Monday, February 23, 2026
25.2 C
Jayapura

Buka Hanya 4 Jam Sehari, Harus Bertahan Meski Pengunjung Sepi

Mengintip Aktivitas Lokalisasi Yobar di Bulan Suci Ramadan

Bulan Suci Ramadan bagi umat muslim merupakan bulan yang penuh berkah. Dimana setiap umat Muslim melaksanakan puasa dan berlomba-lomba memperbanyak amal. Bagaimana dengan Umat Muslim yang tinggal di Lokalisasi Yobar?

Laporan: Yulius Sulo_ Merauke.

Pagi itu, Jumat (20/2), Cenderawasih Pos memasuki gerbang lokalisasi Yobar yang berada di RT 19 Kelurahan Samkai, Merauke. Lokasi ini menjadi tempat transaksi seks antara pria hidung belang dan wanita pekerja seks komersil. Lokasi ini sudah beroperasi bertahun-tahun dan masih berjalan hingga kini. Meski jam tangan menunjukan pukul 09.30 WIT, namun suasana di dalam kompleks Lokalisasi yang berhadap-hadapan tersebut terlihat sepi.

Hanya ada beberapa dari penghuni kompleks yang keluar duduk santai di teras wisma mereka sambil menikmati kopi campur susu dingin. Sekali-kali sebatang rokok filter yang ada di tangannya dimasukan ke mulut sambil menghirup dan mengeluarkan asap pekat. Jika dulu sebelum covid 19 pengunjung dalam sehari bisa 5 higga 6 orang dimana untuk 1 pengunjung dibebankan biaya Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu.

Baca Juga :  “Kalau Tidak Kasih Bantuan, Kasih Kerja Supaya Bisa Hidup Sejahtera”

Tapi ini jika usia si wanita sudah di atas 30 tahun. Jika masih di bawah 30 tahun biayanya lebih mahal. Minimal Rp 500 ribu. Lucunya lagi bila yang datang dalam keadaan mabuk maka dibuat kesepakatan hanya boleh berhubungan selama 30 menit. Apakah sudah selesai atau belum si pria harus tetap keluar ruangan.

Cindy, salah satu penghuni dari Wisma tersebut mengaku jika pengunjung yang datang ke tempat tersebut lagi sepi. Lokasisasi Yobar sendiri kini mempekerjakan sekitar 50 wanita pekerja seks yang berasal dari berbagai daerah.

‘’Cukup sepi mas. Tidak hanya roda ekonomi yang lagi sepi sekarang ini tapi kami juga merasakan. Karena pengunjung yang datang ke tempat ini semakin sedikit,’’ kata Cindy, wanita patuh baya saat ditemui siang kemarin.

Baca Juga :  Harga Pembelian Bulog Naik Jadi Rp 12.000 Perkilo

Apalagi lanjutnya Cindy, aktivitas di bulan Ramadan kali ini dibatasi hanya 4 jam saja dari pukul 21.00-01.00 WIT dinihari. Sehingga mau tidak mau aturan ini patut diikuti dan semakin menyulitkan penghuni untuk mendapatkan pelanggan hidung belang.

‘’Kalau jamannya pak Romanus (bupati sebelumnya,red), untuk siang hari masih bisa buka. Tapi kalau sekarang hanya di malam hari selama 4 jam itu,’’ katanya.

Namun begitu, Cindy mengaku jika ada tamu yang datang di siang hari dirinya tetap terima. ‘

’Mau bagaimana lagi, hidup ini juga tetap harus berjalan,’’ katanya memberi alasan.

Soal puasa, Cindy dan teman lainnya mengaku bahwa meski berada di tempat tersebut, namun ada juga yang menjalankan ibadah puasa.

Mengintip Aktivitas Lokalisasi Yobar di Bulan Suci Ramadan

Bulan Suci Ramadan bagi umat muslim merupakan bulan yang penuh berkah. Dimana setiap umat Muslim melaksanakan puasa dan berlomba-lomba memperbanyak amal. Bagaimana dengan Umat Muslim yang tinggal di Lokalisasi Yobar?

Laporan: Yulius Sulo_ Merauke.

Pagi itu, Jumat (20/2), Cenderawasih Pos memasuki gerbang lokalisasi Yobar yang berada di RT 19 Kelurahan Samkai, Merauke. Lokasi ini menjadi tempat transaksi seks antara pria hidung belang dan wanita pekerja seks komersil. Lokasi ini sudah beroperasi bertahun-tahun dan masih berjalan hingga kini. Meski jam tangan menunjukan pukul 09.30 WIT, namun suasana di dalam kompleks Lokalisasi yang berhadap-hadapan tersebut terlihat sepi.

Hanya ada beberapa dari penghuni kompleks yang keluar duduk santai di teras wisma mereka sambil menikmati kopi campur susu dingin. Sekali-kali sebatang rokok filter yang ada di tangannya dimasukan ke mulut sambil menghirup dan mengeluarkan asap pekat. Jika dulu sebelum covid 19 pengunjung dalam sehari bisa 5 higga 6 orang dimana untuk 1 pengunjung dibebankan biaya Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu.

Baca Juga :  Peminat Pakaian Cabor Masih Tinggi, Tak Hanya Dijual di Pasar Tapi Juga Online

Tapi ini jika usia si wanita sudah di atas 30 tahun. Jika masih di bawah 30 tahun biayanya lebih mahal. Minimal Rp 500 ribu. Lucunya lagi bila yang datang dalam keadaan mabuk maka dibuat kesepakatan hanya boleh berhubungan selama 30 menit. Apakah sudah selesai atau belum si pria harus tetap keluar ruangan.

Cindy, salah satu penghuni dari Wisma tersebut mengaku jika pengunjung yang datang ke tempat tersebut lagi sepi. Lokasisasi Yobar sendiri kini mempekerjakan sekitar 50 wanita pekerja seks yang berasal dari berbagai daerah.

‘’Cukup sepi mas. Tidak hanya roda ekonomi yang lagi sepi sekarang ini tapi kami juga merasakan. Karena pengunjung yang datang ke tempat ini semakin sedikit,’’ kata Cindy, wanita patuh baya saat ditemui siang kemarin.

Baca Juga :  Pertumbuhan Ekonomi di Merauke Diyakini Akan Tumbuh Pesat

Apalagi lanjutnya Cindy, aktivitas di bulan Ramadan kali ini dibatasi hanya 4 jam saja dari pukul 21.00-01.00 WIT dinihari. Sehingga mau tidak mau aturan ini patut diikuti dan semakin menyulitkan penghuni untuk mendapatkan pelanggan hidung belang.

‘’Kalau jamannya pak Romanus (bupati sebelumnya,red), untuk siang hari masih bisa buka. Tapi kalau sekarang hanya di malam hari selama 4 jam itu,’’ katanya.

Namun begitu, Cindy mengaku jika ada tamu yang datang di siang hari dirinya tetap terima. ‘

’Mau bagaimana lagi, hidup ini juga tetap harus berjalan,’’ katanya memberi alasan.

Soal puasa, Cindy dan teman lainnya mengaku bahwa meski berada di tempat tersebut, namun ada juga yang menjalankan ibadah puasa.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya