpalan, mencampur adonan dengan takaran yang tepat, hingga memastikan keseimbangan rasa dan tekstur.

Setelah adonan selesai, adonan harus ditutup dan didiamkan selama beberapa jam agar fermipan atau pengembang roti bekerja sempurna. Tahap berikutnya adalah memanggang. Sebelum itu, ia menyiapkan kayu bakar dan oven tradisional. Setiap kali pemanggangan, lima blok adonan dimasukkan sekaligus dan dipanggang selama kurang lebih 15 menit, dengan api yang dijaga agar roti tidak gosong.

Kalau mau hasilnya bagus, harus sabar, harus teliti dan ikhlas. Kalau buat roti sambil marah atau terburu-buru, tidak akan jadi.

Baca Juga :  Pilih Pulang Kembali, Karena Tidak Dapat Perhatian, Akses Pendidikan pun Sulit

“Saya mulai bikin roti ini tahun 1962. Dulu saya jual Rp 2.000 perkotak, sekarang Rp 30 ribu. Tapi rasanya tetap sama seperti dulu.”ceritanya. Setiap kali memanggang, Yosefina menyiapkan kayu bakar dari sisa-sisa proyek bangunan. “Kalau tidak ada kayu, kami beli. Api harus dijaga terus supaya tidak gosong. Sekali panggang lima balok, 15 menit baru matang,” jelasnya.

“Roti ini sudah ada sejak zaman Belanda di Papua,” tutur Yosefina dengan senyum lembut saat ditemui wartawan Cenderawasih Pos, Rabu (22/10).

“Saya belajar dari mertua saya, Bapak Mayor. Beliau yang pertama kali buat, dan berpesan agar resep ini dijaga turun-temurun,”akunya. Diceritakan, Roti Mayor memiliki cita rasa yang khas yakni manisnya pas, gurihnya lembut, dan aromanya menggoda.

Semua itu berkat cara pembuatannya yang masih dipertahankan secara tradisional. Adonannya dipanggang dengan oven buatan tangan dari seng, dan kayu bakar menjadi sumber panas utama. Cetakan logam yang digunakan pun merupakan warisan dari masa Belanda, yang hingga kini masih awet dipakai. Menurutnya, membuat roti mayor tidaklah mudah.

Baca Juga :  Damkar Belum Miliki Sarpras Pemadam Khusus Wilayah Laut dan Pesisir

Dibutuhkan ketulusan, keikhlasan, dan perasaan bahagia agar hasilnya benar-benar maksimal. Prosesnya memakan waktu hingga tujuh jam, dimulai dari mengayak tepung terigu agar halus tanpa gumpalan, mencampur adonan dengan takaran yang tepat, hingga memastikan keseimbangan rasa dan tekstur.

Setelah adonan selesai, adonan harus ditutup dan didiamkan selama beberapa jam agar fermipan atau pengembang roti bekerja sempurna. Tahap berikutnya adalah memanggang. Sebelum itu, ia menyiapkan kayu bakar dan oven tradisional. Setiap kali pemanggangan, lima blok adonan dimasukkan sekaligus dan dipanggang selama kurang lebih 15 menit, dengan api yang dijaga agar roti tidak gosong.

Kalau mau hasilnya bagus, harus sabar, harus teliti dan ikhlas. Kalau buat roti sambil marah atau terburu-buru, tidak akan jadi.

Baca Juga :  Hiasan Gerabah dari Situs Gunung Srobu Jadi Inspirasi Motif Batik Papua

“Saya mulai bikin roti ini tahun 1962. Dulu saya jual Rp 2.000 perkotak, sekarang Rp 30 ribu. Tapi rasanya tetap sama seperti dulu.”ceritanya. Setiap kali memanggang, Yosefina menyiapkan kayu bakar dari sisa-sisa proyek bangunan. “Kalau tidak ada kayu, kami beli. Api harus dijaga terus supaya tidak gosong. Sekali panggang lima balok, 15 menit baru matang,” jelasnya.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya