Wednesday, May 29, 2024
28.7 C
Jayapura

Kekurangan Guru Mata Pelajaran Umum, Masih Butuh Dukungan Sarpras

Melihat Perkembangan Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura

Di  dalam lingkungan  Gereja Katolik mengenal dua macam jenis Sekolah Katholik, yaitu Sekolah Menegah Atas (SMA) Katholik, dan Sekolah Menegah Agama Katholik (SMAK). Salah satu SMAK  ini adalah Seminari Menengah Santo Fransiskus Asisi di Waena.  Seperti apa pembinaan di Sekolah Menengah Agama Katholik ini?

Laporan_Carolus Daot_Jayapura.

Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) St. Fransiskus Asisi ini terletak di SPG Jl. Teruna Bhakti, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Tepatnya di samping SMA YPPK Teruna Bakti Waena.

   Menurut Rektor Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura, Pastor John Klau, Pr,  Seminari St Fransiskus Asisi Jayapura sudah berdiri sejak tahun 2002 silam, namun secara sah diterbitkan SK pendirian pada tahun 2022 lalu.

  Dalam kurun waktu yang ada, dahulunya siswa yang mengenyam pendidikan di Seminari St Fransiskus Asisi Jayapura ini, belajar menggunakan ruang kelas di SMA Teruna Bhakti Waena, namun mulai tahun 2016, sekolah ini berdiri sendiri sebagai bagian dari kesatuan pendidikan menegah Agama Katholik di Keuskupan Jayapura di bawah naungan Kementerian Agama.

   Sejak awal berdirinya sekolah tersebut, animo masyarakat untuk menyekolahkan anak anaknya ke Seminari masih mengalami pasang surut. Terutama pada saat masa pandemi Covid 19.

  “Kadang kala anak-anak ini awalnya pulang libur ke kampung, tapi pas pulang tidak bisa kembali lantaran belum vaksin. Dengan alasan itu kemudian akhirnya tidak lanjut, inilah yang membuat jumlah siswa disini (Seminari) mengalami penurunan,” ujar Pastor Jhon Klau, Pr kepada wartawan pada Kamis (16/2) lalu.

  Siswa di sekolah ini memang didominasi  orang Asli Papua, sekitar 60 persen. “Terutama yang dari daerah jumlahnya lebih banyak ketimbang yang ada di kota Jayapura,” kata Pastor John.

  Sejak berdiri sampai saat ini sudah ada banyak imam maupun misionaris yang bertugas di Papua maupun di luar Papua, bahkan bukan hanya imam, tapi juga para tokoh yang dahulunya mengenyam pendidikan di Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura.

Baca Juga :  Tinggal Pilih Paket Tour, Fasilitas dan Pelayanan Dijamin Memuaskan 

  “Pada dasarnya memang Seminari ini merupakan tempat untuk membina calon-calon imam, namun kembali lagi kita disini tidak pernah memaksakan kehendak para siswa untuk harus jadi imam, tetapi tugas kami disni adalah membina karakter mereka untuk menjadi imam,” tutur Pastor. John.

  Sementara itu Kepala Sekolah Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura, Damianus Kumanireng, mengatakan perbedaan antara SMA Katholik dengan Seminari adalah bentuk pembinaan. Pembinaan di SMA Katholik hanya ada satu pembelajaran tentang agama Katholik. Sementara di Seminari ada 5 matapelajaran agama Katholik yaitu, mata pelajaran Kitab Suci, Dogma, Liturgi, Sejarah Gereja dan Pastoral Katekese.

  “Ke 5 (Lima) mata pelajaran ini akan memperkaya siswa, tapi kalau di SMA Katholik pada umumnya hanya ada mata pelajaran agama katholik (PAK),” ujarnya.

  Pendidikan di Seminari ditempuh selama 4 tahun, satu tahun pendidikan literasi,

Ini setelah tamat SMP para siswa harus mengikuti pembinaan yang disebut kelas persiapan bawah (KPB) selama 1 tahun, sebelum masuk jenjang seminari secara Formal.

   Kurikumum di Seminari sebanyak 44 SKS. Untuk mengatasi beban SKS yang jumlahnya tidak sedikit, maka diterapkannya pendidikan berbasis Asrama. Tujuannya agar para siswa bisa belajar selain jam pelajaran formal tetapi juga di luar itu. Seperti pagi hari maupun sore bahkan malam hari.

  “Inilah konsekuensi dari Sekolah Seminari yang memiliki muatan bobot kurikulum lebih, siswa dituntut harus tinggal di Asrama yang ada di Lingkungan Seminari,” kata Damianus.

  Selain pendidikan berbasis asrama kekhasan lain pada Seminari adalah siswa  hanya laki laki, hal itu merupakan bagian dari visi dan misi Sekolah Menengah Agama Katholik, yakni  membina calon calon imam.

  Namun diakuinya bahwa hal tersebut tidak menutup kemungkinan setiap anak yang tergabung di dalam seminari memiliki keraguan untuk menjadi seorang imam. Maka tidak dipaksakan untuk menjadi imam.

Baca Juga :  Banyak Fasilitas yang Mulai Rusak,  Pengelolaan Harus Optimal

  “Intinya semua tergantung siswa, kalau mereka mau lanjut ke Sekolah Seminari tinggi silahkan, tidak juga kami tidak menyesal,” kata Damianus.

  Diakui saat ini, animo masyarakat menyekolahkan anak anaknya di Seminari  masih sangat rendah. Disampaikannya bahwa rendahnya daya minat siswa masuk di Seminari, pertama karena promosi sekolah yang masih terbatas, sehingga berefek pada pengetahuan orang tua katholik tentang Seminari.

  Kendala lain kata dia karena faktor perkembangan kebebasan, dimana para siswa tidak mampu membiasakan hidup yang penuh dengan aturan. Sebab salah satu aturan wajib di Seminari adalah, tidak diperkenankan siswa menggunakan handphone. Hal ini juga menjadi kendala utama rendahnya animo siswa masuk di Seminari.

  “Ini juga jadi kendala, rendahnya siswa masuk di seminari, karena mereka masih mau hidup bebas, tanpa dibebani aturan, padahal disini kita sediakan laptop, untuk menunjang belajar siswa,” tuturnya.

   Untuk biaya sekolah seminari per bulan Rp 150 ribu, sedangkan biaya hidup di Asrama per bulan Rp. 750 ribu. Disampaikannya juga bahwa yang menjadi kendala rendahnya jumlah siswa di Seminari karena faktor ekonomi orang tua. Sebab ada banyak siswa yang ingin masuk di seminari, tapi sayang ekonomi orang tua terbatas.

  “Kami berharap agar umat Katholik mendorong agar kendala yang ada ini bisa kita atasi, sebab Gereja Katholik masih membutuhkan banyak imam,” harap Damianus.

  Sementara untuk fasilitas di Seminari sendiri, masih banyak membutuhkan dukungan fasilitas, baik sarana belajar maupun fasikitas pendukung ainnya untuk menunjang pembelajaran siswa.

  “Ada banyak hal yang masih kami butuhkan selain fasilitas juga guru pengajar, kiranya ada dosen atau guru kathlolik yang mau merelakan waktunya mengajar di Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura. Sebab saat ini jumlah guru di Seminari ini hanya ada 19 orang. Oleh sebab itu kami harap adanya dukungan semua pihak,” pungkasnya. (*/tri)

Melihat Perkembangan Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura

Di  dalam lingkungan  Gereja Katolik mengenal dua macam jenis Sekolah Katholik, yaitu Sekolah Menegah Atas (SMA) Katholik, dan Sekolah Menegah Agama Katholik (SMAK). Salah satu SMAK  ini adalah Seminari Menengah Santo Fransiskus Asisi di Waena.  Seperti apa pembinaan di Sekolah Menengah Agama Katholik ini?

Laporan_Carolus Daot_Jayapura.

Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) St. Fransiskus Asisi ini terletak di SPG Jl. Teruna Bhakti, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Tepatnya di samping SMA YPPK Teruna Bakti Waena.

   Menurut Rektor Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura, Pastor John Klau, Pr,  Seminari St Fransiskus Asisi Jayapura sudah berdiri sejak tahun 2002 silam, namun secara sah diterbitkan SK pendirian pada tahun 2022 lalu.

  Dalam kurun waktu yang ada, dahulunya siswa yang mengenyam pendidikan di Seminari St Fransiskus Asisi Jayapura ini, belajar menggunakan ruang kelas di SMA Teruna Bhakti Waena, namun mulai tahun 2016, sekolah ini berdiri sendiri sebagai bagian dari kesatuan pendidikan menegah Agama Katholik di Keuskupan Jayapura di bawah naungan Kementerian Agama.

   Sejak awal berdirinya sekolah tersebut, animo masyarakat untuk menyekolahkan anak anaknya ke Seminari masih mengalami pasang surut. Terutama pada saat masa pandemi Covid 19.

  “Kadang kala anak-anak ini awalnya pulang libur ke kampung, tapi pas pulang tidak bisa kembali lantaran belum vaksin. Dengan alasan itu kemudian akhirnya tidak lanjut, inilah yang membuat jumlah siswa disini (Seminari) mengalami penurunan,” ujar Pastor Jhon Klau, Pr kepada wartawan pada Kamis (16/2) lalu.

  Siswa di sekolah ini memang didominasi  orang Asli Papua, sekitar 60 persen. “Terutama yang dari daerah jumlahnya lebih banyak ketimbang yang ada di kota Jayapura,” kata Pastor John.

  Sejak berdiri sampai saat ini sudah ada banyak imam maupun misionaris yang bertugas di Papua maupun di luar Papua, bahkan bukan hanya imam, tapi juga para tokoh yang dahulunya mengenyam pendidikan di Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura.

Baca Juga :  Di Tolikara, UNBK Masih Terkendala Jaringan Internet dan Komputer

  “Pada dasarnya memang Seminari ini merupakan tempat untuk membina calon-calon imam, namun kembali lagi kita disini tidak pernah memaksakan kehendak para siswa untuk harus jadi imam, tetapi tugas kami disni adalah membina karakter mereka untuk menjadi imam,” tutur Pastor. John.

  Sementara itu Kepala Sekolah Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura, Damianus Kumanireng, mengatakan perbedaan antara SMA Katholik dengan Seminari adalah bentuk pembinaan. Pembinaan di SMA Katholik hanya ada satu pembelajaran tentang agama Katholik. Sementara di Seminari ada 5 matapelajaran agama Katholik yaitu, mata pelajaran Kitab Suci, Dogma, Liturgi, Sejarah Gereja dan Pastoral Katekese.

  “Ke 5 (Lima) mata pelajaran ini akan memperkaya siswa, tapi kalau di SMA Katholik pada umumnya hanya ada mata pelajaran agama katholik (PAK),” ujarnya.

  Pendidikan di Seminari ditempuh selama 4 tahun, satu tahun pendidikan literasi,

Ini setelah tamat SMP para siswa harus mengikuti pembinaan yang disebut kelas persiapan bawah (KPB) selama 1 tahun, sebelum masuk jenjang seminari secara Formal.

   Kurikumum di Seminari sebanyak 44 SKS. Untuk mengatasi beban SKS yang jumlahnya tidak sedikit, maka diterapkannya pendidikan berbasis Asrama. Tujuannya agar para siswa bisa belajar selain jam pelajaran formal tetapi juga di luar itu. Seperti pagi hari maupun sore bahkan malam hari.

  “Inilah konsekuensi dari Sekolah Seminari yang memiliki muatan bobot kurikulum lebih, siswa dituntut harus tinggal di Asrama yang ada di Lingkungan Seminari,” kata Damianus.

  Selain pendidikan berbasis asrama kekhasan lain pada Seminari adalah siswa  hanya laki laki, hal itu merupakan bagian dari visi dan misi Sekolah Menengah Agama Katholik, yakni  membina calon calon imam.

  Namun diakuinya bahwa hal tersebut tidak menutup kemungkinan setiap anak yang tergabung di dalam seminari memiliki keraguan untuk menjadi seorang imam. Maka tidak dipaksakan untuk menjadi imam.

Baca Juga :  Tergerak oleh Lunturnya Kepedulian di Keseharian Orang Banyak

  “Intinya semua tergantung siswa, kalau mereka mau lanjut ke Sekolah Seminari tinggi silahkan, tidak juga kami tidak menyesal,” kata Damianus.

  Diakui saat ini, animo masyarakat menyekolahkan anak anaknya di Seminari  masih sangat rendah. Disampaikannya bahwa rendahnya daya minat siswa masuk di Seminari, pertama karena promosi sekolah yang masih terbatas, sehingga berefek pada pengetahuan orang tua katholik tentang Seminari.

  Kendala lain kata dia karena faktor perkembangan kebebasan, dimana para siswa tidak mampu membiasakan hidup yang penuh dengan aturan. Sebab salah satu aturan wajib di Seminari adalah, tidak diperkenankan siswa menggunakan handphone. Hal ini juga menjadi kendala utama rendahnya animo siswa masuk di Seminari.

  “Ini juga jadi kendala, rendahnya siswa masuk di seminari, karena mereka masih mau hidup bebas, tanpa dibebani aturan, padahal disini kita sediakan laptop, untuk menunjang belajar siswa,” tuturnya.

   Untuk biaya sekolah seminari per bulan Rp 150 ribu, sedangkan biaya hidup di Asrama per bulan Rp. 750 ribu. Disampaikannya juga bahwa yang menjadi kendala rendahnya jumlah siswa di Seminari karena faktor ekonomi orang tua. Sebab ada banyak siswa yang ingin masuk di seminari, tapi sayang ekonomi orang tua terbatas.

  “Kami berharap agar umat Katholik mendorong agar kendala yang ada ini bisa kita atasi, sebab Gereja Katholik masih membutuhkan banyak imam,” harap Damianus.

  Sementara untuk fasilitas di Seminari sendiri, masih banyak membutuhkan dukungan fasilitas, baik sarana belajar maupun fasikitas pendukung ainnya untuk menunjang pembelajaran siswa.

  “Ada banyak hal yang masih kami butuhkan selain fasilitas juga guru pengajar, kiranya ada dosen atau guru kathlolik yang mau merelakan waktunya mengajar di Seminari St. Fransiskus Asisi Jayapura. Sebab saat ini jumlah guru di Seminari ini hanya ada 19 orang. Oleh sebab itu kami harap adanya dukungan semua pihak,” pungkasnya. (*/tri)

Berita Terbaru

Artikel Lainnya