Ketiganya kemudian membagi pekerjaan. Jeskhiel dan Juan fokus pada pengembangan aplikasi, sementara Dhafin menangani pemasukan data dan desain kartu. Juan bertugas menginput data siswa serta nomor orang tua ke dalam sistem.
“Saya menginput data siswa, nomor orang tua ke dalam aplikasi,” kata Juan.
“Sudah dibagi tugas masing-masing, jadi kita melakukan sesuai dengan yang sudah ditugaskan,” sambung Juan.
Ketiga pelajar ini mengaku ada rasa berbeda ketika sebuah karya yang dibuat sendiri mulai dinikmati orang lain. Bagi Juan, kebahagiaan itu muncul ketika hasil kerja mereka tidak berhenti menjadi proyek di komputer.
Dhafin merasakan hal serupa. Baginya, apresiasi sekolah membuat kerja keras mereka terasa terbayar. “Bahagia, usaha kita tidak sia-sia. Sekolah juga mengapresiasi kami dan kita menghasilkan sesuatu juga dari aplikasi itu, jadi cukup memuaskan bagi kami,” ujarnya.
Jeskhiel pun mengaku senang karena sekolah memberikan dukungan terhadap karya mereka. Dukungan tersebut menjadi penting bagi tiga siswa yang belajar sebagian besar secara mandiri. Mereka menemukan pengetahuan dari internet, pengalaman, serta orang-orang di sekitar yang memiliki kemampuan di bidang teknologi.
Di balik semua itu, ketiganya memiliki mimpi masing-masing. Juan berencana mengikuti seleksi sekolah kedinasan, termasuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Dhafin tertarik melanjutkan pendidikan di bidang Arsitektur atau Pertanian. Sementara Jeskhiel juga menargetkan melanjutkan pendidikan di bidang akuntansi dan mengincar STAN. (*/tri)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q