Keberhasilan itu menjadikan Hutan Organik Megamendung sebagai laboratorium alam bagi pelajar dan peneliti. Banyak sekolah datang untuk belajar tentang keanekaragaman hayati dan konservasi lingkungan.Rosita pun membuka pintu selebar-lebarnya. “Silakan datang ke sini, belajar menanam, semua gratis. Hanya kalau makan, ya bayar seikhlasnya untuk biaya perawatan pohon,” selorohnya ketika ditemui Oktober tahun lalu.
Meski bukan akademisi, Rosita memiliki pengetahuan luas tentang alam. Ia belajar langsung dari pengalaman dan interaksi dengan tanah. Ia mampu menyebutkan nama ilmiah dan asal setiap pohon yang tumbuh di hutannya.Kepada pemerintah, Rosita hanya berharap agar keberadaan hutan tersebut dijaga. Ia menilai, program tanam pohon sering kali gagal karena tidak diikuti pemeliharaan jangka panjang.
“Seribu bibit pun percuma kalau cuma ditanam lalu ditinggalkan,” ujarnya.
Ia telah membuktikan sendiri semua yang ia sarankan. Kini, di bawah rindangnya Hutan Organik Megamendung, cita-cita sang suami, Bambang Istiawan, telah terwujud sepenuhnya.Di antara suara burung dan embusan angin, Rosita berdiri bangga melihat kehidupan yang tumbuh dari tangannya. “Inilah hutan mini di Bogor, warisan hijau untuk anak cucu kita,” katanya. (*/cr1/d/ttg/jpg)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Keberhasilan itu menjadikan Hutan Organik Megamendung sebagai laboratorium alam bagi pelajar dan peneliti. Banyak sekolah datang untuk belajar tentang keanekaragaman hayati dan konservasi lingkungan.Rosita pun membuka pintu selebar-lebarnya. “Silakan datang ke sini, belajar menanam, semua gratis. Hanya kalau makan, ya bayar seikhlasnya untuk biaya perawatan pohon,” selorohnya ketika ditemui Oktober tahun lalu.
Meski bukan akademisi, Rosita memiliki pengetahuan luas tentang alam. Ia belajar langsung dari pengalaman dan interaksi dengan tanah. Ia mampu menyebutkan nama ilmiah dan asal setiap pohon yang tumbuh di hutannya.Kepada pemerintah, Rosita hanya berharap agar keberadaan hutan tersebut dijaga. Ia menilai, program tanam pohon sering kali gagal karena tidak diikuti pemeliharaan jangka panjang.
“Seribu bibit pun percuma kalau cuma ditanam lalu ditinggalkan,” ujarnya.
Ia telah membuktikan sendiri semua yang ia sarankan. Kini, di bawah rindangnya Hutan Organik Megamendung, cita-cita sang suami, Bambang Istiawan, telah terwujud sepenuhnya.Di antara suara burung dan embusan angin, Rosita berdiri bangga melihat kehidupan yang tumbuh dari tangannya. “Inilah hutan mini di Bogor, warisan hijau untuk anak cucu kita,” katanya. (*/cr1/d/ttg/jpg)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos